Pengembangan Infrastruktur Digital Bagi Agromaritim Indonesia

Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS) IPB University kembali menggelar Strategic Talks ke-31 yang berjudul “Pengembangan Infrastruktur Digital yang Inklusif bagi Pengembangan Agromaritim Indonesia”. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari kerja sama IPB University dengan Microsoft Indonesia yang sebelumnya telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada Februari 2021 lalu.

“Kerja sama IPB dengan Microsoft salah satunya bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan sebagai upaya mencapai Agromaritim yang inklusif dan mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi pascapandemi Covid-19,” ujar Ajar Edi,  Direktur Corporate Affairs Microsoft Indonesia, pada acara pembukaan The 31st IPB Strategic Talk yang dilangsungkan secara daring menggunakan platform Microsoft Teams (18/10/2021).

Hadir sebagai pembicara dalam Strategic Talks ke-31 ini di antaranya Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan RI, Guru Besar Teknologi Industri Pertanian IPB, serta Direktur Microfinance Innovation Centre for Resources & Alternatives (MICRA) Indonesia.

Dalam paparannya, Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan RI, Agung Prabowo menjelaskan bahwa transformasi pertanian digital membutuhkan kerangka regulasi yang komprehensif, dari hulu ke hilir. Ia menekankan pentingnya membangun networks (mengoptimalkan jaringan Palapa Ring), meningkatkan kapasitas satelit, membangun pusat data nasional khusus bidang pertanian, penambahan base transceiver (BTS), mengembangkan layanan server yang murah, penyediaan akses internet yang murah dan tersedianya skema pendanaan.

“Penyediaan server dan akses internet yang murah dan terjangkau akan sangat membantu mengakselerasi transfromasi digital di bidang agromaritim,” kata Agung.

Narasumber lainnya, Prof. Yandra Arkeman, Guru Besar Teknologi Industri Pertanian IPB, mengatakan agar transformasi digital dapat dilaksanakan dengan sukses maka perlu dilakukan pendekatan yang bersifat selektif dan bertahap. Artinya, proses digitalisasi tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, namun harus dimulai dari yang paling sederhana, kemudian yang menggunakan teknologi digital standar, baru selanjutnya menggunakan teknologi digital maju disesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur yang ada di masing-masing wilayah.

“Jadi derajat digitalisasi yang akan diterapkan sangat tergantung pada kesiapan infrastruktur digital serta penguasaan teknologi dan kemampuan sumberdaya keuangan UMKM pangan dan AgroMaritim,” ujar Yandra.

Yandra menambahkan transformasi digital memerlukan perubahan pola pikir dan pengetahuan dari seluruh pemangku kepentingan. Dengan pengetahuan yang baik kita dapat melakukan inovasi digital Agromaritim serta untuk kepentingan nasional lainnya. “Dengan demikian, harapannya kita bisa menjadi produsen teknologi digital bukan menjadi pasar yang hanya bisa membeli teknologi dari negara lain,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur MICRA Indonesia (Microfinance Innovation Centre for Resources & Alternatives), Alfi Syahrin, mengungkapkan adanya peluang yang sangat besar untuk mengembangkan platform digital agromaritim, terutama dengan menggunakan strategi blockchain.

Blockchain strategy ini nantinya akan dibuat agar bisa diakses dengan/tanpa smartphone dan disediakan pada satu platform khusus agar lebih memudahkan dan inklusif. Selain itu, fiturnya tidak hanya untuk kredit tetapi juga asuransi dan sebagainya. “Dengan digitalisasi keuangan di sektor agromaritim, petani tidak perlu kesulitan lagi dalam mencari pendanaan,” ungkap Alfi.

Dede Suryadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)