Rencana Bisnis Delos Pasca Diguyur Dana Rp 114 Miliar

Tambak udang yang ditata oleh Delos. (Ilustrasi foto : Delos)

Delos mengantongi pendanaan tahap awal (seed extension round)senilai US$ 8 juta atau Rp 114 miliar. Perusahaan startup teknologi akuakultur ini memperoleh dana segar dari  sejumlah perusahaan ventura dan investor.  Centauri Fund, perusahaan permodalan ventura kerja sama MDI Ventures dan KB Investment Co., Ltd. dan Alpha JWC Ventures, memimpin putaran pendanaan tahap awal ini ke Delos. Pendanaan ini juga diikuti beberapa investor lain, seperti Number Capital, Arise, iSeed SEA, Irvan Kolonas, Alto Partners Multi-Family Office, Mahanusa Capital, Pendiri Kopi Kenangan James Prananto, dan sejumlah investor lainnya.

Delos berencana menggunakan dana itu untuk melanjutkan dan memperluas  pendampingan dan penanganan klien tambak udang serta melanjutkan pengembangan produknya, AquaHero, AquaLink, dan AquaBank, untuk memacu pertumbuhan industri akuakultur dan memulai Revolusi Biru di Indonesia.

Partner Alpha JWC Ventures Eko Kurniadi mengatakan Indonesia adalah eksportir udang terbesar ketiga di dunia. Namun industri ini masih terfragmentasi, dan terus terhambat oleh sistem pengelolaan yang tidak optimal dan ketinggalan zaman sehingga kualitas hasil panen tambak udang Indonesia selalu berada di bawah standar global. “Delos mampu memberikan solusi berbasis data untuk masalah sehari-hari yang dihadapi petambak udang, dan sejauh ini Delos telah terbukti berhasil mengoptimalisasikan pengelolaan dan meningkatkan daya guna tambak. Kami meyakini keahlian dan jaringan para pendiri Delos akan menjadi salah satu pemimpin Revolusi Biru di Indonesia,“ tutur Eko dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (23/3/2022).

Delos didirikan pada 2021 oleh Guntur Mallarangeng, Bobby Indra Gunawan, dan Alexander Farthing, dan Aristya Noerhadi. Keempat pendiri Delos ini memiliki keahlian multidisiplin yang mencakup akuakultur, ilmu kelautan dan mikrobiologi, serta teknologi dan pengalaman kewirausahaan yang bekerja bersama untuk mempercepat pertumbuhan industri akuakultur Indonesia. Perusahaan rintisan ini memperkenalkan misi Revolusi Biru sebagai rencana untuk mengembangkan dan memodernisasikan teknologi akuakultur Indonesia untuk bersaing dengan pemain-pemain industri akuakultur di dunia. 

Kenneth Li, Managing Partner Centauri Fund, mengatakan Delos yang mampu menghasilkan produktivitas panen 2-3 kali rata-rata industri itu dapat memberikan solusi kepada tantangan tersebut dengan mengimplementasikan sistem pengelolaan tambak modern dan solusi rantai pasokan untuk meningkatkan produktivitas. Sejak mendapatkan pendanaan tahap awal (Seed funding) akhir 2021 lalu, Delos telah membangun AquaHero, sebuah sistem pengelolaan tambak yang lengkap dan terpadu yang menggabungkan metode ilmiah, teknologi, dan sistem operasional untuk memacu produktivitas panen udang. AquaHero menggunakan metode pengumpulan data modern dan model biologi mutakhir untuk memperkirakan dan meminimalisir resiko panen. Sistem ini akan diimplementasikan di ribuan tambak udang dalam ekosistem Delos di Indonesia dan digabung dengan teknologi terbaru serta keahlian operasional tim  Delos.

CEO Delos, Guntur Mallarangeng mengatakan sambutan positif telah terasa sejak November 2021 lalu lantaran DELOS on track untuk menjalankan pendampingan 100 hektare tambak udang intensif dan super-intensif dalam waktu dekat. Saat ini, lanjut Guntur, banyak permintaan dari berbagai wilayah agar Delos mendampingi petambak dan lebih dari 600 hektar tambak yang masih menunggu dipoles oleh Delos. “Kami memang ingin mendorong Indonesia untuk sadar bahwa lautan kita yang luas memiliki potensi besar untuk menjadi sumber penggerak ekonomi nasional yang besar dan berkelanjutan,” sebut Guntur.

Proyeksi Pengembangan Bisnis

Ke depannya, Delos akan mengkonsolidasikan value chain dari hulu ke hilir, mulai dari pemrosesan, pemasaran, ekspor, dan penjualan langsung ke pasar luar negeri yang bernilai lebih tinggi seperti Jepang dan Amerika Serikat. Selain produktivitas, rantai pasok (supply chain) yang terintegrasi ke pasar luar negeri dan akses keuangan masih menjadi masalah mendasar bagi industri akuakultur Indonesia. Untuk menangani hal ini, Delos mengembangkan dan membesarkan AquaLink, sebuah produk integrasi supply chain, yang akan menghubungkan petambak udang dengan pemasok untuk memfasilitasi penjualan l hasil panen dengan harga dan sistem pembayaran yang terbaik.

Tantangan selanjutnya yang akan dijawab oleh Delos adalah akses finansial dan kesulitan permodalan yang dialami banyak petambak independen. Mayoritas petambak terpaksa menggunakan uang dari kantongnya sebagai modal usaha. Ini merupakan hambatan besar karena banyak petambak yang tidak memiliki rencana cadangan jika tambak udang tidak menghasilkan keuntungan. “Delos menghadirkan AquaBank dengan layanan pendanaan yang dilengkapi dengan penilaian risiko dan kebutuhan yang unik untuk setiap tambak dan pemiliknya. Kami berharap produk AquaBank dapat membantu mereka untuk meraih kesuksesan,” jelas Guntur.

Di samping bisnis, Delos mengembangkan sumber daya manusia dalam industri akuakultur seiring dnegan pendirian Delos Maritime Institute (DMI) di Yogyakarta yang akan berfungsi sebagai pusat pelatihan dengan kurikulum kelas dunia dan praktik lapangan , untuk menciptakan generasi baru siap kerja di bidang akuakultur sebagai manajer tambak, teknisi, asisten laboratorium, maupun petugas lapangan. Selain itu, DMI juga akan menjadi pusat penelitian ilmiah dan teknologi di bidang akuakultur, diantaranya pendeteksian dini dan pencegahan penyakit hewan ternak serta  inovasi infrastruktur tambak.

Swa.co.id.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)