Robot-Robot Pengantar nan Pintar

Situasi pandemi Covid-19 menjadi momentum naiknya pamor autonomous delivery robots. Starship Technologies, pionir di bidang ini, meresponsnya dengan apik.

Ahti Heinla, co-founder Skype, bersama Janus Friis mendirikan Starship Technologies, perusahaan layanan antaran dengan armada robot.

Selama pandemi Covid-19, mungkin Anda tak akan melihat banyak orang berlalu-lalang di trotoar pusat Kota Fairfax, Virginia, Amerika Serikat. Namun, uniknya, mungkin sewaktu-waktu Anda akan melihat sebuah robot berwarna dominan putih yang sedang bergerak menyusuri trotoar-trotoar tersebut, dan mengantarkan barang ke rumah-rumah di sejumlah permukiman.

Maklumlah, Fairfax merupakan kota terbaru yang menjalin kemitraan dengan Starship Technologies, perusahaan yang membuat robot pengantar yang bergerak sendiri (autonomous delivery robots) berukuran kecil. Di Fairfax, Starship kini mengoperasikan armada robot sebanyak 20 unit, dengan tugas melakukan delivery dari restoran-restoran ke orang yang memesannya dalam radius relatif tidak jauh. Robot-robot ini juga mengantarkan bahan makanan ke kalangan orang-orang tua dan mereka yang punya risiko tinggi bila terpapar Covid-19.

Pemerintah Kota Fairfax memutuskan segera menyetujui penggunaan robot-robot ini sebagai bagian dari cara untuk menolong resto-resto lokal agar mampu bertahan. Menurut Chris Bruno, Direktur Pengembangan Ekonomi Kota Fairfax, robot-robot ini dibutuhkan ketika para pengusaha lokal, khususnya kalangan resto, harus menjalani aturan physical distancing atau membatasi layanannya agar makanannya dibeli dengan cara grab and go (take-away). Starship membawa armada robot ke universitas lokal di Fairfax, George Mason University, pada 2019, sehingga kota ini cukup familier dengan teknologi robot ini.

Pemandangan serupa juga terlihat di Milton Keynes, sebuah kota di Inggris, sejak dilakukannya lockdown di masa awal pandemi Covid-19 di negara itu. Terutama, terlihat robot-robot Starship ini mengantarkan belanjaan makanan untuk staf NHS (National Health Services), lembaga otoritas kesehatan di Inggris. Maklumlah, selama krisis pandemi ini, karyawan NHS ini bekerja cukup panjang dan hampir tidak sempat mengunjungi toko-toko untuk berbelanja. Meskipun permintaan terhadap layanannya sedang meningkat, robot-robot ini mengantarkan barang-barang ke tenaga kesehatan itu secara cuma-cuma (tanpa mematok bayaran).

Kebijakan pembatasan mobilitas sosial di berbagai kota di dunia kebetulan terjadi ketika Starship melebarkan layanan robot antarannya ke berbagai kota. Bagi sebagian warga Milton Keynes, robot-robot Starship sebetulnya juga bukan hal baru, karena sejumlah armada robot hadir di kota ini sejak 2018. Hanya saja, pandemi mendorong manajemen Starship memperkuat armadanya di kota ini.

Karenanya, saat ini sesuatu yang jamak bagi orang-orang di Milton Keynes melihat robot-robot setinggi lutut orang dewasa sedang menyusuri trotoar. Bodinya cukup besar untuk menyimpan beberapa kantong belanjaan dan beberapa botol minuman.

Robot-robot berbentuk seperti kotak ini merupakan robot elektrik. Robot ini punya serangkaian kamera yang dapat digunakan untuk mendeteksi hambatan dan membantu membimbing robot ini menuju destinasinya. Radius antarannya 3-4 mil. Robot ini juga memiliki semacam antena berbentuk bendera merah kecil di atasnya, sehingga mereka gampang dipantau ketika mereka beroperasi mengantarkan barang di seputar permukiman. Gerakan robot-robot ini tak akan mengganggu orang, apalagi membahayakan, karena kecepatannya hanya 4 mil per jam.

Berat kosong robot ini, tanpa muatan, sebesar 55 pon (25 kg). Robot ini punya ruang bagasi (trunk), yang bisa untuk membawa barang antaran dengan berat total hingga 20 pon. Robot-robot starship ini dilengkapi dengan serangkaian sensor, mencakup: kamera, unit GPS, sensor ultrasonik, dan radar. Robot ini juga dilengkapi dengan perangkat speaker sehingga bisa berkomunikasi dengan manusia yang mereka temui.

Begini gambaran praktik yang sudah berjalan. Pelanggan memesan bahan makanan (groceries) atau makanan jadi, melalui sebuah mobile app, seraya menunjukkan lokasi di mana makanan itu akan diantarkan. Robot-robot ini sanggup membawa barang antaran hingga 20 pon atau sekitar tiga kantong. Sebagaimana layanan Uber atau Grab, ada sebuah peta interaktif yang memperlihatkan antaran berjalan seiring dengan sang robot yang menyusuri trotoar dan melintasi jalan-jalan.

Seperti halnya kendaraan otonomus (autonomous vehicle) seperti self-driving car, robot mini ini juga mengandalkan sensor-sensor serta teknologi artificial intelligence dan machine learning, untuk melakukan navigasi. Sementara, tim dari Starship memonitor robot-robot itu dari jarak jauh dan dapat mengontrol mereka jika dibutuhkan. Ketika makanan yang diantarkan itu tiba di lokasi yang dituju, pelanggan bisa membuka kotak penyimpanan makanan pada robot itu dan mengambil makanan pesanan mereka. Caranya lagi-lagi cukup menggunakan aplikasi di smartphone-nya .

Teknologi ini tentu saja sangat cocok di era physical distancing. Tanpa adanya pengemudi, berarti sedikit sekali kontak dengan makanan sebelum mencapai pelanggannya, dan itu artinya pelanggan juga makin terlindungi dari paparan virus Covid-19. Ketika si robot kembali ke toko atau resto, dengan mudah robot itu bisa dibersihkan, cukup dengan cairan sabun pembersih atau karbol.

Starship Technologies, pemilik dan pengelola layanan antaran dengan armada robot ini, didirikan pada 2014 oleh dua co-founder Skype, Ahti Heinla dan Janus Friis, di Tallinn, Estonia. Perusahaan startup ini bermula dari sebuah aktivitas yang disebut Project Echo. Tim inti (the core team) perusahaan ini, yang dipimpin oleh Ahti Heinla, awalnya berpartisipasi dalam program NASA Centennial Challenge, dengan mengembangkan robot pengambil sampel eksperimen.

Starship Technologies didaftarkan pertama kali pada 11 Juni 2014 oleh para pendirinya pada otoritas bisnis di Tallinn, Estonia. Kemudian, didaftarkan sebagai entitas bisnis AS di San Francisco, California, pada 28 September 2016. San Francisco, yang merupakan bagian dari area penting komunitas Silicon Valley, dipilih menjadi kantor pusatnya.

Starship meluncurkan pilot project untuk layanannya pada 2016 secara hampir berbarengan di AS dan Inggris.Adapun layanan komersialnya resmi diluncurkan pada 2017.

Pada April 2018, Starship meluncurkan layanan robot pengantarnya di sebuah kota di Inggris, bernama Milton Keynes, bermitra dengan Co-op dan Tesco. Milton Keynes kini telah menjadi kota dengan armada robot otonomus terbesar di dunia, terutama karena peningkatan armada robot sejak pandemi Covid-19 merebak.

Starship kini beroperasi di AS, Inggris Raya, Jerman, dan Estonia. Sejak awal 2019, Starship memfokuskan layanan robot pengantarnya di kampus-kampus perguruan tinggi.

Kiprahnya di lingkungan kampus dimulai pada Januari 2019. Bermitra dengan Sodexo, Starship meluncurkan layanan robot pengantar makanan di George Mason University, dengan menurunkan armada 25 robot –jumlah terbesar saat itu di lingkungan kampus.

Pada tahun itu juga layanannya di lingkungan kampus dikembangkan ke Northern Arizona University di Flagstaff, Purdue University di West Lafayette, University of Pittsburgh, University of Wisconsin di Madison, University of Houston, dan University of Texas di Dallas. Lalu, pada 2020 berlanjut ke University of Missisippi dan Bowling Green State University.

Starship menargetkan bisa menggarap 100 universitas dan bisa melayani 1 juta mahasiswa pada akhir musim panas 2021. Manajemen Starship menyebutkan akan menurunkan 25-50 unit robot di setiap kampus. Dengan demikian, nantinya akan ada 2.500-5.000 robot pengantar yang berseliweran di sekitar kampus-kampus ini.

Secara umum, Starship menggaet pendapatan dengan mematok tarif kepada pelanggannya sebesar US$ 1,99 untuk tiap order. Di luar itu, Starship juga meneken kontrak dengan kalangan universitas dan resto yang dilayaninya.

Dengan merebaknya pandemi Covid-19, yang memaksa resto tradisional untuk tutup, Starship seperti punya peluang untuk mempercepat pertumbuhan. Karenanya, semenjak pandemi ini, Starship telah mengembangkan jumlah robot yang digunakan untuk mengantarkan makanan, baik di Inggris maupun di AS.

“Kami saat ini menawarkan layanan antaran gratis untuk semua karyawan NHS di permukimannya,” kata Henry Harris-Burland dari Starship UK. “Kami ingin membuat hidup mereka lebih mudah di masa yang sangat membuat stres ini,” tambahnya.

Menurut Henry, banyak dari tenaga kesehatan ini yang bekerja dalam waktu panjang, sekitar 80 jam seminggu. Mereka pun tak sempat lagi pergi berbelanja bahan makanan. Karena itulah, mereka merasa senang dengan adanya bantuan dari robot-robot ini. “Kami sendiri merasa bangga bisa menjadi bagian dari solusi,” kata Henry.

Di Milton Keynes, robot-robot ini dikabarkan telah menyelesaikan ratusan ribu antaran. “Kami berupaya melakukan apa saja secepat mungkin untuk memperluas layanan ini ke orang-orang lebih banyak, khususnya di masa yang sungguh saat penting ini,” kata Henry.

Bukan hanya Fairfax dan Milton Keynes, robot-robot Starship juga sudah melayani Tempe, sebuah kota di Arizona, AS. Di Tempe, layanan antaran pada tahap awal akan mempekerjakan lebih dari 30 robot otonomus, dari pukul 10.30 pagi hingga 8:30 malam setiap harinya. Area layanannya adalah beberapa resto dan permukiman. Lokasi layanannya di Tempe ini berjarak sekitar dua mil dari Arizona State University.

Warga Tempe bisa menggunakan aplikasi Starship untuk memesan makanan dari tiga resto, yakni Fate Brewing Company, Tempe City Tacos, dan Venezia’s Pizza. Pihak Starship mengatakan, akan memperluas area layanannya di Tempe dan menambahkan lebih banyak resto dan toko bahan makanan.

Dibukanya layanan robot pengantar di Tempe, Arizona, merupakan bagian dari realisasi rencana ekspansi Starship, menyusul raihan dana sebesar US$ 40 juta dari putaran pendanaan terlaksana pada Agustus 2019. Hingga saat ini Starship telah mengumpulkan total pendanaan US$ 85 juta. Di antara investornya ada Shasta Ventures, Matrix Partners, MetaPlanet Holdings, Morpheus Ventures, TDK Ventures, dan Qu Ventures.

Tempe bukanlah satu-satunya area yang benar-benar baru digarap Starship di tengah suasana pandemi Covid-19. Tak berjarak lama, Starship juga telah menambahkan layanan robot pengantarnya di Washington, D.C. pada akhir Maret 2020 dan berlanjut ke Mountain View dan Irvine (keduanya di California, AS).

“Permintaan terhadap layanan tanpa kontak telah berkembang secara eksponen di minggu-minggu terakhir,” kata Ryan Tuohy, Kepala Pengembangan Bisnis Starship, dengan nada semringah. “Robot-robot kami telah melakukan layanan antar otonomus di sejumlah negara, dan kami senang robot-robot kami telah membuat hidup lebih mudah bagi setiap orang,” katanya lagi.

Pada Januari 2021, Starship mengumumkan telah menyelesaikan 1 juta pengantaran (deliveries). Ada peningkatan frekuensi pengantaran belakangan ini. Sebab, menurut data Starship, pada Agustus 2019 Starship baru mampu mencatat 100 ribu pengantaran, dan pada Juni 2020 mencapai 500 ribu pengantaran.

Sesungguhnya, bukan hanya Starship yang mengembangkan layanan robot pengantar. Ada Udelv yang menggunakan robot seukuran minivan. Ada pula Nuro yang mengoperasikan mini-robotic car. Juga ada Amazon yang mengembangkan robot yang mirip-mirip dengan robotnya Starship, tetapi lebih dimanfaatkan untuk mengelola pekerjaan di jaringan Fulfillment Center raksasa e-commerce ini. Dan, ada Wing, yang dikembangkan Alphabet, yang menggunakan drone, yang antara lain sudah mengantarkan kertas toilet, pasta gigi, dan pasokan penting lainnya ke daerah pedesaan Virginia, AS.

Semua robot itu diklaim sebagai otonomus. Namun, kenyataannya, ada yang masih membutuhkan monitor dari manusia untuk memantau gerakan robot-robot itu.

Tampaknya bisa dimengerti bila bidang bisnis layanan antar menggunakan robot otonomus ini makin berkembang. Pasalnya, menurut sebuah riset, bidang yang terkait, yakni belanja bahan pangan secara online diperkirakan akan tumbuh lima kali lipat dalam satu dekade mendatang. Nilai belanja konsumen Amerika saja untuk menyediakan makanan di rumah diprediksi akan mencapai US$ 100 miliar di tahun 2025. Meski persaingannya ketat, manajemen Starship yakin tetap akan berada di posisi terdepan.

Yang jelas, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan ini memang diakui telah mengubah banyak hal, terutama dalam hal pemanfaatan teknologi. Bukan hanya mempercepat adopsi teknologi untuk bekerja, belajar, dan rapat dari rumah dan dari mana pun, tetapi juga makin membiasakan orang melihat robot-robot otonomus melaksanakan tugas di sekelilingnya. Setidaknya buat warga di sejumlah kota itu. (*)

Joko Sugiarsono; Riset: Armiadi (dari berbagai sumber)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)