Sinergi dan Kolaborasi, Kunci Ketahanan Ekosistem Inovasi BPPT Tangani Covid-19

Kepala BPPT, Hammam Riza (bawah)

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak Maret 2020 telah merancang ekosistem inovasi untuk menangani wabah Covid-19 dengan menggandeng litbang, perguruan tinggi, industri, hingga asosiasi. Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Penanggulangan Pandemi Covid-19  (TFRIC-19) terdiri dari beragam stakeholder yaitu 9 lembaga penelitian, 18 perguruan tinggi, 5 industri, 6 startup, 3 rumah sakit, dan lebih dari 15 komunitas/asosiasi profesi. Ekosistem inovasi ini dilakukan dalam rangka menangani testing, melaksanakan tracing, melakukan deteksi dan tracking, serta memagari diri dari keterpaparan dari Covid-19.

Kepala BPPT, Hammam Riza dalam acara IG Live SWA Business Leader Talk (13/08/20), menyayangkan pengadaan kebutuhan alat kesehatan yang masih bergantung pada  impor. Sehingga dalam upaya kemandirian bangsa menangani Covid-19, TFRIC-19 dikerahkan untuk menciptakan inovasi teknologi.

Adapun produk inovasi yang dihasilkan diagnostik NonPCR, yaitu inovasi Rapid Diagnostik Test hasil pengembangan BPPT, Universitas Airlangga (UNAR), UGM dan PT Hepatika. Hammam menyebut, harga test kit ini cukup bersaing yaitu Rp 75 ribu.

Dilanjutkan dengan generasi kedua yang bahan bakunya adalah protein rekombinan. Kemudian, BPPT mengembangkan juga Surface Plasmon Resonance (SPR) untuk meningkatkan sensitivitas deteksi Covid-19 yang baik dan akurat.

BPPT juga menggandeng startup Nusantics untuk mengembangkan PCR test kit. Nusantics yang merupakan startup di bidang genom membuat purwarupa PCR test kit untuk kemudian dikembangkan dan diproduksi massal oleh Bio Farma.

Terakhir, BPPT menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi Covid-19 melalui citra media X-Ray maupun CT Scan. Dengan menggunakan kecerdasan AI, deteksi virus tidak memerlukan reagen lagi.

Inovasi yang melibatkan lintas keilmuan dianggap Hammam sebagai langkah strategis yang dilaksanakan dengan sinergi dan kolaborasi.

“Tidak semuanya harus dilakukan oleh perekayasa BPPT. Contohnya untuk mengembangkan AI, kami mengajak Indonesian Artificial Intelligence Society (IAIS). Kalau sebelumnya kita bekerja dalam sektor-sektor, itu selalu terdapat egosentris terhadap apa yang dikerjakan. Tapi kalau kita mencairkan hubungan ini dalam semangat kerja sama dan gotong-royong, maka hasilnya pun bisa cepat kita peroleh,” paparnya.

Hammam juga menyebut, proses hilirisasi dari awal sudah melibatkan industri untuk mempersempit jurang inovasi. Para pihak yang terlibat merasa memiliki ide dan hasil-hasil penelitian perekayasa.

“Kita membangun jembatan antara ide dan industri. Ada tuntutan untuk mengakselerasi hasil inovasi ini sehingga kita dapat memiliki produk dalam negeri untuk mengatasi Covid-19,” kata Hammam.

Akselerasi ini terbukti dari proses yang tidak memakan waktu lama. Dimulai dari perancangan purwarupa hingga memperoleh izin edar, BPPT membutuhkan waktu 2 bulan. Namun, karena terkait kepentingan kesehatan, tentu saja kualitas produk tidak bisa diabaikan. Hammam mencontohkan 10.000 rapid test kit yang diuji validasi dengan cara disebar ke berbagai rumah sakit sebelum lolos edar.

“Yang kami lakukan saat ini adalah membawa ilmu pengetahuan ke lingkup yang lebih luas. Riset ini berhasil kami kembangkan menjadi sebuah produk, yang kami harapkan menjadi global brand. Saya berharap ada global brand dari riset dan teknologi Indonesia,” ujar Hammam.

Ia tidak menampik bahwa muncul tantangan yang dihadapi selama TFRIC-19 bekerja. Contohnya dalam pengadaan bahan baku yang masih bergantung pada impor. Salah satu tantangan adalah saat bahan baku sudah dipesan, masuk ke bea cukai, dan harus dibawa ke PT Hepatika di Lombok. Sayangnya, bahan sudah rusak saat sampai di Lombok sehingga BPPT harus memesan ulang.

Hammam menegaskan bahwa tidak ada tumpang tindih antar lembaga dalam pengembangan. BPPT sendiri memiliki peran-peran yang lebih banyak di hilir dalam proses riset dan inovasi. Di antaranya melaksanakan perekayasaan, clearing teknologi, audit teknologi, alih teknologi, difusi dan intermediasi, hingga komersiasialisasi.

“Kalau kita mau membuka diri dan bekerja sama dengan seluruh stakeholder, maka tantangan-tantangan itu bisa kita lewati sehingga bisa menangani Covid-19,” jelas dia menegaskan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)