Skema Tarif Go-Jek Sokong Pertumbuhan Industri Ride Hailing

Go-Jek, Ojek Online yang Fenomenal Mitra driver Go-Jek (Ilustrasi Foto : Dok)

Terjadi perdebatan terkait skema tarif layanan ride-hailing di Indonesia. VP Corporate Affairs Go-Jek, Michael Say, mengungkapkan struktur layanan tarif di Go-Jek memertimbangkan berbagai aspek termasuk untuk menjaga keberlangsungan industri secara sehat.  ”Yang wajib dipahami, struktur tarif yang dimiliki Go-Jek itu dibagi dua, yakni tarif yang dikenakan ke pelanggan dan tarif yang kami bayarkan ke mitra,” tegasnya, dalam keterangan resmi di Jakarta,  Jumat (7/12/2018).

Hal tersebut sekaligus membantah ungkapan pihak yang menyebut tarif Go-Jek lebih rendah dibandingkan pemain lain di industri ride-hailing Indonesia. ”Sebelumnya perlu dipahami bahwa data perbandingan tarif Go-Jek dan pemain lain yang di-publish di beberapa pemberitaan, tidak bisa dibandingkan apple to apple. Apalagi ternyata catatan tarif Go-Jek yang dikutip merupakan tarif per kilometer yang dikenakan ke konsumen dan bukan yang diterima oleh mitra,” Michael memaparkan.

Memang, kata Michael, penyesuaian tarif dilakukan Go-Jek belum lama ini ditetapkan. Dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi pasar yang saat ini terindikasi mengarah ke persaingan usaha tidak sehat. ”Sehingga dapat terjadi dominasi pasar yang bisa  mengancam keberlangsungan para mitra driver,” ungkap Michael.

Bagi Go-Jek, pendapatan dan kesejahteraaan mitra driver yang berkesinambungan merupakan prioritas. Oleh karena itu, penyesuaian tarif yang dilakukan diiringi berbagai inisiatif untuk menambah jumlah pengguna dan jumlah order bagi para mitra. Demi memastikan keberlangsungan pendapatan para mitra. Michael memaparkan, “Setelah penyesuaian tarif, angka tarif Go-Jek masih paling tinggi dibandingkan pemain lainnya”.

Berdasarkan data dari aplikasi driver ojek online yang ditemui di lapangan, argo minimum Go-Jek adalah Rp 10.000, sementara Grab Rp 7.000.  Minat driver bergabung dengan Go-Jek terbukti cukup tinggi. Terjadi migrasi dalam jumlah cukup besar dari driver aplikator lainnya yang hijrah ke Go-Jek di beberapa kota Indonesia. Bahkan, Michael menyebutkan, perpindahan itu masih terjadi setelah penyesuaian tarif dilakukan. Mayoritas mitra memilih pindah ke Go-Jek karena mempertimbangkan skema tarif dan insentif yang lebih transparan. ”Melalui aplikasi mitra, kami memiliki fitur catatan pembukuan pemasukan harian (daily income summary) agar mereka mengetahui secara jelas pendapatan yang didapat per harinya,” terangnya.

Data Go-Jek menunjukkan, dalam sebulan terakhir pihaknya menerima belasan ribu mitra baru di Jabodetabek yang masuk ekosistem perusahaan aplikator dari Indonesia itu. ”Dengan migrasi ini, kami semakin semangat untuk terus mendorong kesejahteraan sektor informal di Indonesia,” kata Michael.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)