Berburu Jodoh Ala Paktor

Mencari pasangan hidup di era modern seperti ini, belum tentu menjadi perkara mudah. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai situs dan aplikasi mobile pencari jodoh. Salah satunya adalah Paktor, mobile aplikasi yang didirikan oleh Joseph Phua  ini berbasis di Singapura. Paktor diklaim sebagai salah satu aplikasi mobile sosial yang berbeda dengan mobile aplikasi serta situs pencari jodoh lainnya.

DSC_0967 ket kiri ke kanan : Joseph Phua CEO dan pendiri Paktor dan Junior Liem Brand Ambassador Paktor Indonesia

“Kami terinspirasi oleh mobile aplikasi Tinder, namun mobile aplikasi ini memiliki beberapa kekurangan di mana aplikasi ini bersifat sangat global. Orang Asia memiliki sifat yang sangat berbeda dengan orang Barat. Orang Asia cenderung lebih pemalu dan tertutup, mereka juga memiliki ketakutan besar untuk ditolak. Oleh karena itu, seleksi secara anonim sangat dibutuhkan," jelas Indriani Widyasari, Country Lead Paktor Indonesia.

Kekurangan Tinder ini pun dimanfaatkan Josep Phua dalam mendirikan Paktor. “Bisa dibilang, Paktor adalah Tinder nya Asia,” lanjutnya lagi. Aplikasi yang telah muncul sejak tahun 2013 ini, kini memiliki 2,5 juta pengguna di seluruh Asia. Dalam sebulan Paktor mampu memperoleh 300 juta swipe atau pertemanan. Paktor juga telah memfasilitasi 7,5 juta perkenalan baru. Pertumbuhan ini pun membuat Paktor berani untuk mengembangkan mobile aplikasinya ke berbagai seluruh Asia seperti Malaysia, Taiwan, Vietnam, Thailand, dan pada Januari 2015, Indonesia.

Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki pangsa pasar yang cukup besar. Laporan eMarketer pada bulan Desember 2014, memperkirakan bahwa pada tahun 2018, Indonesia akan memiliki 100 juta pengguna smartphone yang aktif. Masuknya Paktor ke Indonesia pun disambut baik dengan memperoleh 500.000 pengguna dalam waktu 3 bulan, sejak pertama kali mereka masuk.

Selain itu, aplikasi berbayar mereka pun cukup mendapatkan apresiasi yang baik di masyarakat.”Aplikasi yang kami tawarkan gratis namun ada fitur yang berbayar yaitu fitur message. Fitur ini dapat dibeli melalui kartu kredit dan akan masuk sebagai fitur pulsa. Saat mengirim message pulsa otomatis akan terpotong, namun bila message tidak terbalas pulsa akan masuk kembali. Surprisingly, saat pertama kali masuk, ternyata banyak juga orang Indonesia yang tertarik dengan fitur ini dan membelinya,” ungkapnya.

Melihat perkembangan ini, Paktor pun optimis dapat meraih 4 juta pengguna pada akhir kuartal kedua.”Kami sangat optimis Indonesia dapat menyumbangkan angka yang signifikan dalam usaha pencapaian tersebut. Potensi ini didukung dengan karakter orang Indonesia yang ramah dan senang menjalin pertemanan dengan orang baru. Mengingat dalam aplikasi ini, kita bisa berkenalan dengan berbagai orang baik dalam maupun luar negri," jelas Joseph Phua, CEO dan pendiri Paktor.

Oleh karena itu, Paktor pun melancarkan berbagai strategi,  salah satunya dengan meluncurkan iklan televisi pertama mereka yang dibintangi Junior Liem.”Iklan ini akan ditayangkan oleh 5 stasiun  TV swasta di Indonesia seperti RCTI, TRANS TV, Trans 7, ANTV, dan NET TV mulai 12 April 2015. Selain itu Paktor pun menggaet 50 brand ambassador Paktor dari berbagai universitas di Jakarta, karena mobile aplikasi ini memang dekat dengan anak muda,” dia menguraikan.

Paktor juga melakukan pendekatan personal dengan para user mereka.”Untuk user aktif atau baru biasanya akan kami tawarkan berbagai promosi, salah satunya pulsa gratis. Misalkan pengguna baru, nanti akan kami kirimkan email notifikasi yang isinya penawaran promosi. Nantinya mereka akan kami minta untuk mengikuti program tersebut, contohnya melengkapi data yang kurang lengkap. Apabila semua persayaratan sudah dilakukan maka mereka bisa mendapatkan pulsa gratis tersebut”.

Oleh karena itu Paktor pun sangat optimis dalam mencapai pencapaian mereka di kuartal kedua. “Hingga saat ini kami belum memiliki kandidat pesaing yang cukup kuat. Mengingat fitur yang kami tawarkan sangat berbeda dengan mobile aplikasi lain dengan tawaran serupa. Saat ini pesaing terkuat kami adalah Tinder, namun dengan keunggulan yang kami miliki, yakin bisa menyaingi Tinder di Asia,” kata Indriani. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)