TaniHub, Startup Agrikultur Berpendapatan Terbesar

 Ivan Arie, CEO dan co-founder PT Tani Hub Indonesia.
Ivan Arie, CEO dan co-founder PT Tani Hub Indonesia. 

TaniHub merupakan perusahaan rintisan yang membangun ekosistem petani, mulai dari pembiayaan, penanaman, hingga pemasaran. Melalui TaniHub, petani diberi edukasi untuk menghasilkan produk pertanian yang bagus, juga dimodali untuk menanam lewat TaniFund.

Visi TaniHub adalah mempercepat penciptaan dampak positif dalam sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi informasi. Maka, perusahaan ini membangun usahanya di atas tiga pilar utama, yaitu pertanian, teknologi, dan dampak sosial. Adapun misinya adalah memberdayakan petani lokal dengan menyediakan akses pasar dan akses keuangan.

Sekarang, perusahaan yang berdiri sejak 2016 ini sudah bermitra dengan 35 ribu petani dari 840 kelompok. Setiap kelompok rata-rata terdiri dari 50 petani. “Kami menargetkan mencapai satu juta petani dalam tiga tahun ke depan. Bisa jadi lebih cepat, tapi paling lambat tiga tahun ke depan,” kata Ivan Arie, CEO dan co-founder PT Tani Hub Indonesia. 

Baru-baru ini, TaniHub juga membuat TaniSupply untuk rantai pasok ke petani. “Artinya, kami panen ke petani, mengelola hasil panen petani melalui TaniSupply,” ujar Ivan sambil menjelaskan, TaniSupply memfasilitasi transaksi online antara Tani Group dan petani. Sebelumnya, bagian ini menjadi satu dengan TaniHub. Jadi saat ini, TaniHub fokusnya adalah menjual barang yang sudah dibeli oleh TaniSupply ke pasar.

Mengapa dipisah? Sebab, dikatakan Ivan, core business keduanya berbeda. Bisnis inti TaniHub adalah perusahaan e-commerce yang fokus menjual hasil pertanian secara maksimal, sedangkan bisnis inti TaniSupply ke arah rantai pasok produk pertanian. “Kami mengembangkan petani dan membantu petani untuk bisa meningkatkan hasil produk pertaniannya dengan cara mengedukasi mereka, seperti mana benih dan pupuk yang baik. Selain itu, kami juga mengejar jumlah petani yang kami butuhkan supaya bisa mengantisipasi kebutuhan perusahaan kami,” kata alumni Jurusan Akuntansi Universitas Trisakti Jakarta itu.

Saat ini, TaniHub memiliki sekitar 500 stock keeping unit (SKU). “Dalam bisnis ritel, SKU itu individual, misalnya cabai kriting itu satu SKU. Kami punya hampir 500 dan sebagian besar untuk target B2B kami, termasuk kemasannya. Jadi, kemasan kami kemasan untuk kebutuhan B2B. Tapi, bukan berarti end-user tidak bisa beli. Mereka bisa beli sepanjang mereka bisa menggunakan kemasan yang kami jual untuk B2B,” Ivan menjelaskan. Pelanggan terbesarnya saat ini adalah hotel, restoran, katering, UMKM, dan industri makanan. Pelanggan lainnya adalah modern trade seperti supermarket, toko buah modern, dan pelanggan perorangan (end-user).

Volume produknya per bulan, menurut Ivan, tergantung pada jenis komoditasnya. “Itu sangat bervariasi. Jadi, kami tidak bisa mendefinisikan berapa tonnya. Tapi, dengan luas gudang rata-rata 500-1.000 m2 di setiap cabangnya, itu sudah terbayang berapa besar barangnya per hari,” katanya sambil mengungkap, cabangnya (untuk penjualan dan gudang) ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya dengan total jumlah karyawan mencapai sekitar 200 orang.

Sayang, Ivan tidak bersedia mengungkap revenue perusahaannya. “Tidak bisa kami share angkanya. Bisa dibilang kami termasuk salah satu startup agrikultur yang berpendapatan terbesar,” katanya tanpa menyebut angka nominalnya.

Lalu, bagaimana cara mengelola produksi dan permintaan pasar yang besar? Menurut Ivan, kondisi sekarang adalah ada ribuan petani menunggu untuk bisa dibeli produknya. “Hanya, kami masih menyelaraskan dengan market-nya. Market-nya ada atau tidak untuk bisa menyerap produk sebesar itu,” katanya. Pihaknya berharap, seiring dengan pertumbuhan bisnis perusahaan, semakin banyak hasil dari petani yang bisa diserap pasar. Dengan demikian, perusahaannya pun mencoba membuka pasar sebesar mungkin sehingga hasil pertanian yang melimpah bisa terserap dan perusahaannya pun bisa meningkatkan kualitasnya.

Untuk sumber pendanaan, saat ini sebagian besar berasal dari individu, mulai dari small lender (Rp 100 ribu) sampai jutaan. Mereka memang orang-orang yang sangat konsen dan berpartisipasi dalam pertanian. Sisanya, kurang dari 5%, berasal dari perbankan. “Kami channeling beberapa pinjaman perbankan untuk kami salurkan ke petani yang bermitra dengan kami. Fokus kami memang mendapatkan pendanaan dari publik melalui platform TaniFund kami,” katanya. Hingga saat ini, dana yang sudah disalurkan mencapai Rp 150 miliar.

Untuk mendapatkan dana pinjaman ini, ada kualifikasi bagi petani. Pertama, harus berpengalaman dalam hal budidaya komoditas tertentu. Kedua, hasil dari pengalaman budidaya komoditas tersebut memenuhi kualitas yang baik. Artinya, pertani tersebut menerapkan prinsip budidaya yang mengacu pada standar yang berlaku. “Kami terus mengedukasi para petani mengenai manfaat bergabung dengan TaniFund dan caranya bagaimana,” kata mantan GM Pelatihan& Pengembangan SDM Carrefour Indonesia ini.

Plafon pinjamannya Rp 25 juta-2 miliar per kelompok tani, sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan. Jadi, plafon pinjaman ini bervariasi, tergantung pada jumlah ukuran proyeknya. Untuk persentase bunganya, Ivan lebih suka menyebutnya dengan imbal hasil. “Imbal hasilnya itu, range-nya antara 12% dan 20% per tahun sebelum dipotong pajak,” ungkap Group Finance Controller HappyFresh ini.

Dalam pandangan Istijanto Oei, pengamat pemasaran dari Universitas Prasetiya Mulya, TaniHub memiliki potensi yang dapat dikembangkan dari hulu sampai hilir mengikuti manajemen rantai pasok (SCM). Artinya, nilai tambah yang diberikan kepada petani bisa mulai dari aspek produksi sampai ke konsumen, termasuk dari segi pembiayaan. Sebagai contoh, terkait dengan penyediaan pupuk dan insektisida sampai pelatihan di sisi produksi untuk menghasilkan hasil tani yang efisien dengan kualitas yang bagus, hal itu bisa dijalankan melalui aplikasi. Demikian juga hasil petani, bisa disalurkan melalui aplikasi TaniHub.

TaniHub juga cukup jeli membawa konsep peer to peer yang selama ini sudah marak di kategori lain, seperti penginapan atau transportasi, ke kategori pertanian atau hasil bumi. Memang, konsep peer to peer ini bisa dikloning di banyak kategori dan TaniHub mencoba di ranah pertanian.

Agar bisnisnya bisa terus berkelanjutan, Istijanto memberi saran agar TaniHub perlu terus berinovasi menawarkan bentuk-bentuk layanan baru yang memecahkan masalah petani. Bentuk-bentuk program loyalitas pun mesti dikembangkan karena ini sudah menjadi ciri digital marketing. “Selain itu, juga perlu perluasan network sehingga semakin banyak pihak yang bisa dipertemukan untuk memberikan nilai tambah yang saling menguntungkan,” katanya.

Ke depan, TaniHub akan membuka beberapa cabang lagi. “Kami akan buka gudang pemrosesan dan pengemasan produk. Kami berharap pertumbuhan bisnis kami bisa terus konsisten di angka dua-tiga kali dibandingkan sebelumnya,” ungkap Ivan optimistis. (*)

Dede Suryadi dan Nisrina Salma; Riset: Hendi Pradika

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)