Tips Agar Sukses Migrasi ke Komputasi Awan

Berdasarkan survei, security adalah risiko utama dari komputasi awan (cloud computing) yang berbasis akses publik. 62% dari peserta menilai keamanan data sebagai risiko yang "serius" atau menjadi "sangat serius" untuk infratruktur TI di cloud yang berbasis akses untuk publik (public cloud). Risiko keamanan utama adalah kebocoran data. Ancaman ini dimungkinkan karena mesin virtual dapat mengekstrak kunci kriptografi yang disimpan pada mesin virtual yang terpisah dalam satu perangkat. Hal ini menyebabkan jika terdapat kesalahan pada suatu aplikasi klien, hacker bukan hanya dapat mencuri data klien tersebut, tetapi juga data dari klien yang lain.

Komputasi Awan - Cloud Computing (PIcture created by Andhika Komputasi Awan - Cloud Computing (Picture created by Andhika Rahmayanto)

Perkembangan ke depannya, sesuai dengan survei tersebut, mengacu hambatan, seperti keamanan dan kerahasiaan data, ketergantungan pada infrastruktur jaringan untuk akses, dan juga ketergantungan terhadap penyedia layanan eksternal (managed services), perusahaan di Indonesia, dalam mengimplementasikan komputasi awan dalam 3 tahun ke depan, kemungkinan akan mengadobsi, secara berurutan: private cloud, lalu hybrid cloud, dan kemudian public cloud.

Jika sebuah perusahaan ingin bermigrasi ke komputasi awan dengan sukses, mereka harus memiliki strategi cloud computing yang menggabungkan rencana migrasi mereka. Strategi tersebut meliputi beberapa proses, seperti:
1. Melakukan penilaian yang berbasis risiko/peluang untuk menentukan kesiapan implementasi teknologi cloud;
2. Menilai server dan konsolidasi aplikasi dan kelayakan migrasi;
3. Pengujian aplikasi saat melalui Proof of Concept (POC) untuk mesimulasikan lingkungan migrasi;
4. Untuk private cloud, penilaian untuk pusat data tambahan atau ekspansi pusat data mungkin diperlukan untuk mengakomodasi semua sistem berdasarkan kapasitas situs dan penilaian persyaratan;
5. Menilai dan menyetujui dengan vendor, SLA (Service Level Agreement) apa yang dapat didukung dalam implementasi setup baru (berbasis cloud).

Selain itu, penyedia layanan cloud perlu melakukan beberapa tindakan utuk meningkatkan adopsi komputasi awan, antara lain, adalah:
- Menyederhanakan model berlangganan untuk membantu memberikan pemahaman yang jelas tentang cloud untuk calon pelanggan;
- Lebih fokus pada hubungan dengan pelanggan, dengan menyediakan konsultasi dan migrasi beban kerja ke cloud dan mengelola semua bagian;
- Dalam mengembangkan solusi, penyedia harus fokus pada adoptability (kemudahan penggunaan), servis dan TCO bagi seluruh pemangku kepentingan.

Penyedia layanan Komputasi Awan seperti: IndonesianCloud (www.indonesiancloud.com), TelkomSigma (www.telkomsigma.co.id/cloud-computing), CBN Cloud (www.cbncloud.co.id), InfinysCloud (www.infinyscloud.com), sudah dapat dijadikan pilihan bagi para penentu sistem Teknologi Informasi di perusahaan masing-masing, baik CIO maupun IT manager, dalam mengimplementasikan sistem cloud mereka.

Begitu juga teknologi dan layanan yang ditawarkan oleh perusahaan besar kelas internasional, seperti Microsoft Cloud, Google Cloud Storage, dan Amazon Cloud/Web Services, juga bisa menjadi pilihan untuk perusahaan kelas enterprise, small to medium-sized business (SMB), maupun usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.

Kembali lagi sejauh mana perusahaan akan mengadopsi teknologi Komputasi Awan di perusahaan mereka, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kerumitan sistem, serta tingkat keamanannya. Apakah akan mengadopsi private cloud, hybrid cloud, atau public cloud. Serta regulasi dan policy dari Pemerintah dan asosiasi industri terkait, juga dapat menjadi pertimbangan pengimplementasian teknologi komputer awan atau cloud computing, bagi perusahaan di Indonesia. (Andhika R)

Related:

PwC: Perkembangan Cloud Computing di Indonesia Lamban

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)