5 Tren Utama Lanskap IT dalam Bisnis

Hubert Yoshida, Vice President Global CTO Hitachi Data Systems, membagikan pandangannya mengenai tren IT di tahun 2016 ini (23/2). Salah satu pemicu dari tren tersebut adalah maraknya penggunaan cloud sebagai basis data center. Hubert mengaku, berkembangnya cloud memang menjadikan penggunaan teknologi IT dalam bisnis semakin dinamis efisien.

Menurut Hubert, biaya infrastruktur tradisional bisa berkurang hingga 80% jika sebuah perusahaan menerapkan teknologi cloud untuk data centernya. "Dulu memang alokasi dana untuk mengembangkan divisi IT dalam sebuah bisnis banyak disedot oleh infrastrukturnya. Tapi saat ini, dengan berkembangnya teknologi cloud, maka infrastruktur IT tidak perlu banyak memakan biaya lagi dan alokasi sumber daya dicurahkan pada pengembangan aplikasi untuk end user," tutur Hubert.

Upaya untuk membuat konsumen senang mendapat bajet ekstra, tentu merupakan langkah strategis yang baik bagi bisnis. Hubert yakin bahwa pentingnya bagi sebuah perusahaan untuk update sistem digital, menjadikan transformasi di sektor ini sebagai hal yang utama di tahun 2016

Hubert menyampaikan tren IT APAC 2016

"Transformasi digital menjadi isu dalam bisnis. CIO sekarang bukan hanya posisi yang memerjuangkan perubahan digital, tapi posisi dan divisi lain juga," ujar Hubert. Misalnya, seorang CMO merasa bahwa pemasaran tradisional sudah tidak efektif lagi, maka CMO pun berhak ikut terjun dalam merubah arah pemasaran menjadi lebih modern melalui digitalisasi.

Hubert menjelaskan bahwa ada 5 trend utama yang akan membentuk lanskap IT dan bisnis di Asia Pasifik pada tahun 2016. Yaitu transformasi digital, kota pintar, cross model IT, multicloud, dan terbatasnya keterampilan.

1. Tren Transformasi Digital

Perusahaan tradisional akan menjadi digital native. Melalui perbincangan dengan beberapa CIO di kawasan APAC, Hubert mengaku bahwa para CIO percaya aliran pendapatan perusahaan akan lebih banyak yang bersumber dari jalur digital.Menurut laporan Gartner CIO Agenda Insights, tahun lalu hanya ada 16% CIO yang berharap untuk mendapatkan aliran pendapatan bisnis melalui jalur digital, namun tahun ini angka tersebut meningkat menjadi 37%.

2. Korporasi akan ikut berperan dalam membangun kota pintar (smart city)

Kota pintar belakangan menjadi topik hangat di kawasan APAC. Namun terlihat hanya sedikit pemerintah yang memiliki pengalaman dan anggaran yang memadai untuk membangun dan menjalankan inisiatif kota pintar secara berdikari. Umumnya, mereka akan bermitra dengan pemain di industri yang berinvestasi di bidang internet of things. Menurut Navigant Research, peluang bisnis bagi perusahaan di sektor terkait sangat besar, dengan investasi tahunan kota pintar di bidang teknologi yang dapat mencapai empat kali lipat hingga US$11,3 miliar pada tahun 2023 nanti.

3. Maraknya Penyatuan Model Operasional IT

Saat ini, ada dua model yang dapat diadopsi organisasi IT untuk menjawab kebutuhan perusahaan digital. Model pertama, aplikasi sistem pencatatan tradisional. Seperti CRM dan e-commerce. Sistem ini dibangun di atas prediksi, akurasi, dan ketersediaan sumber daya, sesuai dengan data sensitif yang dimiliki.

Model kedua, sistem insight yang sifatnya lebih eksploratif, seperti analitik big data. Sistem semacam ini memberikan perspektif mengenai apa yang terjadi dalam bisnis, sehingga pengguna daat menguji beberapa hipotesa dengan menggunakan beberapa lapisan data. Model ini lebih tangkas dan cepat.

Kedua model operasional ini, menurut Hubert, jika dipadukan akan memberikan hasil yang maksimal kepada bisnis. Model pertama bekerja untuk mengoleksi data melalui sistem pencatatan dan lalu hasilnya dieksplor oleh model kedua. Tren hibrid semacam ini akan makin marak pada tahun 2016.

4. Utilisasi Multicloud Pada Bisnis Trans-Regional

Sebanyak 70% perusahaan yang ada saat ini menggunakan hybrid cloud, dan menerapkan ketentuan TPP untuk melindungi data offshore. Perluasan peluang pasar di Indonesia dan APAC karena MEA dan TPP akan berdampak pada bagaimana perusahaan menggunakan cloud dan bukan tidak mungkin angka 70% itu akan mengalami peningkatan.

5. Perburuan Talent karena Terbatasnya Tenaga Kerja Berskill

"Upaya untuk menjawab terbatasnya tenaga IT bukan hanya sekedar menghasilkan lebih banyak lulusan IT. Perusahaan perlu dapat menciptakan daya tarik bagi tenaga muda berbakat sekaligus mencari cara untuk meningkatkan produktivitas mereka sebagai karyawan tetapnya, sehingga perusahaan akan mampu menjembatani keterbatasan tenaga IT dalam jangka panjang," ujar Hubert. Tentu saja dengan maraknya perkembangan IT, maka persaingan mencari tenga kerja yang mumpuni di lini ini akan cukup menantang. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)