Windows Store, Marketplace Anyar Pengembang Aplikasi

Norman Sasono, Technical Evangelist untuk Developer & Platform Group Microsoft Indonesia

Sejak diluncurkan 26 Oktober lalu, Windows Store semakin diminati para pengembang aplikasi di berbagai belahan dunia. Indonesia tentu tak luput dari euforia ini. Lebih dari 200 aplikasi pengembang lokal tersedia di toko aplikasi Windows tersebut. Windows Store pun menjadi marketplace baru yang menjanjikan potensi bisnis bagi para pengembang. Nightspade, pengembang permainan asal Bandung termasuk salah satu yang menikmati euforia ini.

Usia Windows Store yang masih belia memberi harapan pengembang negara ketiga untuk maju sejajar pengembang besar seperti Electronic Art, Big Fish, atau Rovio yang populer dengan permainan Angry Bird. Permainan Stack The Stuff bikinan Nightspade pun sempat menjadi feature. Permainan tersebut ditampilkan di halaman muka Windows Store Amerika Serikat selama beberapa hari, mengungguli ratusan ribu permainan yang ada.

Sebagai toko aplikasi besutan Microsoft, Windows Store digadang-gadang sebagai marketplace aplikasi yang tak serumit App Store dan tidak seterbuka Google Play. Menurut Garibaldy Mukti, Chief Marketing Officer PT Nightspade Multi Kreasi, di antara kalangan pengembang aplikasi, populer ungkapan, “Kalau mau make money ke iOS, kalau mau terkenal ke Android.” Maksudnya, apabila sebuah perusahaan pengembang ingin panen uang, maka App Store untuk iOS adalah tempat yang tepat. Namun bila pengembang menghendaki nama perusahaan dan aplikasinya dikenal masyarakat luas, hendaknya memasang aplikasi tersebut di Google Play untuk Android.

App Store dikenal sebagai toko aplikasi yang tertutup. Untuk memasang aplikasi di marketplace tersebut bukan hal yang mudah, apalagi dipampang menjadi feature. Kemungkinannya sangat kecil sekali bagi pengembang yang belum punya nama besar. Terlebih lagi santer terdengar bahwa untuk menjadi feature, harus menyetor dollar yang besarnya mencapai US$ 5 juta.

Google Play memiliki karakter marketplace yang sangat berkebalikan dengan App Store. Sebagai toko aplikasi open source, Google play tentu sangat terbuka bagi siapapun yang hendak menaruh aplikasinya. Bahkan uji kualitasnya bisa dikatakan nol besar. Siapa pun dapat menaruh aplikasinya di sana, termasuk aplikasi yang menyerang keamanan pengguna. “Perbandingan pemasukan untuk developer 1:60, 1 dari Google Play, 60 dari iOS,” tutur Garibaldy kepada reporter SWA Online.

“Microsoft is somewhere in between,” kata Norman Sasono, Technical Evangelist untuk Developer & Platform Group Microsoft Indonesia. Windows Store yang dikembangkan Microsoft memiliki uji kualitas aplikasi yang lebih luwes dari App Store namun lebih aman dibanding Google Play. “Siapapun bisa bikin aplikasi di situ. Tinggal buat akun, upload aplikasi, Microsot akan menguji kualitasnya.”

Meski diklaim lebih mudah dibanding App Store, bukan berarti aplikasi yang diunggah pengembang Indonesia selalu disetujui oleh tim penguji aplikasi Microsoft pusat. “Biasanya ditolak tiga atau empat kali dulu baru di-approve,” ungkap Norman. Uniknya, yang menyebabkan aplikasi lokal ditolak Microsoft ini umumnya bukan perkara teknis yang rumit. Faktor desain lebih dominan jadi penyebab, seperti belum menyertakan privacy statement, pesan yang muncul saat ada eksekusi gagal atau crash, dan hal-hal sepele lainnya.

Di sinilah peran Developer & Platform Group Microsoft Indonesia sebagai jembatan antara pengembang lokal dan Microsoft pusat. “Kami membangun awareness akan peluang bisnis di paltform Windows dengan menggelar pelatihan untuk developer, memberi review kualitas aplikasi sebelum diunggah. Kami juga ke kampus-kampus, meyakinkan bahwa you should jump in. I’ll show you how, teach you how, dan bantu review,” Norman menjelaskan.

Stack The Stuff, aplikasi permainan yang meraup sukses di Windows Store

Norman mencontohkan aplikasi Drug Guide yang dikembangkan pengembang lokal namun diunduh secara luas dari jagat Windows Store. Aplikasi ini memberikan informasi secara detail tentang bahan yang terkandung dalam suatu obat, baik obat luar maupun obat dalam. Informasi yang detail mulai dari manfaat, efek samping, hingga harga, menjadikan Drug Guide aplikasi laris dan sukses memanen pemasukan pasif Rp 2 juta dalam waktu kurang dari dua minggu.

Prestasi Nightspade dengan Stack The Stuff lebih dahsyat lagi. Selama dipromosikan menjadi feature di Windows Store AS, Stack The Stuff diunduh lebih dari 2000 pengguna. Dengan dibanderol US$ 1,49 sekali unduh, artinya Nightspade meraup pemasukan pasif US$ 2.980 atau sekitar Rp 28,6 juta dalam waktu kurang dari sepekan. Uniknya, hanya 1% pengunduh yang berasal dari Indonesia, selebihnya berasal dari AS. Tak heran bila Nightspade pun kemudian berani menaikkan harga hingga US$ 2,49. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)