Tekad LSPR Cetak Lulusan Koumunikasi Berstandar Global

Pendiri & Direktur London School of Public Relations (LSPR), Prita Kemal Gani.

Langkah ekspansi yang cukup berani dilakukan oleh London School of Public Relations (LSPR), dengan membangun kampus barunya di Transpark, Bekasi Timur. Gedung ini nantinya akan menjadi tempat menimba ilmu bagi ribuan mahasiswa.

Menurut Pendiri & Direktur London School of Public Relations, Prita Kemal Gani, pembangunan LSPR Transpark tak hanya serta merta membangun sebuah gedung kampus, tetapi juga membangun masa depan generasi muda Indonesia. “Gedung kampus ini merupakan tulang punggung dalam menciptakan generasi muda penerus bangsa,” ungkapnya.

Kampus LSPR Transpark ini dibangun khusus untuk jurusan Performing Arts of Communication, Digital Media Communication, Entrepreneurship, Hospitality Management & MICE, Mass Communication dengan dua sub konsentrasi: Digital Film Making & Broadcast Journalism. Nantinya LSPR Transpark akan memiliki 12 lantai dan di dalamnya terdapat 33 ruang kelas yang akan digunakan dalam tiga shift (pagi, siang, sore).

Di dalam gedung ini juga ada lima studio, diantaranya TV Studio & Film Production, Post Production & Animation, Studio Recording & Mixing, Studio Radio and Life Drawing Studio. Kampus ini juga dilengkapi dengan perpustakaan serta auditorium yang dapat menampung +400 orang dan masih banyak fasilitas lainnya yang disiapkan untuk kenyamanan proses belajar-mengajar di LSPR.

LSPR bisa dibilang menjadi acuan yang ingin berkecimpung di dunia komunikas. Perguruan tinggi yang dibangun oleh Prita Kemal Gani berawal dari sebuah ruang di Wisma Metropolitan, Jakarta Selatan seluas 12 m2. Prita mengawali LSPR dari sebuah kelas program khusus singkat public relations dengan masa pendidikan 4 bulan. Ia sangat concern akan langkanya tenaga kehumasan pada saat itu.

Berbekal pengalamannya bekerja dan latar belakang pendidikan Public Relations di London City College of Management Studies, London, ia berkeinginan mencetak lulusan terbaik di bidang kehumasan. “Waktu itu kampus LSPR pindah dari Wisma Metropolitan ke Intiland, karena tidak muat. Lalu, mendapat ruang di Gedung Dewan Pers. Selanjutnya, pindah lagi ke Gedung Bimantara (sekarang Gedung MNC), kemudian pindah ke Sudirman Park dari hanya dua ruko sekarang kami menempati luas 4.500 m2,” kenang Prita.

Selain di Sudirman Park, sekarang LSPR juga menempati lantai 6 hingga 9 Intiland Tower Jakarta dengan luas 2.500 m2. Tidak hanya di dua gedung itu, kini LSPR juga memiliki kampus di Renon Bali, serta nantinya yang terbaru di TransPark, Bekasi Timur dengan luas 7.500 m2.

Sejak awal membuka LSPR, Prita menuturkan, kuncinya fokus dan selalu berpikir memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan industri. “Selama dikembangkan terus, orang akan mencari. Terbukti, orang banyak yang ingin belajar ilmu Komunikasi ke LSPR. Kami bisa dibilang saat ini menjadi trendsetter karena selalu berpikir inovatif,” jelasnya mengklaim.

LSPR dibangun dengan tujuan agar masyarakat Indonesia terutama generasi muda memiliki wawasan internasional. Sejak awal berdiri, LSPR sudah menggandeng institusi atau lembaga akreditasi di Inggris, agar silabus-silabusnya berstandar internasional. Begitu juga dengan dosennya, walau butuh perjuangan untuk membawa dosen asing ke Indonesia agar bisa mengajar. “Bukan saja dari segi biaya, juga dari segi fasilitas yang harus kami tanggung, menyangkut perizinan mereka juga sulit. Semua ini kami upayakan agar anak-anak merasakan bagaimana diajarkan dosen luar negeri,” terangnya.

Selain itu agar mahasiswa yang belajar di LSPR merasakan interaksi global, pihaknya juga mengupayakan agar mahasiswa luar negeri dapat belajar di perguruan tinggi ini. Tidak heran dalam satu kelas di LSPR pasti ada mahasiswa luar negerinya. Ini menjadi program pertukaran mahasiswa yang sudah dijalankan bertahun-tahun. “Kami juga melakukan exchange lecturer, serta dosen Indonesia kami upgrade untuk mengajar di luar negeri,” ujarnya.

Prita ingin standar LSPR diakui internasional, hingga ijazahnya juga. Namun, baginya, dari semua itu yang terpenting adalah kualitas lulusannya. Fokus LSPR hingga saat ini lebih banyak ke praktis. Di LSPR lebih banyak praktik, setiap mata kuliah harus melahirkan hasil praktiknya. Teori dan riset penting, LSPR memosisikannya sebagai dasar dari praktiknya. Misalnya mata kuliah metodologi penelitian kuantitatif, output-nya harus ada proyek yang diwujudkan.

Setiap tahun LSPR mengadakan PR Festival, merupakan proyek mahasiswa untuk semester I dan II. Tahun lalu, LSPR bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata. “Kami mendorong mereka membuat 10 proyek yang ditujukan ke 10 destinasi Bali Baru,” ungkapnya. Dan tahun ini, PR Festival terkait dengan aplikasi dan ditawakan ke Plaza Indonesia yang akan dibuatkan 10 proyek kampanye terkait kuliner, fesyen dan sebagainya.

LSPR juga menyediakan layanan e-learning yang memungkinkan mahasiswa dari Dubai untuk mengikuti program perkuliahan. Hampir 50 ribu orang yang bekerja di UEA, seperti di Sarjah, Oman, Dubai, dan sekitarnya. Ini menjadi potensi bisnis, selain untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia. “Karena TKI kalah dengan tenaga Filipina, padahal TKI memiliki kelebihan lebih tahan, ulet, dan ramah. Kita ketinggalan dalam segi pendidikan, sedangkan Filipina itu kuliah dibantu pemerintah. Akhirnya banyak TKI susah naik promosi karena latar belakang pendidikannya,” jelasnya.

Selain itu, e-learning menyasar TKI yang bekerja di Korea Selatan, Taiwan dan Malaysia. Mereka menjadi mahasiswa online LSPR yang belajar ilmu Komunikasi. Menurut Prita, studi Komunikasi itu bisa digunakan di segala bidang. Dengan online memudahkan semua, mahasiswa juga tidak membayar mahal, visiting lecturer dihadirkan di sana. Mereka juga bisa belajar melalui video yang bisa diputar ulang untuk memperkuat.

Ke depan, Prita ingin menjadikan LSPR ikon public relations bukan hanya di Indonesia, saja tetapi hingga ASEAN. Ia juga berinisiatif mengundang tokoh-tokoh PR yang terbaik di seluruh Asia Tenggara, lalu membuat asosiasi yang dinamakan ASEAN PR Network. “Melalui ASEAN PR Network, kami membantu sekolah-sekolah untuk kurikulum PR, antara lain di Vietnam dan Myanmar,” ungkap wanita yang juga menjadi Ketua ASEAN PR Network ini.

Reportase: Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)