Teknologi Agro Dorong Produktivitas Sektor Pertanian

Pengembangan teknologi di sektor pertanian perlu dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak

Perkembangan dan tantangan teknologi di bidang pertanian saat ini sudah semakin berkembang. Terlihat dari banyaknya generasi muda yang peduli terhadap nasib petani dan banyak perusahaan berbasis teknologi agro mulai hadir di Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, komunitas investor Bizcom kembali menggelar diskusi dengan perusahaan rintisan digital (startup) dengan topik “Roadmap of Agrotech in Indonesia”.

Bob Hardian, Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, mengatakan, tantangan ke depan, tepatnya di tahun 2050, dunia harus memproduksi makanan 70% lebih banyak dari pada sekarang. Hal ini disebabkan adanya penduduk yang bertambah, lahan pertanian menyempit, dan tenaga kerja di bidang pertanian berkurang. Tantangan ke depannya adalah bagaimana manusia menghemat sumber daya alam dan mengurangi pencemaran lingkungan.

Selain itu, melihat situasi agrobisnis sekarang, maka sudah perlu dilakukan revolusi Agriculture 4.0, aspek yang bisa diterapkan adalah produksi dengan teknik baru dan teknologi lintas industri. Produksi teknik baru ini meliputi penggunaan sistem hydroponics, pembudidayaan alga, dan bioplastik untuk pengemasannya. Bob berharap, ke depannya, pertanian bisa dilakukan di area gurun dan pertanian di air laut.

“Teknologi lintas industri ini antara lain seperti teknologi drone, data analytics, Internet of Things dan pertanian presisi. Ke depannya, pertanian bisa dilakukan melalui block chain, Artificial Intelligence dan food sharing. Bahkan di masa masa depan, akan banyak penelitian dan produk terkait modifikasi genetika, pembudidayaan daging (cultured meat) serta penerapan cetak 3D ke makanan,” imbuhnya.

Edi Sensudi, Asdep Agribisnis Kemenko Bidang Perekonomian RI, memaparkan, bahwa data di tahun 2018, dengan populasi penduduk Indonesia sebesar 264 juta orang, membutuhkan 33,47 juta ton hasil agrikultur untuk mereka konsumsi. “Produksi di Indonesia sudah tinggi, namun masih dilakukan impor. Adapun juga penetapan harga yang murah bagi komoditi untuk ekspor, dan masih banyak lagi,” ujar Edi.

Anne Sri Arti, CEO Rajatani, menyoroti kondisi pertanian di Indonesia saat ini, nyatanya masih banyak lahan terbentang, sumber air tersedia, agroklimat mendukung, bibit/pupuk masih impor, petani rata-rata berusia 50 tahun keatas, potensi pasar besar, dan minimnya pendampingan dari para ahli.

“Saya bangga sudah banyak anak muda yang melakukan inovasi teknologi dan mempertemukan semuanya, namun hingga saat ini masih kurang pembimbingan kepada grass root. Rendahnya pengetahuan akan pertanian pun akan berdampak pada rendahnya produksi. Bertani itu sangat menguntungkan, apalagi bisa dibantu dengan teknologi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Saya harap dengan dilakukannya upaya ini dapat memajukan pertanian di Indonesia ke depannya,” tegas Anne.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)