Temuan-temuan Penting Saat Penjurian IT & Telco 2018

Bagi pelaku bisnis, penggunaan solusi digital IT & Telco sudah menjadi salah satu kebutuhan utama jika tidak ingin terlibas di era digital yang disruptif. Untuk mendorong kebehasilan peningkatan implementasi dan pemanfaatan solusi TI Telco berbasi digital di Indonesia, maka diselenggarakanlah kegiatan penilaian dan penghargaan Top IT & Telco 2018 oleh majalah IT Works (sebelumnya Itech).

Dalam Top & IT Telco 2018 atau penghargaan kelima kalinya ini tema yang diusung adalah Great IT for Great Business & Government. Artinya, dengan membangun solusi IT & Telco yang hebat, maka kita akan dapat membangun bisnis dan pemerintahan yang hebat pula, terutama dalam mengadapi era digital yang bersifat disruptf ini.

Lutfi Handayani, MM., MBA, Ketua Penyelenggara sekaligus Pemimpin Redaksi majalah IT Works, mengklaim, banyak manfaat yang diperoleh peserta dalam kegiatan ini. Sebut saja Nilai Tambah”. Sesi ini berupa pendapat, saran, dan masukan dari dewan juri kepada peserta untuk pengembangan solusi IT & Telco ke depannya bagaimana. Sesi Nilai Tambah diberikan kepada peserta, pada saat mengikuti wawancara penjurian. Selain itu, peserta dapat belajar dari peserta lainnya, karena dapat mengikuti presentasi peserta lainnya yang bukan kompetitor bisnis. “Banyak peserta yang sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan ini, karena seolah mendapat konsultasi IT gratis,” dia menambahkan.

Kegiatan Top IT & Telco 2018 diikuti oleh 200 perusahaan dan instansi yang direkomendasikan oleh para pakar IT Telco, lalu terpilih 150 perusahaan finalis. Menurut Lutfi, ada 3 metode penilaian yang dilakukan. Pertama, Kuesioner dan wawancara penjurian untuk menilai keberhasilan implementasi dan pemanfaatan solusi TI Telco. Kedua, kuesioner dan riset tentang rekomendasi user IT Telco untuk penilaian kategori Business Solution. Ketiga, market research di 6 kota besar yaitu Jabodetabek, Surabaya, Semarang, Medan, Makasar, dan Balikpapan, untuk mendapatkan index penilaian pelanggan atau masyarakat terhadap produk-produk IT Telco yang bersangkutan.

Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin MSc. MEng., Ketua Dewan Juri Top IT & Telco 2018, menyampaikan beberapa temuan penting selama proses penilaian berlangsung terkait implementasi TI di perusahaan dan instansi pemerintahan.

Selain fokus pada pengembangan aplikasi dan solusi TI Telco, sebaiknya manajemen perusahaan dan instansi pemerintahan, juga harus membangun IT Culture, agar pemanfaatan solusi IT Telconya menjadi maksimal. “Perhatian terhadap pengembangan IT Culture, dinilai masih belum maksimal. Semahal dan sehebat apapun fitur aplikasi/ solusi bisnis yang dikembangkan, akan menjadi tidak maksimal dalam pemanfaatannya jika IT Culture tidak dibangun dengan lebih serius,” ujar Laode di Jakarta (6/12/2018).

Menurut Laode, IT Security masih belum menjadi prioritas sebagian peserta. Serangan terhadap keamanan sistem IT harus diwaspadai. Aktivitas operasional kita jangan sampai terganggu atau bahkan berhenti, hanya karena sistema keamanan IT kita masih lemah.

Oleh karena itu, dewan juri merekomendasikan penggunaan Blockchain dalam pengembangan solusi digital ke depan. Blockchain dirancang agar aman (secure by design) dan merupakan contoh sistem komputasi terdistribusi dengan Byzantine Fault Tolerance (BFT) yang tinggi sebagai smart contacts. Konsensus terdesentralisasi dapat dicapai dengan blockchain yang membuat teknologi ini cocok untuk merekam peristiwa, catatan medis, catatan transaksi keuangan digital, dan aktivitas pengelolaan record lainnya. Seperti manajemen identitas, pemrosesan transaksi keuangan, dokumentasi barang bukti, pelacakan (tracking system), hingga aplikasi sistem pemerintahan seperti pemungutan suara (voting) yang membutuhkan sistem keamanan tinggi.

Teknologi Blockchain difungsikan sebagai buku besar publik secara digital untuk semua transaksi yang terjadi dalam jaringan. Blockchain dikelola oleh sebuah jaringan secara kolektif dengan mengikuti protokol tertentu untuk komunikasi antar node dan mengkonfirmasi blok-blok dari pengguna.

Pentingnya sinkronisasi dan integrasi aplikasi yang didevelop oleh Pemerintahan Pusat, yang digunakan/ diinput oleh instansi daerah. Ada sekitar 45 aplikasi dari beberapa kementerian dan lembaga di pusat, yang harus digunakan dan diinput datanya oleh instansi di daerah. Begitu data sudah ditarik ke pusat, maka ketika Pemda memerlukan data yang sama, mereka harus melakukan input data ulang. Selain menjadi tidak efisien karena harus melakukan input data dua kali, data yang dihasilkan pun seringkali berbeda. Jadi tidak heran, jika data masing-masing instansi di negeri ini, seringkali berbeda. Oleh karena itu perlu ada Goverment Platform untuk aplikasi-aplikasi layanan publik.

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius agar Government platform ini dapat berjalan lebih efektif, di antaranya: penguatan payung hukum ditingkat pelaksanaan. Lalu, kepastian ketersediaan sumber daya berupa anggaran, tim, dan infrastruktur. Juga, strategy to public (atau mengomunikasikan dan mengedukasi publik sebagai pengguna aplikasi).

Penanggung jawab aplikasi harus disesuaikan dengan Tupoksi OPD-OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait. Seperti yang dijelaskan dalam Perpres SPBE, bahwa aplikasi ada yang bersifat ‘generik” yang disiapkan oleh pusat untuk daerah, dan ada aplikasi yang disiapkan daerah itu sendiri. Hal harusnya dapat diintegrasikan. Infrastruktur utk GSI - Government Secured IntraNet harus disiapkan dan dioperasikan oleh satu OPD aja, tapi dapat dipakai oleh semua OPD.

Nah, terkiat penghargaan IT & Telco 2018, kata Lutfi, ada beberapa kategori. Pertama, Top IT Implementation, yang dibagi dalam beberapa sektor usaha. Kedua, Top Business Solution yang diberikan kepada principal/vendor global dan lokal, yang penilaiannya dilakukan melalui rekomentasi user IT & Telco di Indonesia. Solusi bisnis yang paling banyak direkomendasikan oleh perusahaan/user, ditetapkan sebagai Business Solution yang terbaik, sehingga mendapatkan penghargaan. Ketiga, Top IT & Telco Hardware yang penilaiannya dilakukan melalui riset pasar, khusus untuk produk hardware dan telco. Peserta berkesempatan untuk mendapatkan hasil analisis market research setebal 120 halaman.

Kategori keempat, adalah kategori khusus di mana dewan juri memberikan penghargaan atas inovasi-inovasi tertentu, yang layak diapresiasi. Sedangkan kelima, adalah kategori Top Digital Transformation Readiness, yakni indeks kesiapan perusahaan dan instansi pemerintahan dalam melakukan tranformasi digital.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)