Ternyata 25% Milenial Tak Percaya Diri Hadapi Industri 4.0

Menghadapi tantangan dalam Industri 4.0, sebanyak 25 persen kaum milenial di Asia Tenggara menunjukkan pesimisme. Mereka tak siap hadapi perubahan, dan ingin dunia bisnis membantu mereka mengembangkan keterampilan yang diperlukan agar berhasil.

Temuan ini diungkapkan Survei Milenial Tahunan Deloitte ke-7 yang dilakukan di tahun 2018 dengan 10.455 responden  kaum milenial dan hampir 1.850 responden Gen Z di 36 negara. Pendapat kedua generasi ini juga menunjukkan penurunan tingkat loyalitas, ketidakpercayaan pada motivasi dan etika pebisnis masa kini, serta kecenderungan mereka pada gig economy.

Hasil survei tahun ini menunjukkan bahwa perubahan sosial, teknologi dan geopolitik yang dengan cepat terjadi pada tahun lalu berdampak pada pandangan kaum milenial dan Gen Z. Hal ini menurut Punit Renjen, CEO Deloitte Global, seharusnya menjadi peringatan bagi para pemimpin dunia.

“Kedua generasi ini merasa pebisnis menempatkan diri terlalu tinggi dalam agenda perusahaan tanpa mempertimbangkan kontribusi terhadap masyarakat luas. Jika ingin mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan dari para pekerja kaum milenial dan Gen Z, dunia bisnis perlu mengidentifikasi cara mempengaruhi masyarakat sekitar secara positif dan fokus terhadap isu-isu seperti keanekaragaman, inklusivitas dan fleksibilitas,” katanya.

Hasil dua survei tahunan Deloitte sebelumnya menunjukkan sikap kaum milenial yang positif terhadap motivasi dan etika bisnis. Namun pada tahun 2018, terjadi perubahan dramatis. Kini opini mereka terhadap bisnis mencapai level terendah selama empat tahun terakhir. Saat ini, hanya 42 persen dari kaum milenial yang percaya bahwa etika diberlakukan dalam dunia bisnis. Jumlah ini berkurang cukup signifikan dibandingkan angka 65 persen pada tahun 2017. Selain itu di tahun ini 47 persen dari responden percaya komitmen para pebisnis membantu memperbaiki kondisi sosial masyarakat, yang juga mengalami penurunan dibandingkan 62 persen pada tahun sebelumnya.

“Tingkat loyalitas yang berubah-ubah menunjukkan adanya peluang unik bagi bisnis untuk melipatgandakan kemampuan dalam mempertahankan tenaga kerja,” ungkap Michele Parmelee, Deloite Global Talent Leader. “Dunia bisnis perlu mendengarkan apa yang dikatakan generasi milenial kepada kami dan memikirkan kembali pendekatan bisnis mereka dalam manajemen tenaga kerja di Industri 4.0, membuat fokus baru pada pembelajaran dan pengembangan untuk membantu semua orang bertumbuh dalam karir mereka sepanjang masa hidup,” tambahnya.

Senada dengan kedua pendapat tersebut, Claudia Lauw Lie Hoeng, Deloitte Indonesia Country Leader, menanggapi hasil survei ini dengan mengajak para pemimpin bisnis untuk melakukan instrospeksi. ”Berkat pandangan skeptis generasi milenial, para pebisnis tidak lagi bisa melakukan business as usual, untuk bisa survive di masa depan yang penuh ketidakpastian, kita dituntut untuk mampu keluar dari zona nyaman, dan melihat lebih kritis lagi cara kerja dalam bisnis masing-masing dan juga dampak positif yang bisa kita berikan baik bagi karyawan maupun bagi dunia secara lebih luas,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!