Terobosan Elvyn G Masassya Pimpin Pelindo 2, Ingin Wujudkan IPC Platform Trade Facilitator

Tim observer GCG bersama jajaran direksi dan komisaris Pelindo 2.

Salah satu terobosan terbaru PT Pelindo 2 (Indonesia Port Corporation/IPC) di bawah kepemimpinan Elvyn G. Masassya adalah program IPC goes to digital. “Kapal-kapal yang datang ke Pelabuhan Tanjung Priok, sejak mereka berangkat, barang apa yang dibawa dan mau merapat berapa lama, kami sudah tahu. Ini seperti memesan kamar hotel. Proses untuk pembayaran juga sudah online. Menghitung kontainer juga sudah digital sekarang.  Proses pembayaran di kami sejak dua tahun lalu sudah non-cash. Semua tidak ada uang tunai,” tutur Elvyn  di hadapan tim observer Good Corporate Governance (GCG) dari IICG dan SWA yang menyambangi kantornya awal Oktober lalu.

Kunjungan tim observer GCG ke kantor IPC yang ditemui jajaran direksi dan komisaris adalah untuk melakukan diskusi dan klarifikasi terkait penerapan GCG di BUMN tersebut.  Dalam hal ini, IPC sedang mengikuti program pemeringkatan GCG 2019 yang diselenggarakan IICG bersama SWA.

Lebih lanjut Elvyn menjelaskan pencapaian lain yang ia nilai cukup membanggakan, yaitu  untuk pertama kalinya Pelabuhan Tanjung Priok telah menjadi transhipment port.  “Dulu semua aktivitas ekspor dengan tujuan  Eropa atau Amerika, harus ke Singapura dulu.  Barang  lalu dipindah ke kapal besar di sana, baru ke luar negeri. Sejak 2 tahun lalu, khususnya tahun kemarin, kami sudah punya direct call ke lima benua. Ini pionir transhipment port di Indonesia,” tambah Elvyn.

Elvyn G. Masassya, Dirut Pelindo 2. “Kami ingin mewujudkan IPC sebagai trade fasilitator di bidang logistik dan transportasi.”

Dampaknya, menurut Elvyn, kalau dilihat dari sisi  revenue, profitabilitas,  bottom-line, dan cost, semua mengalami perbaikan. Pendapatan operasi naik dari Rp 10,6 triliun pada 2017 menjadi Rp 11,44 triliun tahun 2018. Laba bersih tahun berjalan naik dari Rp 2,21 triliun tahun 2017 menjadi Rp 2,43 triliun tahun 2018.  Ekuitas naik dari Rp 13,95 triliun menjadi Rp 16,3 triliun.  Sedangkan  total aset  naik dari Rp 47,22 triliun menjadi Rp 51,43 triliun pada periode yang sama.

Menurut Elvyn, penerapan Digital Port  secara komprehensif telah membuat semua pencatatan menjadi lebih akurat dan mempercepat proses bisnis  sehingga biaya logistik menurun.  

Di luar itu pihaknya juga terus melakukan investasi  untuk pengembangan pelabuhan. “Kami berencana membangun kanal baru dari Cikarang ke Bekasi. Kanal seperti ini mungkin yang pertama di Indonesia. Kalau di Priok ini membawa barang, selama ini lewat jalur darat. Itu semakin banyak akan menimbulkan kemacetan. Jadi kami berinisiatif memberikan opsi, selain lewat darat, juga lewat kanal,” paparnya.   

Selain itu IPC juga tengah membangun jalan tol untuk memudahkan distribusi dari Tanjung Priok ke arah Jawa Barat. “Ini kami bersama-sama dengan Waskita Karya,” jelas Elvyn.

Dari sisi sumber daya manusia, menurut Elvyn, pihaknya membuat culture baru dan stakeholder magement. Elvyn juga ingin mewujudkan visi 2020 IPC sebagai world class port operator. “Banyak pihak menafsirkan bahwa world class itu kami punya foodprint di seluruh dunia. Saya mendefinisikan dengan pendekatan  yang berbeda. World class port itu adalah standarisasi kita dalam pengelolaan pelabuhan harus sama dengan standar pelabuhan-pelabuhan di dunia. Dan itu diwujudkan dari aspek-aspek di operation dan services dengan parameter kelas dunia,” tandasnya.

Lebih dari itu Elvyn mengatakan bahwa visi IPC itu dinamis.  Karena itu ia menyiapkan visi 5 tahun ke depan menjadi beyond port. “Karena ternyata port ini hanya salah satu elemen value chain logistik. Jadi, kami pikir tidak cukup berhenti di port saja, kita kembangkan menjadi trade fasilitator di bidang logistik dan transportasi.  Obsesinya adalah menurunkan biaya logistik,” ujarnya meyakinkan.

Menurut Elvyn, Pemerintah mengharapkan  dalam 5 tahun ke depan biaya logistik akan turun dari 22 persen menjadi 18 persen. “Kami ingin andil di sana untuk turut serta menurunkan logistic cost dengan bertransformasi menjadi trade facilitator. Ini basisnya e-commerce.  Jadi kalau selama ini kami hanya mengerjakan port, nanti akan menjadi IPC platform dimana seluruh pelaku dari laut, terminal, transportasi, dan gudang berada dalam satu platform.  Dan IPC platform sebagai trade facilitator,” tambahnya.

Menurut Elvyn basis dari IPC platform adalah e-commerce seperti Traveloka atau  Gojek.  Dengan demikian, pelanggan yang mau ekspor akan bisa memilih gudang, kapal dan jasa-jasa lainnya.  “Ini akan menurunkan rantai distribusi. Hitungan kami dari sisi logistik akan menurunkan biaya sekitar 20 persen.”

Untuk mewujudkan trade facillitator, IPC akan terintegrasi dengan kawasan industri dan kapal. “Kami menyebutnya trilogi maritim atau integrated port network.  Ini  mengubah pola bisnis dari port to port menjadi dock to dock,” jelas Elvyn.  

Terkait dengan implementasi GCG, Elvyn menjelaskan IPC sejak awal telah membuat roadmap GCG secara sungguh-sungguh dan terintegrasi di seluruh anak perusahaan.  IPC juga  menyediakan whistle blowing system (WBS) lewat aplikasi. “Karyawan  bisa melapor  jika ada hal-hal kurang pas di WBS. Siapa saja boleh dan nanti ada tim yang mengelola bersama pihak eksternal supaya independen,” jelas Elvyn.

Saat ini IPC membawahkan 17 anak perusahaan dan mengelola 12 pelabuhan di Indonesia.***

Editor: Sujatmaka

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)