Terobosan Propan Raya Melestarikan Arsitektur Nusantara

Presdir PT Propan Raya Hendra Adidarma menyerahkan cinderamata kepada Bupati Sleman Sri Purnomo (baju hitam) pada pembukaan Indonesia Architecture Creative Forum di Hotel Sahid Sleman, Yogyakarta

Peran serta dunia usaha untuk perkembangan arsitektur Nusantara tak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini dibuktikan oleh PT Propan Raya. Perusahaan yang bergerak di industri cat ini memiliki komitmen kuat untuk mendukung perkembangan arsitektur Nusantara. “Kami mendukung penuh setiap upaya untuk menjaga kelestarian dan pengembangan arsitektur Nusantara,” kata Presdir Propan Raya, Hendra Adidarma di Hotel Sahid Jogja.

Setelah secara konsisten meyelenggarakan sayembara desain arsitektur Nusantara dan roadshow desain arsitektur Nusantara, Propan Raya baru saja mengadakan gelaran arsitektur terbesar tahun ini. Namanya Indonesia Architecture Creative Forum (IACF) yang dilangsungkan di Hotel Sahid Sleman, Yogyakarta. “Kami mengundang banyak pihak yang berkomitmen untuk mengembangkan arsitektur Nusantara,” kata Hendra.

Sebagaimana diungkapkan, IACF merupakan rangkaian acara Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2018 yang diselenggarakan oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN). ICCF tahun ini merupakan perhelatan keempat. Sebelumnya, telah berlangsung di Solo (2015), Malang (2016) dan Makassar (2017). ICCF 2018 berlangsung pada 15-19 Oktober. Sedangkan untuk IACF berlangsung pada 16 Oktotober. “Kami bersyukur karena banyak respon positif dari berbagai kalangan,” ujar Hendra.

Menurut Hendra, penyelenggaraan IACF merupakan bentuk komitmen dari perusahaan cat yang didirikannya, dalam upaya memajukan dunia arsitektur di Indonesia. Peran nyata PT Propan Raya dalam upaya melestarikan dan memajukan arsitektur Nusantara memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Tak berlebihan rasanya bila Mentri Pariwisata Arief Yahya menobatkan perusahaan cat yang berdiri sejak 1979 ini sebagai lokomotif pengembangan Arsitektur Nusantara.

Bagi Hendra, menggeluti dunia arsitek Nusantara bukanlah hal yang baru. Sejak mendirikan pabrik cat sepulang dari Jerman tahun 1979 silam, ia sudah mulai tertarik untuk menghasilkan produk cat yang bisa diaplikasikan untuk merestorasi bangunan berciri khas Nusantara. “Sudah lama kami bergerak untuk menyelamatkan arsitektur Nusantara,” imbuhnya.

Sejak awal, produk cat yang dihasilkannya tidak sekadar memperkuat, tapi juga memperindah. Pada umumnya, karya arsitek asli Indonesia terbuat dari bahan kayu, karena itulah perlu perlakuan khusus untuk merawatnya. “Kemampuan kami adalah menghasilkan produk cat berkualitas untuk diaplikasikan di luar ruang yang rentan terhadap perubahan cuaca,” tegasnya.

Dari komitmen tersebut, lahirlah cat dengan warna khas Nusantara yang inspirasinya memang didapat dari keindahan budaya negeri ini. Penamaan warnanya pun khas, seperti Pusako Minang Sumbar, Gelora Toraja, Si Paru Paru Bumi Kalimantan, Eksotika Bali, Etnika NTB dab Karisma Yogyakarta.

Karena kemampuan menghasilkan produk cat yang berkualitas, PT Propan Raya juga pernah melakukan kegiatan Konsorsium Kota Tua Jakarta bersama Dinas Pariwisata Provinsi DKI dan merevitalisasi Kota Tua Jakarta. Selain itu juga melakukan pengecatan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Mendukung pelestarian budaya dan arsitektur tradisional Wae Rebo.

Hendra mengungkapkan, pihaknya terus melakukan invosi, bukan hanya pada produk saja, tetapi juga pada kegiatan dan program CSR (corporate social responsibility). Salah satuya adalah Sayembara Desain Arsitektur Nusantara.

Dari sayembara tersebut, muncul karya arsitektur berbagai ragam bentuknya, ada yang restoran khas Nusantara, bandara udara, bangunan publik, dll. “Saat ini ada beberapa bandara yang dibangun dari desain arsitektur pemenang lomba. Pemertintah yang membangun kami yang mendukug dengan menyediakan catnya,” tutur Hendra.

Dengan hasil positif tersebut, Propan Raya akan terus mendukung kegiatan yang bertujuan mengangkat kejayaan Arsitektur Nusanbtara di panggung nasional maupun internasional, seperti kegiatan IACF yang baru saja berlangsung di Yogjakarta.

Sementara itu, Direktur PT Propan Raya, Yuwono Imanto mengungkapkan ICCF diadakan setiap tahun oleh ICCN yang beranggotakan 160 kabupaten kota kreatif se Indonesisa. Festival ini selalu dihadiri oleh komunitas, pelaku usaha, penggiat kota, akademisi dan pemerintah daerah. Tahun ini, ICCF mengambil tema Holopis Kutha Baris. “ Ini sebuah undangan agar kota-kota berjejaring dan bersinergi untuk mewujudkan hal besar bersama yaitu Indonesia yang kaya dengan karya,” kata Yuwono Imanto yang juga Dewan Pengarah ICCN.

Pada pagelaran perdananya, IACF mengusung tema “Be Creativepreneur in Architecture Today with Local Genius. “Tema ini bertujuan untuk mengobarkan semangat kepada arsitek muda di Tanah Air untuk mengibarkan arsitektur Indonesia di kancah nasional maupun internasional, “ ujar Yuwono.

Lebih lanjut diungkapkan bahwa lewat event ini, PT Propan Raya ingi menularkan semangat kepada arsitek-arsitek muda Indonesia untuk terus menjaga, melestarikan dan mengkinikan arsitektur Nusantara. “Tidak ada cara lain untuk membela arsitektur Indonesia, kecuali para lulusan arsitek tetep fokus menjalani dunia kearsitekannya dan membuka kantor arsitek sendiri maupun menjadi profesioal dengan mengangkat nilai-nilai budaya Indonesia dalam karya arsiteknya,” tegasnya.

Untuk mendukung acara IACF tersebut, PT Propan Raya bekerja sama dengan ICCN,ICCF, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Ikatan Isyinyur Indonesia dan Yogyakarta Young Architect Forum (IYAF) serta beberapa media partner. Kegiatan yang dibuka Bupati Sleman Sri Purnomo ini menampilkan sejumlah nara sumber dari kalangan pakar, praktisi, maupun pembicara dari BEKRAF.

Arif Budiman, selaku Presiden ICCF, mengungkapkan kegiatan ini memberikan kontribusi positif bagi kemajuan arsitektur daerah. “Peran arsitektur dalam menguatkan jati diri dan karakter kota sangat strategis,“ Arif menegaskan.

Gigin W Utomo.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)