Terregra  Investasi US$ 72 juta, Bangun Pembangkit Mini Hidro di Sumut

Untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, Pemerintah mencanangkan proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW).  Data PT PLN (Persero) per Maret 2017, tercatat setidaknya perlu ada tambahan kapasitas listrik sebesar 7.000 MW per tahun. Artinya, penambahan kapasitas 35.000 MW dalam 5 tahun (2014-2019) menjadi proyek yang harus terealisasi untuk menghindari krisis listrik di tanah air.

Djani Sutedja, Presdir PT Terregra Energy Asia

Belum lagi, berdasarkan data Kementerian ESDM, saat ini terdapat 2.519 desa yang belum dialiri listrik. PLN hanya mampu mengalirkan listrik di 504 desa hingga tahun 2019, atau hanya bisa memfasilitasi 20% dari total desa yang belum memiliki listrik.

Tahun 2019, pemerintah memasang target rasio elektrifikasi ambisius; yakni 97%, naik dari akhir tahun 2016 sebesar 91,16%. Dengan adanya proyek 35.000 MW, Pemerintah berharap rasio elektrifikasi semakin meningkat.

Tentunya tanggung jawab penambahan kapasitas dan meningkatkan rasio elektrifikasi tak bisa hanya PLN, dan melibatkan peran swasta. Adanya Peraturan Menteri ESDM Nomor 38 Tahun 2016, regulasi ini membuka keran bagi swasta untuk bisa melakukan usaha penyediaan listrik, yang terdiri dari pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penjualan listrik ke konsumen dalam skala kecil. Peran swasta pun mulai tampak di proyek 35.000 MW di mana swasta dilibatkan bersama PLN untuk membangun 109 pembangkit.

Selain keterlibatan di proyek prestisius tersebut, swasta juga didorong untuk membangun pembangkit listrik yang menggunakan energi baru terbarukan (EBT) guna mencapai program pembangunan infrastruktur kelistrikan. Potensi yang bisa disasar yakni geothermal, energi hidro, dan mini hidro

Hal inilah yang menjadi daya tarik PT Terregra Asia Energy Tbk, untuk membangun  pembangkit listrik tenaga mini hidro di Sumatra Utara. Menurut Djani Sutedja, Direktur Utama PT Terregra Asia Energy Tbk, menggarap empat proyek pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH) di Sumatera Utara di antaranya di Batang Toru dan Raisen.

Proyek yang menelan investasi sekitar US$ 72 juta ini, diharapkan menghasilkan listrik dengan total kapasitas 34,9 MW. “Investasi untuk mini hidro sekitar US$ 2 juta-2,5 juta per MW.  Saat ini pembangkit listrik masih dalam tahap konstruksi dan diharapkan rampung di semester II-2019,” kata Djani.

Selain itu, Terregra sedang mempersiapkan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di kawasan Indonesia Bagian Timur (IBT), khususnya dengAn tenaga sinar matahari. Karena besarnya potensi pengembangan EBT di kawasan Timur Indonesia  yang masih belum tergarap dengan baik.

Sebagai holding company, Terregra memiliki dua anak usaha yakni PT Terregra Hydro Power (THP) yang membidangi PLTA Air serta PT Terregra Solar Power (TSP) di bidang pembangkit listrik tenaga surya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Subsidi Listrik Tepat Sasaran, 18,2 Juta Pelanggan Tidak Lagi Disubsidi

Pemerintah menegaskan hingga saat ini tarif listrik pelanggan rumah tangga 450 Volt Ampere (VA) tetap disubsidi sebagai upaya penertiban subsidi...

Close