The Lancet: Penyakit Kronis dan Kegagalan Kesehatan Publik Perbesar Pandemi Covid-19

Kebanyakan penelitian global komprehensif—yang menganalisis 286 penyebab kematian, 369 jenis penyakit dan cedera dan 87 faktor risiko di 204 negara dan wilayah—mengungkapkan seberapa baik penduduk dunia dipersiapkan dalam hal kesehatan pokok untuk menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Krisis penyakit-penyakit kronis dan kegagalan kesehatan masyarakat global untuk membendung kebangkitan faktor-faktor berisiko yang sangat mungkin dapat dicegah, telah membuat penduduk dunia rentan terhadap kondisi darurat kesehatan yang akut seperti Covid-19.

Untuk itu, tindakan darurat diperlukan untuk mengatasi sindemik penyakit-penyakit kronis global, kesenjangan sosial, dan Covid-19 untuk memastikan sistem kesehatan yang lebih tangguh dan orang-orang yangvlebih sehat, sehingga membuat negara-negara menjadi lebih kuat terhadap ancaman pandemi divmasa depan

Temuan-temuan terbaru dari The Global Burden of Disease Study yang dipublikasikan hari ini di The Lancet, memberikan wawasan baru mengenai seberapa baik penduduk dunia dipersiapkan kesehatan
pokoknya untuk menghadapi pandemi Covid-19 dan menetapkan skala atau tingkat kesulitan yang tepat untuk melindungi populasi dunia dari ancaman pandemi lebih lanjut.

Studi ini juga mengungkapkan bahwa meningkatnya paparan terhadap faktor-faktor risiko utama (termasuk tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, indeks massa tubuh tinggi (BMI) dan kolesterol yang meningkat), disertai meningkatnya kematian karena penyakit kardiovaskular di beberapa negara (misalnya Amerika Serikat dan Karibia), menunjukkan bahwa dunia mungkin sedang mendekati sebuah “titik balik” dalam peningkatan harapan hidup.

Para penulis menekankan bahwa janji mengenai pencegahan penyakit melalui tindakan pemerintah atau insentif yang memungkinkan perilaku yang lebih sehat dan akses kepada fasilitas kesehatan tidak terwujud di
seluruh dunia.

“Sebagian besar faktor-faktor risiko ini dapat dicegah dan diobati, dengan mengatasinya akan memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang besar. Kita gagal mengubah perilaku-perilaku tidak sehat, terutama yang berkaitan dengan kualitas makanan, asupan kalori, dan kegiatan fisik, sebagian karena tidak ada perhatian yang cukup (dari pembuat) kebijakan dan pendanaan untuk kesehatan publik dan riset (mengenai) perilaku”, kata Professor Christopher Murray, Direktur Institut untuk Metrik dan Evaluasi Kesehatan (Institute for Health Metrics and Evaluation/IHME) di Universitas Washington, Amerika Serikat, yang memimpin riset tersebut.

Beberapa dari faktor risiko dan penyakit tidak menular (PTM) yang disorot oleh penelitian ini, termasuk obesitas, diabetes, dan penyakit ardiovaskular, terkait dengan meningkatnya risiko penyakit serius dan kematian karena Covid-19. Namun, penyakit tidak hanya berinteraksi secara biologis. Ia juga berinteraksi dengan faktor-faktor sosial. Diperlukan tindakan darurat untuk mengatasi sindemik penyakit-penyakit kronis global, kesenjangan sosial, dan Covid-19—yang merujuk kepada interaksi dari beberapa pidemi yang menambah beban penyakit pada populasi yang telah memiliki penyakit lain, dan meningkatkan kerentanan mereka.

Dr Richard Horton, Pemimpin Redaksi The Lancet, menjelaskan, Covid-19 merupakan keadaan darurat kesehatan kronis yang akut. Dan sifat kronis dari krisis saat ini sedang diabaikan dan berpotensi menjadi ancaman bagi kita di masa depan. Penyakit tidak menular telah memainkan peran penting dalam mempercepat kematian lebih dari 1 juta orang yang disebabkan oleh Covid-19 hingga saat ini, dan akan terus memengaruhi kondisi kesehatan di setiap negara setelah pandemi mereda.

Di tahun 2019, penyebab-penyebab utama gangguan kesehatan berbeda-beda secara substansial di semua kelompok usia. Cedera di jalan, gangguan sakit kepala, HIV/AIDS, nyeri punggung bawah, dan gangguan depresi adalah masalah kesehatan yang dominan di kalangan orang yang lebih muda berusia 10-49 tahun. Sementara itu, penyakit jantung iskemik, stroke, dan diabetes adalah kontributor utama gangguan kesehatan pada orang-orang berusia 50 tahun atau lebih.

Dalam dekade terakhir, kemajuan global di bidang kesehatan tidak merata. Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (low- and middle-income countries/LMIC) telah memperoleh kemajuan pesat bidang esehatan, terutama keberhasilan menangani penyakit infeksi, persalinan, dan neonatal. Misalnya Ethiopia, Sudan, dan Bangladesh telah mengalami penurunan 2\% atau lebih per tahun dalam tingkat gangguan kesehatan terstandardisasi umur (DALYs).

“Karena disabilitas menjadi porsi yang makin meningkat dalam beban penyakit global dan merupakan komponen yang lebih besar dari belanja kesehatan, maka terdapat kebutuhan yang darurat dan mendesak untuk mengidentifikasi intervensi baru yang lebih efektif,” katanya.

Selama dekade terakhir, terdapat kenaikan yang cukup besar dan mengkhawatirkan (di atas 0.5\% per tahun secara global) dalam paparan terhadap beberapa risiko yang dapat dicegah – obesitas, gula darah tinggi,
penggunaan alkohol, dan penggunaan obat-obat terlarang – yang berkontribusi terhadap bertambahnya beban PTM, dan menekankan kebutuhan mendesak untuk upaya kesehatan publik yang lebih kuat. Dampak kumulatif terbesar atas kesehatan muncul dari kenaikan yang mencengangkan dalam risiko metabolik, yang telah meningkat 1,5\% per tahun sejak 2010.

Di antara risiko-risiko utama PTM, hanya merokok yang menurun secara signifikan. Upaya keras untuk mengimplementasikan kebijakan pengendalian tembakau internasional telah membuat paparan terhadap merokok menurun sebesar hampir 10\% di seluruh dunia sejak 2010, meskipun tembakau (yang dihirup, dihirup dari pihak lain, dan dikunyah) tetap menjadi penyebab utama kematian di banyak negara berpendapatan tinggi, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jepang, Belgia, dan Denmark di tahun 2019; dan merenggut hampir 9 juta jiwa di seluruh dunia.

“Sekedar memberikan informasi mengenai bahaya dari risiko-risiko ini tidak cukup”, kata rekan penulis Profesor Emmanuela Gakidou dari IHME. Mengingat bahwa pilihan-pilihan individu dipengaruhi oleh pertimbangan keuangan, edukasi, dan ketersediaan alternatif, maka pemerintah hendaknya bekerja sama secara global atas inisiatif untuk membuat perilaku yang lebih sehat bagi setiap orang. Serta, mengambil pelajaran dari beberapa dekade pengendalian tembakau, ketika terdapat risiko besar terhadap kesehatan penduduk, seperti obesitas, tindakan pemerintah yang terkoordinasi melalui peraturan, perpajakan, dan subsidi mungkin diperlukan.

Sejak tahun 2000, telah terjadi kemajuan pesat di negara-negara kurang berkembang dibandingkan dengan kemajuan di negara-negara maju—yang mendorong peningkatan harapan hidup dan harapan hidup sehat melalui upaya-upaya untuk meningkatkan pendapatan, menyediakan tahun pendidikan yang lebih panjang dan mendukung keluarga berencana.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)