Tiga Isu Pokok CEO Business Forum Indonesia

Memasuki usia 1 tahun pada Juni 2017 , CEO Business Forum (CBF) Indonesia memiliki tujuan untuk memberi dampak positif bagi negara. Hal ini tercermin dari visi komunitas yaitu sebuah perkumpulan para pengusaha dan professional Indonesia yang mengutamakan nilai-nilai pembelajaran, kebersamaan dan sinergi, serta membangun karakter yang kokoh yang melandasi keinginan kuat menjadi pemain berkelas dunia.

Berbagai kegiatan dilakukan mulai dari sharing dan networking, berbagi pengalaman, pembelajaran bersama, peluang bisnis dan membangun sinergi, dan aktivitas sosial. Tidak hanya itu, CBF pun memiliki fokus ada tiga bidang pokok yang sedang menjadi isu dari CBF untuk terus menerus dibahas dan ditindaklanjuti bersama oleh para anggota.

Pertama, bidang pariwisata. Bidang ini adalah salah satu aspek andalan Indonesia yang kaya dengan pesona wisata namun belum tergarap dengan baik dan terpadu, kurang professional serta belum memiliki standar yang cukup untuk memenuhi syarat sebagai daerah tujuan wisata yang layak dikunjungi dan tinggal.

Sejak era Pemerintahan Presiden Jokowi, pariwisata sudah ditetapkan sebagai sektor unggulan. Di mana sektor ini akan menghasilkan devisa terbesar mengalahkan sektor minyak dan gas bumi. Melihat potensi tersebut, melalui program besar Pemerintah yaitu 10 Bali Baru (Danau Toba, Bromo Tengger Semeru, Kep Seribu, Morotai, Belitung, Tanjung Lesung, Borobudur, Mandalika), diharapkan target 20 juta wisatawan mancanegara dapat tercapai di tahun 2019.

“Tentu kami akan membangun infrastruktur seperti jalan, bandara, penginapan, dan sebagainya. Saat ini ada 10 destinasi wisata yang masuk dalam 10 Bali Baru. Semua bandara di wilayah tersebut akan dibangun menjadi bandara kelas internasional. Selanjutnya daerah lain akan dibuat seperti itu juga,” ujar Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI saat ditemui di perayaan ulang tahun CBF di Jakarta.

Selanjutnya,bidang teknologi digital. Kini,teknologi digital telah menjadi isyu utama yang dapat mendukung percepatan perdagangan, pemasaran lintas negara serta penyebaran informasi yang lebih efektif dan cepat. Belum lagi bidang ini adalah lahan bertumbuhnya start-up yang ibarat jamur di musim hujan namun mudah mati pada musim kering, sehingga dibutuhkan pula sinergi dengan pebisnis senior, yang bukan hanya sebagai pemodal, tetapi juga menjadi benchmark model keberhasilan bisnis yang kemudian dapat di-digitalisasi.

Terakhir, perdagangan. Ini sejalan asumsi bahwa potensi ekspor kita masih cukup besar dan dapat ditingkatkan lagi bukan hanya sekedar eksportir produk bernilai rendah, tetapi juga memilik value-added dan membangun merek yang berorientasi global, khususnya untuk UKM. Di sini CBF berkeinginan dapat bekerjasama dengan kedutaan-kedutaan Indonesia di luarnegeri maupun dengan jaringan Indonesia ITPC (Indonesia Trade and Promotion Centre ) di manapun.

 

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)