Tiga Milenial Ini Berbagi Ide Urban Farming di Era Baru

kiri-kanan: Sandra, Samantha dan Azri para petani muda di era baru. Foto: Ino

Pernah terpikir tidak, terutama para penggemar kopi, bahwa ampas kopi dari 15 cangkir, jika diperas menghasilkan minyak yang bisa dijadikan bahan bakar truk. Bukan hanya itu, ampasnya lagi setelah diperas itu bisa menjadi briket bahan bakar kita untuk barbeque dengan kekuatan panas 4 kali lebih lama dari briket batu bara.

IdeaFest 2018 mengusung beberapa agenda konferensi yaitu Ideatalks (workshop), Texpo (pameran), O2O Bazaar. Dalam satu kelas Ideatalks (workshop) tepatnya di Garrix Room hadir berbagi perjalanan mereka membangun usaha rintisan di bidang pertanian (26/08/2018). Ruang berkapasitas 50 orang orang tersebut penuh terisi para milenial yang ingin mendengar paparan mereka, bahkan banyak yang tidak bisa masuk.

Di bawah tema sharing New Age Farmer: Eat What You Grow, Cycle What You Consume, ide ampas kopi yang ditingkatkan nilai produknya menjadi bahan bakar itu disampaikan oleh Azriansyah Ithakari, Co-founder Tan-euh dan The Upcycling.

Usaha rintisan dari pria lulusan arsitektur ini fokus di urban farming di bawah bendera Tan-euh. Putra dari profesor di IPB ini mengembangkan usaha rintisan yang sangat konsern pada peningkatan kesadaran menyatukan seni arsitektur dengan seni bertani microgreens. Artinya sayuran yang dipanen pada usia muda dengan nutrisi yang masih terkonsentrasi.

“Dengan bercocok tanam sendiri, masyarakat mestinya bisa menciptakan bahan pangan sendiri,” terangnya. Dalam perjalanannya mengembangkan Tan-euh—yang berasal dari kata tanah dalam bahasa Sunda—ia mengembangkan anak usaha yang fokus dalam pengembangan energi terbarukan dengan nama The Up-Cycling.

“The Up-Cycling misinya adalah mengembangan produk From food waste to energi. Jadi dalam urban farming yang saya pelajari bukan melulu soal pangan saja. Termasuk di dalamnya terkait dengan limbah,” ia menerangkan.

Menurut Azriansyah,  dalam pengelolaan limbah kita mengenal down cycling contohnya sampah kertas diolah lagi menjadi tisue, Mengapa nilainya turun? Karena hasil olahan kembali limbah tersebut, tidak digunakan selayaknya kertas seperti asalnya.

Lalu ada recylcle yaitu mengolah lagi limbah menjadi produk yang sama dengan asalnya, contoh limbah gelas diolah kembali menjadi botol gelas. Lalu ada Up-cycling yang meningkatkan limbah menjadi sebuah produk dengan nilai tambah. Azri mencontohkan, limbah kulit dan mahkota buah nanas yang bisa diolah lagi menjadi bahan fiber, yang kemudian bisa dijadikan bahan baku kulit untuk fasyen atau furnitur.

“Jadi up-cycling memungkinkan sampah menjadi produk dengan nilai tambah tinggi, menjadi lebih menguntungkan,” tuturnya. Jakarta dengan produksi sampah tertinggi di Indonesia, isu sampah makanan juga mendominasi. Azri menyebut 30% sampah makanan dibuang ke tanah karena dianggap akan lebih mudah terurai. “Padahal jika jumlahnya menumpuk bisa menyebabkan gas methane yang berbahaya,” jelasnya.

Ampas kopi kemudian menjadi perhatiannya untuk diteliti lebih dalam dan ternyata ampas kopi mengandung minyak yang bisa digunakan untuk bahan bakar kendaraan. “Sayangnya, tidak diolah lagi, belum ada yang mau mengolah sampah kopi secara industri,” ungkapnya.

Di sinilah The Up­-Cycling hadir, menurutnya, untuk mengembangkan sampah ini menjadi energi baru. Dalam paparannya disampaikan bahwa ampas kopi itu mengandung 14% minyak yang kemudian bisa dikembangkan menjadi biodiesel.

“Sekarang kami sedang mengembangkan minyak perasan ambas kopi ini untuk bisa digunakan sebagai bahan bakar truk,” katanya. Lalu setelah diperas, diambil minyaknya, ampas terakhirnya diolah menjadi coffee logs yang bisa dijadikan briket bahan bakar untuk masak.

“Dari 15 waste cup of coffee, bisa menjadi satu coffee logs yang bisa digunakan untuk bahan bakak memasak yang lama pembakarannya 2 jam. Atau bisa untuk memasak satu panci sedang 7-8 kali,” tegasnya. Ia mengklaim bahwa dari 15 cangkir kopi, ampasnya bisa dijadikan briket bahan bakar yang kekuatan pembakarannya dua kali lipat lebih lama dari briket bahan bakar fosil dan tanpa menyebabkan foot print apa pun.

New age of farming juga dipaparkan oleh Soraya Cassandra Co-Founder Kebun Kumara. Ia yang lahir dan besar di Jakarta, sangat prihatin dengan ketergantungan kota pada hasil pertanian di desa. “Saya dan suami memang punya ketertarikan sama pada tanaman. Dengan keprihatinan tersebut kami pun mulai berkebun 3 tahun lalu. Dimulai dengan menamam sayuran, terutama cabai yang 6-8 bulan baru bisa panen,” ungkapnya.

Sandra demikian sapaan akrabnya, mengaku dengan dimulainya menanam sendiri sayuran untuk konsumsinya sendiri, ia lebih peka pada makanan yang ada di depannya. “Akhirnya saya merasa perlu membagikannya ke masyarakat lebih luas terutama yang tinggal di perkotaan. Bahwa our food system harus diubah bersama. Saya melihat cara pandang kita tentang menanam salah, masih mono culture, tidak sustainable, bahwa orang kota tidak bisa menanam dengan alasan klasik tangannya panas lah, lalu yang lebih parah pertanian sangat bergantung pada bahan-bahan kimia,” paparnya.

Akibat jangka panjang menurutnya kurang diperhatikan, seperti unsur hara yang cepat hilang, belum lagi dampak negatif kesehatan petani seperti penyakit kulit dan pernafasan. Lalu kita ditanamkan pemikiran bahwa tanaman organik itu mahal. “Saya pun berpikir untuk mulai membangun sendiri akses makanan untuk masyarakat yang lebih sehat,” ujarnya.

Terbatasnya lahan di perkotaan bukan halangan, lanjut Sandra, terlebih melihat berkembangnya teknologi saat ini. Ia mengulas saat ini dengan dukungan teknologi, bisnis transportasi tidak seperti dulu yang harus memiliki armada sendiri. Hal yang sama bisa dijalankan di bisnis agro. Ia kemudian mulai membangun urban farming di Jagakarsa Jakarta Selatan. “Awalnya baru sebatas lorong dan tembok untuk menanam sayur yang kami konsumsi sendiri. Lalu kami menularkannya ke pemilik gedung, salah satu mal di Jakarta, serta banyak rumah lain,” jelasnya.

Urban farming kami terus gaungkan agar masyarakat bisa memgambil alih keadilan pangan kita. Bisa memilih apa yang kita tanam sehingga dapat variasi makanan lebuh banyak. Akses makanan organik lebih murah,” katanya. Panjangnya foot print rantai pasok sayuran di perkotaan menjadi perhatian Sandra, padahal menurutnya harusnya Jakarta bisa memenuhi sebagian kebutuhan sayurannya dengan urban farming di gedung-gedung tinggi memanfaatkan atapnya.

“Kami sudah membantu perumahan, pemilik gedung, sekolah, siapa pun yang ingin bertanam organik. Kami mengembangkan pertanian dengan pendekatan yang sesuai jamannya dengan tantangannya,” tuturnya.

Lain lagi dengan Samantha Gunawan, milenial yang mendirikan produk bermerek Blueboots ini mengurai idenya tentang pentingnya pendampingan petani untuk meningkatkan hasil panennya serta mengolah hasil panennya menjadi bernilai tambah. “Saya mengembangkan produk selai kacang dan keripik singkong dengan membina petani di Cijeruk Bogor,” ungkap wanita yang besar di Singapura ini.

Dalam pandangannya, produk hasil pertanian di Indonesia harus lebih didorong untuk bernilai tambah. “Packaging dan branding itu penting, saya serius menggarap ini. Walau tentu saja rasanya harus enak, yang akan membuat konsumen membeli kembali,” ujarnya. Samantha seperti milenial lain menggunakan media sosial dan digital marketing dalam pengembangan pasar dan meningkatkan awareness produknya.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)