Tiga Sekawan Kibarkan Pinnacle Investment

Guntur Putra, Andri Yauhari, dan Indra M. Firmansyah Setelah krisis keuangan global 2008, Guntur Putra, Andri Yauhari, dan Indra M. Firmansyah  memutuskan kembali ke Indonesia. Berpengalaman di bidang investasi di luar negeri, tiga sekawan yang mula-mula bekerja sebagai  advisory di Ares Quantum Capital pada 2015 sepakat mendirikan PT Pinnacle Persada Investama, perusahaan manajer investasi. Guntur duduk sebagai presiden direktur, Andri sebagai direktur pengelola, dan Indra sebagai direktur.

Pinnacle Investment menitikberatkan pada produk-produk yang inovatif untuk mendobrak pasar Indonesia. Salah satu produk investasi yang ditelurkannya adalah Exchange Traded Fund (ETF), produk reksa dana yang dapat diperjualbelikan di bursa. Saat ini, Pinnacle telah menghadirkan 15 produk reksa dana; ke-6 produknya adalah ETF yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mereka meyakini, ETF memberikan nilai lebih dalam hal diversifikasi dibandingkan dengan berinvestasi secara langsung di saham. Selain itu, investor bisa langsung mendapatkan basket of stock hanya dengan sekali membelinya di bursa sehingga risiko dalam investasinya jauh lebih terjaga. Guntur memproyeksikan ETF bisa memberikan return lebih besar 3-4% dari pasar atau indeks acuan.

Melihat latar belakang mereka, ketiganya memiliki pengalaman yang mumpuni dalam mengelola investasi di pasar modal. Andri pernah bekerja di Deutsche Bank AG New York Amerika Serikat (AS), Guntur di Blackrock, dan Indra di UBS. Pekerjaan mereka masih terkait dengan bidang investasi. Hanya saja, Andri dan Guntur di bidang financial engineering. “Jadi, kami sangat involved di finance, namun lebih ke teknis, building model, bikin pricing. Intinya, kami bikin prediction. Nah, jadi yang saya kerjakan di New York lebih ke fixed income. Selain itu, saya juga memiliki background di equity juga,” kata Andri menginformasikan.

Guntur pernah berkerja di Blackrock yang saat ini menjadi manajer aset terbesar di dunia. “Pada saat kami melewati global financial crisis 2008-10, kami juga di sana dan kami melihat action yang terjadi, bagaimana perusahaan itu bisa keluar dari global financial crisis. Salah satunya dengan performance modeling dan risk management yang lebih terstruktur. Kapasitas saya sendiri ada di investment, analytics, dan advisory,” paparnya.

Indra yang bekerja di UBS latar belakangnya lebih ke investment banking dan lebih fokus ke penawaran saham perdana (IPO). “Saya kenal lama dengan Guntur dan Andri. Kami ngobrol dan memiliki visi yang sama hingga akhirnya memutuskan mendirikan Pinnacle,” ungkapnya.

Sebelum membangun Pinnacle, mereka mendirikan advisory bernama Ares Quantum. Saat itu mereka membantu investor asing yang ingin berinvestasi di di Indonesia. “Kami mengerjakan itu, tujuannya untuk build our track record dan memastikan model yang kami buat itu bekerja,” ucap Guntur. Setelah menjalankan advisory selama dua tahun, mulailah nama Ares Quantum dikenal di pasar modal Indonesia.

Sejak itu, sejalan dengan banyaknya perusahaan manajer investasi yang berkinerja seret pada 2010, mulailah Ares Quantum memiliki banyak klien institusi yang memintanya menjadi advisor mereka. Saat itu, Ares Quantum ditawari untuk mengerjakan empat perusahaan, yakni Indoprimer, Batavia, NISP, dan Sinarmas Asset Management. Dari keempat itu, Sinarmaslah yang dipilih ketiganya karena perusahaan tersebut yang paling rendah kinerjanya saat itu. “Kami perbaiki dan akhirnya jadi one of the best performing pada 2014. Selama dua tahun, kami perbaiki pada cara mereka berinvestasi, portfolio construction, risk management, dll.,” ujar Guntur.

Dengan bekal itulah, akhirnya ketiganya memutuskan mendirikan perusahaan manajer investasi dan berdirilah Pinnacle Investment. “Kenapa kami mendirikan Pinnacle? Simpel alasannya, investor Indonesia membutuhkan manajemen aset yang lebih baik dari segala sisi. Misalnya, faktor transparansi ke investor, pengelolaan dana, inovatif dalam pengembangan produk, serta bisa setara dan berkompetisi di lanskap global,” kata Andri.

Menurut Guntur, Pinnacel tergolong masih baru, yaitu baru berdiri tiga tahun. “Mungkin pada saat ini, kami the first technology driven investment firm, yakni manajer investasi yang dalam proses investasinya itu semuanya berbasis teknologi dan menerapkan strategi kuantitatif. Saya bisa bilang, ini yang pertama di Indonesia,” ujarnya mengklaim.

Dalam penerapan proses investasinya, Pinnacle menggunakan big data, analytics algoritma, mechine learning, dan penerapan kuantitatif strategi. “Nah, dalam kuantitatif strategi, tim kami juga unik, di mana kami menggabungkan advanced mathematic, statistik, dan computational methodology. Kebanyakan perusahan sekuritas dan manajemen investasi, analisnya rata-rata analis saham. Nah, di tim riset kami kebanyakan engineer dan scientist,” ungkap Guntur bangga.

Sekarang di Indonesia ada sekitar 90 manajer investasi. Saat Pinnacle mulai berdiri pada 2015, ada sekitar 85 manajer investasi yang ada dan Pinnacle Investment adalah manajer investasi yang ke-80. “Tapi sekarang, at the same time, kami the fastets growing investment firm dalam tiga tahun. Kami sudah berada di Top 30. Dana pengelolaan kami dalam tiga tahun ini ada di Rp 4,5 triliun. Jadi, dari sisi perkembangan, kami adalah perusahaan manajer investasi yang perkembangannya paling cepat di Indonesia, beyond traditional investing,” kata Guntur.

Saat ini Pinnacle akan fokus pada aset tradisional inti manajemen bisnis, yakni reksa dana konvensional dan ETF, dan belum merambah strategi aset kelas private equity/venture capital. Saat ini mayoritas kliennya adalah institusi, seperti dana pensiunan, asuransi, dan yayasan. “Total aset under management kami Rp 4,5 triliun. Total investor, baik dari ritel maupun institusi, sekitar 3 ribu nasabah,” Guntur menginformasikan. Untuk tim, saat ini Pinnacle memiliki 22 karyawan.

Ke depan, Pinnacle akan fokus ke digital dan meluaskan kanal distribusinya. Ada beberapa yang sedang dikembangkannya seperti fintech tetapi di bidang manajer aset. Tujuannya adalah membuka ruang untuk ritel. Saat ini orang berpikir bahwa investasi itu ribet, dan pilih produknya banyak yang ditawarkan.

Nah, pihaknya akan membuat itu lebih simpel seperti ketika kita mau pesan Go-Jek atau Traveloka. “Kami ingin membuat sesuatu yang simpel untuk industri manajer investasi. Kepuasan investor adalah hal utama, karena kami tumbuh di industri yang harus tumbuh bersama investor. Kepercayaan investor itu yang bisa membuat kami sukses, menjadi manajer investasi terpercaya di Indonesia,” kata Guntur tandas. *)

Dede Suryadi dan Anastasia Anggoro Suksmonowati

Riset: Hendi Pradika

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)