Tingkatkan Literasi Digital, Cara Tetap Berkarya di Era Pandemi

Aktivitas dan kegiatan manusia di era pandemi Covid-19 yang sudah berjalan satu tahun lebih ini telah bergeser dan bergantung pada internet dan platform online, tidak terkecuali di dunia seni dan budaya serta pendidikan kesenian. Suatu karya seni dan pendidikan seni terpaksa memanfaatkan teknologi digital dalam pelaksanaannya. Padahal pesan dari karya seni harusnya dapat langsung dirasakan dan dinikmati para penikmat seni di depan mata, begitupun juga pendidikan seni yang mengutamakan praktek langsung untuk melihat keterampilan peserta didik di samping mempelajari teori-teori.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mengadakan kegiatan Webinar Digital Society dengan tema “Peran Teknologi Digital dalam Penciptaan, Pertunjukan dan Pendidikan Seni” (26/6/2021)

Sebelum berdialog dengan narasumber, webinar dibuka dengan keynote speech dari Semuel Pangerapan, B.Sc (Dirjen Aptika Kemkominfo) dan Dr. Samto (Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemdikbudristek).

Salah satu pilar dalam menciptakan masyarakat digital, adalah di mana kemampuan literasi digital masyarakat memegang peranan penting di dalamnya.  “Kemampuan literasi digital merupakan kemampuan yang paling krusial dalam menghadapi perkembangan teknologi saat ini, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang tidak hanya mengenal teknologi, namun juga cermat dalam menggunakannya,” ujar Semuel.

Samto dalam sambutannya menyebut bahwa di era digital ini ada tantangan dan peluang dalam penciptaan seni, pertunjukan seni dan pendidikan seni. Tantangannya adalah semua pelaku seni harus menguasai berbagai teknologi untuk mengembangkan kreativitas dan menciptakan karya yang dikembangkan dengan media digital. Kemudian ada peluang kolaborasi, karena bisa saja penggiat seni tidak memiliki kapasitas dalam pemanfaatan teknologi maka dapat berkolaborasi dengan pihak memiliki kemampuan teknologi yang baik. Samto juga mengingatkan untuk penikmat seni jangan hanya menikmati namun juga memberikan apresiasi kepada para pencipta dan penggiat seni.

“Memberikan apresiasi dengan melakukan like, subscribe, dan membagikan kepada yang lain akan berdampak pada pelaku seni. Inilah pentingnya saling mendukung dan mengapresiasi terhadap pelaku seni yang sekarang berkembang di media sosial”, kata Samto.

Lebih lanjut dalam dunia pendidikan, Samto memberikan saran bahwa kita harus menjadi pembelajar yang cepat dan guru-guru dan pemerintah harus menjadi cerdas dalam memberikan dukungan kepada peserta didik.

Webinar dilanjutkan dengan pemaparan dari Dian Herdiati, Dosen Program Studi Pendidikan Musik Universitas Negeri Jakarta sebagai narasumber pertama, Dian memberikan materi mengenai “Digitalisasi Seni”, yaitu proses mendigitalkan seni dengan memanfaatkan teknologi digital, juga bagaimana peran teknologi dalam dunia seni dari sudut pandang pelaku seni, penikmat seni dan pendidik dan peserta didik seni yang menurutnya masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan.

Salah satu keunggulan peran teknologi dalam penciptaan seni bagi pendidik dan peserta didik adalah secara operasional lebih efisien dengan penggunaan aplikasi atau software dalam proses pembelajaran namun kelemahannya adalah baik pendidik dan peserta didik mempunyai keterbatasan dalam pemahaman untuk mengeksplorasi digital instrument.

“Dengan adanya pandemi ini kita dipaksa untuk tahu tentang teknologi, kalau saat ini masih banyak yang belum paham mungkin masih bisa dimaklumi, tapi teruslah belajar supaya kita tidak ketinggalan”, demikian Dian menegaskan.

Dalam kesempatan selanjutnya, Marcella Zalianty, Ketua Umum PARFI’56/ Dewan Pengarah Siberkreasi membagikan pengalamannya sebagai pekerja seni yang harus beradaptasi dengan teknologi di era pandemi Covid-19 ini. Menurut Marcella proses kreatif dan produksi karya seni di era digital itu menjadi sangat menarik bila dieksplor dengan baik dan teknologi mempunyai peran yang sangat penting bagi kreator-kreator seni untuk tetap berkarya dan bagaimana karya tersebut tetap dapat terdistribusi. Untuk itu Marcella melanjutkan bahwa penting bagi pekerja seni untuk mempunyai literasi digital yang baik. “Pekerja seni menjadi tidak lengkap dan lemah dalam melakukan proses kreatif dan produksinya apabila gagal melengkapi diri dengan literasi digital,” tutur Marcella.

Andi Retno Warsyah, seorang guru yang menceritakan pengalamannya dalam menerapkan teknologi digital pada Proses Belajar Mengajar (PBM) Kesenian di SDI Sabilillah Malang. Andi menceritakan proses adaptasi para tenaga pengajar dan peserta didik sejak awal mula pandemi dengan segala keterbatasan pemahaman teknologi hingga berhasil menerapkan PBM dengan teknologi digital menggunakan platform yang sesuai kebutuhan dan dapat diterima oleh siswa. “Yakinlah tidak ada satupun media belajar yang paling tepat. Yang ada adalah media belajar yang pas dan sesuai dengan karakter dari masing-masing sekolah”, demikian Andi menutup paparannya.

Kegiatan yang diikuti oleh  para  peserta yang umumnya adalah tenaga pendidik di seluruh Indonesia ini diadakan melalui aplikasi Zoom meeting dan disiarkan melalui live streaming di channel Youtube dan Facebook Page Siberkreasi, Youtube Channel: Kemkominfo TV, Pendidikan.id, dan Direktorat Sekolah Dasar.

Dengan diadakannya webinar ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada pelaku seni, penikmat seni, dan tenaga pendidik mengenai bagaimana peran teknologi dapat mendorong dan meningkatkan pemahaman peserta mengenai nilai-nilai budaya yang  tetap harus dipertahankan dalam memanfaatkan teknologi digital dalam penciptaan, pertunjukan, dan pendidikan seni.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)