Tingkatkan Pemahaman Mengenai Arbitrase dengan Berguru di BANI

Setelah fokus pada pembangunan infrastruktur pada 5 tahun pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla periode 2014 – 2019, maka pada 5 tahun ke depan (2019 -2024), pemerintahan baru akan menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, saat peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-74 tahun, dicanangkan program "SDM Unggul Indonesia Maju".

Wapres
Jusuf Kalla menyebut kemajuan industri 4.0 yang berjalan di Indonesia tidak
cukup dengan pendanaan infrastruktur, namun juga mesti didukung dengan
peningkatan SDM. Orang yang menguasai teknologi pasti memiliki pendidikan yang
lebih tinggi. Itulah mengapa pemerintah juga melakukan peningkatan SDM.

Industri
juga harus mendukung pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM. Sebab industri
adalah mitra dalam pembangunan SDM di Indonesia mencontoh dari apa yang
dilakukan negara-negara maju di Eropa dan Asia. Semua pihak terkait harus bahu
membahu meningkatkan skill atau kualitas SDM agar lebih terampil dan professional.

Guna
menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai dunia arbitrase, para calon hakim
yang sedang menjalani Diklat III Program Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim Terpadu
Angkatan III, gelombang I Lingkungan Peradilan Umum Seluruh Indonesia,
melakukan kunjungan ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).  “Kunjungan 42 orang calon hakim pelatihan ini
merupakan salah satu agenda pembelajaran dalam pelatihan untuk menambah wawasan
tentang arbitrase pada umumnya dan BANI pada khususnya,” ujar Hakim Tinggi
Balitbang Diklatkumdil Mahkamah Agung, Sintar Sitorus di Kantor BANI Jakarta,
(5/9/2091).

Dalam
kunjungan tersebut, rombongan MA disambut oleh Sekjen BANI, N. Krisnawenda dan
Tim Ahli BANI, Mohammad Saleh. Selanjutnya para peserta  mengikuti paparan yang diberikan oleh Ketua
BANI, M. Husseyn Umar dan  Sekretaris
I  Eko Dwi Prasetiyo, serta lainnya.

“Dari
paparan tadi, ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan, misalnya, jika dalam
pengadilan itu mau tidak mau akan membuat pihak yang bersengketa merasa tidak
nyaman, karena terbuka untuk umum, sedangkan dalam penyelesaian arbitrase pihak
lain tidak akan mengetahui bahwa para pihak ini sedang bersengketa, hal ini
dikarenakan sifatnya yang tertutup,” ujar Sintar.

Menurut
Sintar, dalam arbitrase juga tidak sekadar mencari siapa pihak yang menang dan
siapa pihak yang kalah, namun mencari titik temu untuk mencari penyelesaian.
“Penyelesaian dengan cara win win solution itu saya rasa paling mendekati rasa
keadilan dan kenyamanan bagi pihak yang bersengketa,” ujarnya

Kunjungan
kali ni merupakan gelombang pertama dari para calon hakim yang di bawa ke BANI.
Selanjutnya akan ada sekitar dua gelombang lagi yang akan datang pada kisaran
akhir Oktober dan Desember.

“Harapannya
untuk ke depan materi mengenai Arbitrase ini perlu diketahui tidak hanya oleh calon
hakim ini, tapi juga yang sudah menjadi hakim. Juga perlu kerja sama dengan
Diklat Mahkamah Agung, agar materi tentang arbitrase ini dimasukkan salah satu
mata ajar, karena kami juga dalam Diklat mendapatkan materi lain seperti pajak
dan lainnya,” ujar Sintar.

Sementara
itu, Husseyn menambahkan, sebenarnya untuk mengembangkan pengetahuan arbitrase
sudah ada Institut Arbiter Indonesia melalui pelatihan, seminar ataupun diskusi
tentang arbitrase bagi publik peminat dan praktisi arbitrase.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)