Tips Bijak Memilih Fintech dan Mengelola Cicilan

Lily Suriani, General Manager Kredivo.

Peranan literasi keuangan makin mendesak lantaran menjamurnya pinjaman online ilegal yang membahayakan bagi masyarakat. Individu-individu yang tidak mendapatkan edukasi yang baik bisa saja salah paham dan memukul rata bahwa seluruh pemain industri ini sama saja buruknya seperti fintech ilegal.

Lily Suriani, General Manager Kredivo, menyampaikan, masyarakat harus memahami perbedaan fintech legal dan ilegal yang jelas berbeda dari aspek legalitas operasi, standarisasi keamanan serta kualitas layanan yang ditawarkan. Hal ini penting mengingat masyarakat underbanked tergolong awam untuk memahami prosedur dan konsekuensi peminjaman dana.

Oleh karena itu, kata dia, banyak pelaku fintech yang secara intensif melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk regulator dan juga asosiasi untuk memberikan literasi keuangan kepada masyarakat underbanked Indonesia.

"Ini yang menjadi alasan Kredivo aktif terlibat dalam berbagai kolaborasi dengan regulator dan asosiasi yang menjangkau masyarakat underbanked, termasuk yang berdomisili di luar ibu kota," ujarnya.

Pada November lalu, pihaknya turut berpartisipasi di Fintech Exhibition 2019 yang diusung AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) di Surabaya. Tujuannya, memberikan pemahaman yang benar terkait berbagai produk dan layanan fintech serta perkembangan industri yang pesat selama tiga tahun terakhir.

"Penerimaan masyarakat terhadap industri fintech bisa dikatakan luar biasa. Kredivo sendiri sudah menilai kelayakan kredit lebih dari 3 juta pengguna dan menyalurkan hampir 30 juta pinjaman sampai tahun ini. Kami percaya bahwa keamanan layanan menjadi kunci utama untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap industri ini," kata Lily.

Kredivo juga bekerja sama dengan lembaga akademis untuk menanamkan literasi keuangan semenjak dini, salah satunya lewat program bertajuk "Kredivo Goes to Campus" yang diselenggarakan melalui kerja sama dengan Politeknik Negeri Medan pada 7 Desember lalu. Inisiatif ini akan semakin digalakkan di tahun 2020 nanti demi mewujudkan visi Kredivo membangun generasi depan Indonesia yang melek keuangan.

Selain berkolaborasi dengan regulator dan asosiasi, masyarakat juga wajib memastikan aplikasi digital lending tersebut mendapatkan izin resmi dari OJK. "Masyarakat underbanked harus tetap aktif untuk mengumpulkan informasi dan mempersiapkan diri dalam mengelola pinjamannya, karena pada akhirnya kitalah yang paling memahami kemampuan keuangan diri sendiri dan keluarga," tuturnya.

Lily pun memberikan beberapa tips bijak dalam mengelola cicilan. Pertama, pastikan paham tenor, jumlah pinjaman pokok, serta bunga yang harus dikembalikan. Kata dia, seringkali pengguna hanya fokus dengan jumlah uang yang ingin dipinjam tanpa kritis menganalisis total uang yang harus dikembalikan.

Untuk itu, bijaklah dalam melakukan riset awal. Pastikan menghitung besaran bunga yang dikenakan. Jika kemudian pengguna ingin menggunakan hutang tersebut untuk kebutuhan produktif, maka akan tahu apakah hutang tersebut menguntungkan atau tidak jika diambil dalam tenor yang dipilih.

Kedua, tetapkan batas persentase utang maksimal dari total pendapatan bulanan. Idealnya, utang seseorang tidak lebih dari 30% pendapatan tiap bulannya. Namun jika ingin menyiapkan dana lebih untuk pos-pos lain, tidak ada salahnya untuk menentukan standar pribadi yang lebih rendah dari persentase yang dianjurkan tersebut. Ingat, kita harus disiplin untuk mencapai tujuan keuangan yang diimpikan.

Ketiga, sebaiknya selesaikan dulu tanggungan yang ada setidaknya sampai angsurannya berjalan setengah dari masa tenor yang ditentukan. Sehingga jika ada kebutuhan mendadak di kemudian hari, tidak akan berat untuk mengelola seluruh cicilan tersebut.

Terakhir, jangan impulsif. Pikir matang-matang tujuan pinjaman. Meski proses pengajuannya mudah dan cepat, pinjaman online harus digunakan dengan bijak, sesuai kebutuhan terutama yang sangat mendesak. Kalaupun kita ingin menggunakan untuk membeli produk konsumtif, pikirkan dulu dengan matang-matang apakah memang dibutuhkan atau hanya keinginan impulsif semata.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)