Tips Manajemen Utang dan Solusinya

Raymond Chin, CEO dan Co-founder Ternak Uang. (Dok. Ternak Uang)

Bagi sebagian orang, mendapatkan warisan utang dan tanggung jawab untuk melunasinya tentunya bukan kabar baik. Terlebih jika orang yang diwarisi utang tidak memiliki dana darurat ataupun sumber pemasukan dana berlebih yang dapat dialokasikan untuk melunasi utang tersebut.

Dengan demikian, utang menjadi hal yang menyeramkan, terlebih jika utang yang datang tiba-tiba dan diburu batas waktu pelunasan. Ditambah dengan beban mental yang ada, tentu semakin berat rasanya diluar dari besaran utang itu sendiri.

Namun kenyataannya, ekonomi dunia ini bergantung pada utang. Perputaran uang dan siklus pergerakan ekonomi dunia dipengaruhi oleh debt cycle masing-masing. Disinilah uang itu berputar, yang memegang peranan penting sebagai nilai tukar oleh masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Atas dasar itulah, menurut Raymond Chin, CEO dan Co-founder Ternak Uang, utang sebaiknya dilihat bukan sebagai hal yang perlu ditakuti. Karena pada kenyataannya, utang adalah sesuatu yang dekat dalam seluruh aspek kehidupan kita.

"Saya dapat mengerti jika pandangan umum masyarakat melihat utang sebagai hal yang buruk. Hal ini terjadi akibat rendahnya edukasi dan pemahaman masyarakat akan utang itu sendiri. Saya rasa, masih ada yang belum memahami bahwa utang itu sendiri terbagi dua, yaitu utang yang baik dan utang yang buruk," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima SWA Online, Kamis (25/03/2021).

Ia mencontohkan, utang yang baik misalnya utang yang sifatnya produktif dan menghasilkan return. Dengan syarat, selama kita yakin dengan aset produktif dan terjamin untuk melunasi utang sesuai dengan termin yang ditentukan. Misalnya produk investasi seperti reksadana pendapatan tetap yang berisi surat utang/obligasi.

Sementara, jenis utang yang buruk dan sebaiknya diwaspadai adalah utang yang bersifat konsumtif. Raymond mengatakan, utang ini biasanya muncul karena adanya dorongan untuk mendapatkan barang demi motivasi tertentu, tanpa didukung dengan modal yang pas. Contohnya, memaksakan diri untuk membeli gadget termahal hanya untuk citra pribadi, dan memaksa untuk mencari sumber pemasukan lain demi melunasi utang tersebut.

"Sayangnya, utang konsumtif ini hadir begitu dekat dalam balutan 'kemudahan transaksi'. Fitur seperti PayLater, cicilan tanpa kartu kredit, hingga kredit tanpa agunan muncul seolah-olah layaknya sebuah solusi pembayaran tanpa masalah," lanjutnya.

Menurutnya, kita kerap kali kita luput bahwa skema pembayaran ini layaknya subsidi silang/pinjaman dengan kelipatan. Ada komisi yang patut dibayarkan sebagai kompensasi pelunasan hingga batas waktu terjauh. Komisi ini pun tidak sepenuhnya cuma-cuma, karena jumlahnya akan dilipatgandakan dengan biaya administrasi pemberi pinjaman dalam durasi waktu yang dihitung setiap bulannya.

Namun, kata dia, bukan berarti fitur-fitur seperti ini wajib dihindari. Bentuk pembayaran seperti ini akan tepat digunakan jika kita telah memiliki sumber pemasukan yang dapat disesuaikan dengan waktu dan jumlah pinjaman sesuai transaksi yang kita lakukan berdasarkan keputusan kita sendiri.

Di sinilah peranan literasi finansial menjadi penting. Kemajuan fintech, peer to peer lending, dan kredit mikro tidak akan berjalan secara sustainable jika para debiturnya tidak dibekali pemahaman yang lengkap dalam mengatur utang-utang tersebut. Tercatat, rasio non performing loan (NPL) hingga September 2020 di Indonesia mencapai 3,22% dan mendorong OJK memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit hingga Maret 2022 mendatang.

"Solusi singkat yang paling efektif, jangan pernah melunasi utang dengan utang yang baru. Gunakan pendekatan snowball method, yang memungkinkan Anda untuk melakukan pembayaran utang dari nominal terkecil hingga nominal terbesar. Jika utang paling kecil sudah terlunasi, Anda bisa mengumpulkan dana tersebut untuk alokasi pembayaran utang dengan nominal yang lebih besar," tuturnya.

Ia pun menekankan agar masyarakat selalu meningkatkan literasi finansial dan mentalitas diri. Usahakan untuk selalu mengikuti aturan personal finance yang baik, agar tidak perlu mengalami masalah finansial yang hanya akan mengacaukan rencana jangka panjang yang telah disusun.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)