Tony Wenas, Konduktor yang Selalu Hadir di Tengah Pandemi

Tony Wenas, CEO Freeport Indonesia

Pengalaman Tony Wenas di pucuk kepemimpinan perusahaan-perusahaan besar sudah terbentang panjang. Sebelum didapuk menjadi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (FI) pada Desember 2018, dia adalah Wakil Presiden Eksekutif & Direktur FI. Pria kelahiran 1962 ini juga pernah menjadi orang nomor satu di PT Riau Andalan Pulp and Paper, PT Berkat Resources Indonesia, dan PT Vale Indonesia Tbk.

Dalam memimpin perusahaan, Tony menganalogikan dirinya seperti konduktor di suatu orkestra yang memperhatikan dan mengatur para pemusiknya agar tercipta suatu harmoni. “Saya mungkin bukan ahli keuangan, bukan ahli tambang, bukan ahli logistik, tapi saya harus bisa memadukan seluruh elemen ini menjadi satu kesatuan sehingga tujuan perusahaan bisa tercapai. It’s all about managing people,” kata Tony yang juga aktif sebagai musisi profesional.

Situasi sulit akibat pandemi mungkin menjadi tantangan paling berbeda sepanjang kariernya sebagai pemimpin. Kendati demikian, dia tetap mampu menjaga kinerja FI. Di tengah situasi pandemi, perusahaan tambang yang 51% sahamnya dikuasai Pemerintah Indonesia ini mampu mencapai target produksi tahun 2021 sebesar 1,3 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas.

Pencapaian ini tentu tidak mudah, mengingat harga tembaga sempat merosot di awal pandemi ke posisi US$ 2,15 per pon, serta masih dibutuhkannya upaya ekstra dalam mencegah penu- laran Covid-19 agar operasional di area pertambangan tetap terjaga.

Lantas, apa yang dilakukan Tony -- salah satu penyandang Indonesia Best CEO 2022 berdasarkan survei yang dilakukan SWA dan Dunamis Organization Services -- sehingga bisa menjaga kinerja perusahaan?

Tony menjelaskan, berbeda dari sejumlah industri lain yang bisa menyesuaikan angka produksi atau mendiversifikasi produk di tengah jalan sebagai solusi sementara, industri pertambangan tidak bisa karena pola penambangan harus dilakukan mengikuti perencanaan yang telah dibuat. “Main plan tidak bisa diubah. Yang bisa disesuaikan adalah penanganannya, seperti pola kerja, jumlah yang kerja di tempat, dan sistem transportasi,” katanya.

Maka, langkah yang dilakukannya saat itu adalah mengantisipasi segala risiko yang mungkin terjadi. Bukan hanya dari sisi keuangan, tetapi juga dari sisi kesehatan. Untuk penanganan Covid-19, dia mengisolasi Kota Tembagapura agar tidak terjadi penyebaran virus corona di area proyek, membentuk tim satgas, serta menambah jumlah tim medis dan alat tes PCR.

Diakuinya, situasi ini tidaklah mudah. Tembagapura dihuni sekitar 20 ribu jiwa dan menjadi permukiman operator FI yang jumlahnya tidak kurang dari 15 ribu orang. Menyesuaikan jadwal kerja juga menjadi tantangan. Tony mengatakan, isolasi tersebut dilakukan selama lebih dari empat bulan.

Segera setelah Tembagapura bisa dibuka kembali, dirinya langsung terbang ke lokasi menemui karyawan di sana. Baginya, seorang pemimpin harus hadir dalam situasi apa pun. “Being there with them is very important. Dalam situasi tidak sulit aja important, apalagi dalam situasi sulit,” ucapnya tandas.

Sementara itu, di kantor Jakarta, diberlakukan pola kerja work from home (WFH). Bahkan, saat ini aturan karyawan WFH lebih dari 50% telah dipermanenkan karena terbukti memberikan efisiensi dan produktivitas yang tetap terjaga.

Di FI, Tony memimpin 28 ribu karyawan. Dia mengepalai 40 vice president dan ratusan manajer. Beruntungnya, dia dan tim sudah terbiasa melakukan online video conference untuk koordinasi sejak sebelum pandemi. Bedanya, di masa pandemi komunikasi lebih diintensifkan, baik secara online maupun offline.

Koordinasi juga dilakukan pada level pemangku kepentingan, seperti Freeport-McMoran dan MIND ID. “Koordinasi horisontal dengan tim, minimal satu kali setiap bulan saya ke jobsite Tembagapura. Komunikasi melalui Zoom juga hampir tiap hari, baik itu internal maupun eksternal dengan stake­holders,” katanya.

Tony optimistis memandang iklim bisnis tembaga di tahun 2022. Secara internal, FI berada pada tingkat produksi yang akan mencapai 100%, mengingat ramp­up (peningkatan) tambang bawah tanah akan mencapai puncaknya. FI sendiri menggunakan teknologi canggih.

Kegiatan tambang bawah tanah GBC (Grasberg Block Cave) sebagian besar dikerjakan secara robotik. Sejak 2006, mereka juga memanfaatkan teknologi kendali jarak jaruh Minegem, yang memungkinkan operator mengambil bijih dari jarak kurang-lebih 6 km. Adapun yang teranyar adalah kereta listrik nir- awak yang terdiri dari 11 gerbong bak yang mampu mengangkut 300 metrik ton bijih sekali jalan.

Lalu, secara eksternal, demand tembaga masih tinggi, karena sudah terlihat perbaikan signifikan pada ekonomi dunia, dan proyeksi ekonomi Indonesia yang akan tumbuh sangat baik. “Industrinya (juga) terus muncul. Antara lain, mobil listrik. Mobil listrik membutuhkan tembaga empat kali lipat dari pada mobil biasa. Begitu juga renewable ener­gy. Jadi, demand-nya tinggi karena ada growth,” tuturnya.

Alhasil, setelah melewati dua tahun yang berat, Tony memandang 2022 dengan penuh optimisme. “Kami menargetkan produksi tahun 2022 sebesar 1,6 miliar pon tembaga dan 1,6 juta ons emas. Ini akan menjadi salah satu tahun terbaik kami. Kami sangat optimistis. Dengan kedisiplinan tim, menjaga keselamatan kerja, dan menjaga kesehatan, kami yakin target tersebut bisa tercapai.”§

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)