Tranformasi Digital Mengarah pada Penggunaan IoT dan AI

Forwat adakan diskusi tentang transformasi digital dengan dukungan AI dan IoT

Transformasi digital menjadi keharusan di era disrupsi ini. Bahkan kini sudsh jamak mengarah penggunaan IoT (internet of things) dan AI (artificial intelligence). Telkomsel, Oppo dan Tokopedia, tiga di antaranya memanfaatkan dan pengembangan IoT dan AI dalam mendorong bisnisnya.

General Manager Fleet Management Telkomsel, Arief Teguh Hermawan yang hadir dalam dalam workshop ‘Trend AI dan IoT di Indonesia’ yang diinisiasi Forum Wartawan Teknologi Indonesia (Forwat) di Plaza Senayan XXI, Jakarta (10/03/ 2020), mengatakan, perubahan landscape industri saat ini mendorong Telkomsel bertansformasi.

“Dulu backbond revenue Telkomsel berasal dari voice dan SMS, kini tidak lagi. Pelanggan sudah shifting ke penggunaan data, layanan OTT (over the top) menggantikannya. Ini mendorong kami bertranformasi, memformulasikan bisnis-bisnis baru yang mengadah ke data, salah satunya IoT,” imbuhnya.

Arief menyebut potensi bisnis IoT sangat besar, saat ini yang Telkomsel sudah garap, revenue yang dicapai US$30 juta. IoT merupakan long run business yang tidak bisa secara cepat bertumbuh besar tapi butuh waktu. “Pengalaman Telkomsel menjadi yang pertama me-roll-out teknologi jaringan. Mulai dari 2G, 3G sampai 4G. Sampai saat ini mereka memiliki coverage dan marketshare nomor satu di Indonesia untuk 4G,” ujarnya.

Menurutnya saat ini sudah ada 1 juta perangkat berbasis IoT yang menjadi bagian pengembangan bisnis B2B Telkomsel. Ia meyakini tahun 2020, akan ada puluhan juta perangkat, bahkan di 2025 akan ada ratusan juta perangkat. “Kami butuh dukungan pemerintah untuk mewajibkan penggunaan IoT, misalnya pada smart meter (meteran listrik PLN). Jika itu terjadi, mungkin dalam waktu satu atau dua tahun sudah ada puluhan juta perangkat IoT Telkomsel,” harap Arief.

Diperkirakan penggunaan IoT akan berdampak pada produktivitas sebesar US$121,4 miliar di dunia. “Angka ini akan didominasi paling besar pada industrial seperti manufaktur, retail, transport yang ada di tiga besar dengan kontribusi terbesar,” ujar Andi Faisa Achmad Kasubdit Direktorat Standardisasi Teknologi Informasi yang juga hadir di acara ini.

Beberapa aturan yang pernah dikeluarkan seperti Peraturan Menteri No.1 yang berkaitan dengan Frekuensi Izin Kelas untuk Perangkat Low Power Wide Area. Ada juga Peraturan Dirjen No.3 terkait Persyaratan Teknis LPWA Non-Seluler dan Selular. Kemenkominfo pun sadar bahwa IoT akan menjadi revenue baru bagi operator di masa depan. Ini juga yang menjadi penyebab Telkomsel makin berminat untuk bertransformasi menjadi perusahaan digital, bukan lagi dikenal sebagai penyedia layanan seluler.

Tokopedia sebagai platform e-commerce melakukan terobosan dengan menerapkan AI dan IoT. Bahkan Tokopedia merupakan e-commerce pertama yang mengimplementasikan costumer service digital berbasis asisten virtual. “Kami sudah bertransformasi jadi perusahaan teknologi dan super ecosystem. Ada 4 business pilar ke fintech sampai logistik, ” ujar Ekhel Chandra Wijaya, External Communications Senior Lead Tokopedia pada paparannya.

Sebagai marketplace yang lengkap, Tokopedia bukan sekadar tempat para penjual dan pembeli bertemu tapi juga ada fintech dan payment, logistik dan fullfilment. “Tokopedia ingin menjadi AI first company, maka itu ada 3 DNA di Tokopedia, salah satunya focus on consumer dan inilah dasar perusahaan untuk menjadi AI First company,” terangnya.

Dengan penerapan AI, Tokopedia bisa menganalisa kebiasaan konsumen sehingga bisa memberikan saran atau rekomendasi barang. Bahkan pada Smart Warehouse atau toko cabang pertama menerapkan digital base costumer service. “Semula kami menggunakan chatbot kini sudah dengan AI. Bahkan dalam memantau seberapa sering penggunaan kata Tokopedia dalam tulisan di media online, tune negatif atau positif kami bisa ketahui dalam hitungan detik dengan penerapan media intelligence untuk monitoring media,” jelas Ekhel.

Oppo tak mau kalah bertransformasi menjadi perusahaan teknologi dengan penerapan AI dan IoT yang low latency. “Penerapan AI ini berpengaruh besar pada penerimaan di pasar, perangkat kamera AI dengan kisaran harga Rp3 juta atau Rp5 jutaan berkontribusi 20 persen dari penjualan semua perangkat,” ujar Aryo Meidianto, PR Manager Oppo Indonesia

Aryo mengklaim teknologi Oppo ada 3, yakni AI, IoT dan 5G, bahkan sudah mempersiapkan invetasi sampai US$1,43 miliar yang sudah dimulai sejak 2018.

Perangkat berbasis AI dan IoT ini bisa menimbulkan efisiensi di segala bidang, tentunya dengan kerja sama penyedia jaringan, perusahaan teknologi dan penyedia perangkat. Dan tidak kalah penting adalah peran pemerintah sebagai penyedia regulasi. “Kami juga berharap kehadiran Forwat bisa menjadi komunitas wartawan teknologi yang bisa empowering jurnalis tekno, dari senior ke junior, mendorong kolaborasi positif dengan brand untuk kemajuan industri ini di Indonesia,” kata Danang Arradian, Ketua Forwat.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)