Transformasi Banyuwangi Jadi Destinasi Wisata Pesisir

Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi (Kedua dari Kanan)

Ekonomi Kabupaten Banyuwangi mengalami perkembangan pesat. Pasalnya, tingkat kemiskinan daerah ini turun dari 2 digit menjadi hanya 7 persen saja. Tentunya diiringi dengan peningkatan pendapatan rakyat per kapita sebesar 134 persen dalam 8 tahun (Rp 20,86 juta tahun 2010 jadi Rp 48,75 juta tahun 2018). Indikator produk domestik bruto Banyuwangi naik 141,78 persen dari Rp 32,46 triliun (2010) menjadi Rp 78,48 triliun (2018).

Data tersebut disampaikan oleh Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi dalam acara Indonesia Economic Quarterly: Oceans of Opportunity di Jakarta, (1/7/2019). Menurutnya, peningkatan kesejahteraan tersebut didorong oleh peningkatan kunjungan wisata domestik (naik 960 persen) serta mancanegara (naik 919 persen). Ini adalah buah dari rangkaian transformasi yang diinisiasi oleh Abdullah.

Ia sadar betul bahwa Banyuwangi memiliki potensi laut yang sangat besar. Sebanyak 177 Km garis pantai menjadi aset untuk mengundang turis. Apa yang dilakukan Pemerintah Banyuwangi? Abdullah mengatakan, ada 3 aspek strategi; ekonomi, ekologi, dan sosial budaya.

"Ada pantai yang indah tidak kami izinkan untuk dibangun hotel. Kenapa? Karena kalau semua pantai dibangun hotel, ke depan rakyat tidak akan punya akses terhadap pantai yang indah dan rakyat akan teralienasi dari keindahan pantainya. Oleh karena itu beberapa pantai kami izinkan untuk dibangun homestay. Homestay yang dimiliki petani dan nelayan di sekitar garis pantai ini bekerja sama dengan Traveloka dan beberapa platform booking online sehingga sudah bisa dibooking dari Jakarta," ujar Abdullah.

Ia bercerita, dulunya Banyuwangi adalah daerah yang kotor dan tidak aman. Namun, dengan membuat Banyuwangi jadi daerah pariwisata, daerah ini berubah total. "Sekarang ada pariwisata orang datang ke situ sambil menanam terumbu karang. Sehingga dulu sering ada kehilangan spion mobil, sepatu, sekarang tidak ada kehilangan. Karena kalau kehilangan orang (turis) tidak akan kembali lagi dan mereka (warga setempat) tidak akan mendapatkan (manfaat) ekonomi. Sekarang tempatnya menjadi bersih. Ribuan orang datang. Dulu orang mengambil ikan untuk beli roti, sekarang orang bawa roti untuk beri makan ikan karena ikan tumbuh sangat banyak di tempat ini, sehingga tempatnya menjadi konservasi," ungkap Abdullah.

Dari pendekatan ekologi, Pemerintah Banyuwangi membangun bandara yang eco-friendly. Beda dari bandara pada umumnya yang dibuat dari besi-besi, mereka menggunakan bahan kayu-kayu bekas. Beroperasi tanpa Air Conditioner (AC), bandara juga dikelilingi oleh sawah-sawah. Pun kualitas dan ketersediaan air tetap dijaga. Abdullah mengatakan, "Kami mengatakan pada dunia; bandara dan pembangunan Banyuwangi boleh maju. Tapi pertanian kami tidak boleh digusur dengan dan atas nama kemajuan."

Pernyataan itu diperkuat oleh sikap pemerintah yang selama 7 tahun ke belakang tidak mengizinkan IMB bangunan sekalipun di sekitar sawah. Kendati begitu, Banyuwangi direncanakan akan menjadi bandara internasional tercepat di Indonesia. Oleh sebab itu, selain untuk menjaga pantai tetap bersih, pemerintah setempat juga melakukan moratorium tambak yang didukung oleh Non Goverment Organization (NGO) dari berbagai negara.

Penyelenggaraaan kegiatan festival juga menjadi driver mendorong pariwisata Banyuwangi yang berhasil mendatangkan 127 ribu turis per tahun (dari hanya 5 ribu saja). "Kami mengadakan banyak festival, salah satunya festival toilet bersih. Karena kebersihan kami jadi problem. Masjid, mushola, gereja, kami berikan bantuan kalau mereka bersihkan toiletnya terlebih dahulu. Biasanya masjid kalau dikasih bantuan membangun fisik terus; toilet tidak diurus, airnya tidak diurus. Maka kami buat festival ini. Kemudian kami buat festival kali bersih, sungai bersih. Kami mendidik anak-anak terlibat bagaimana membuat sungai jadi bersih," tutur Abdullah.

Hasilnya, Banyuwangi mendapat penghargaan dari UNWTO sebagai negara paling inovatif dalam menyelenggarakan festival di dunia; menang dari 177 negara. Alasannya, festival daerah yang tahun ini mencapai 99 acara, diselenggarakan oleh rakyat, bukan event organizer. Maka, biaya penyelenggaraannya sangat sedikit.

"Intinya, kini di Banyuwangi kami libatkan rakyat di pesisir pantai dan pegunungan; hasil review survei BI, tingkat kepuasan orang asing dartang ke destinasi. Danau Toba 50 persen , Borobudur 69 persen, Mandalika 20 persen, Labuan Bajo 55 persen, Kawah Ijen (Banyuwangi) 76 persen, Pantai Kuta 23 persen. Kami dapat persentase paling tinggi," ujar Abdullah menutup penjelasannya.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)