Transformasi Digital dan Brand Leadership di Era Low Touch Economy

Arief Yahya, Mantan Menteri Pariwisata pada Kabinet Kerja Jokowi-JK, berpose di ruang kerja (foto: dok SWA)

Dampak dari pandemi COVID-19 telah mengubah dunia menuju era Low Touch Economy. Era ini ditandai dengan interaksi antar individu yang minim sentuhan fisik atau low-touch, keharusan mengecek kesehatan dan keselamatan, perilaku yang baru hingga pergeseran di sektor-sektor industri.

Perubahan ini tentu akan berdampak ke banyak hal, mulai dari tempat bekerja, kehidupan keluarga hingga aktivitas sosial. Perubahan desain ruangan dan cara bekerja, menikmati hiburan di luar hingga cara makan di restoran adalah sebagian dampak yang disebabkan era Low Touch Economy.

Para pakar memprediksi situasi ini akan berlangsung dalam waktu yang cukup panjang, setidaknya dalam dua tahun ke depan sampai vaksin mulai tersedia masal. Kita menghadapi dua krisis sekaligus secara beriringan, yaitu krisis kesehatan dan ekonomi. Dunia bisnis telah terpukul dengan adanya krisis ini, terutama di sektor-sektor industri yang sarat dengan high-touch seperti pariwisata, penerbangan, manufaktur, otomotif hingga properti.

Merespon perubahan ini, Arief Yahya yang pernah menjadi CEO Telkom menawarkan transformasi digital sebagai solusi jitu bagi perusahaan yang ingin survive dan sustain di era ini. Dalam keynote speech yang disampaikan di Indonesia Brand Forum 2020 (30/6), Menteri Pariwisata periode 2014 – 2019 ini menyatakan setiap perusahaan perlu melakukan resep 3D yaitu digital imperative, decoding ekonomi COVID-19 dan digital transformation.

Pertama adalah digital imperative dalam melakukan transformasi mendasar pada bisnisnya. Kedua, perlu melakukan decoding ekonomi yang terkait dengan COVID-19 dengan memetakan industri yang memiliki potensi tumbuh. Dan ketiga adalah transformasi digital dengan cara-cara yang tidak biasa.

Pria asli Banyuwangi ini juga menambahkan, setelah melakukan transformasi digital, setiap perusahaan harus menguatkan brand-nya agar selalu relevan di era digital. “Brand anda harus membangun persepsi melalui 3C, yaitu contribution, competencies dan communication. Ketiga hal ini yang akan membentuk reputasi brand yang kuat,” ujarnya.

Selain itu, untuk membangun brand leadership di era low touch economy, pria yang hobi main tenis ini juga menawarkan konsep brand yang memodifikasi teori brand identity-nya David Aaker.

Ia mengatakan dari sisi brand sebagai produk, harus bisa leading brand dari high touch ke low touch. Sedangkan dari sisi brand sebagai organisasi, brand harus global minded.

"Brand kita sebagai person juga harus semakin personal atau customer centric, dan ujungnya adalah membawa brand kita dari egoistical ke social secara simbolis," jelasnya.

Editor :Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)