Transformasi Digital Harus Didukung Grand Strategy yang Tepat

Di era ekonomi digital, beberapa tantangan yang dihadapi di Indonesia. Terutama dalam mewujudkan digital sebagai pendorong utama ekonomi Indonesia. Tidak memiliki dan salah dalam strategi transformasi digital, dua diantara problem yang menjadi sorotan.

Disampaikan Neneng Goenadi, Country Manager Accenture Indonesia, pada Digital Summit SEA 2017 bahwa kegagalan tranformasi digital itu biaya tinggi. “Setidaknya 400 juta dolar Amerika dihabiskan dalam transformasi digital yang salah, ini disebabkan karena mereka sekadar ikut-ikutan dan tidak punya strategi,” ujarnya.

Hal ini selaras dengan yang disampaikan Sri Safitri, Senior Advisor - Chief Innovation & Strategic Portfolio Office di Telkom Group, dalam ekonomi digital itu sangat diperlukan grand strategy.  Pada panel terakhir acara ini, ia menyoroti bagaimana China berupaya mengambil alih penguasaan digital economy dunia nanti pada 2025 yang kini dipegang Amerika. Bahwa menurutnya penting bagi Indonesia memiliki grand strategy dalam digital economy.

“Di dalam tas kita hampir bisa ditemui produk Cina, karena mereka menguasai 90 persen manufaktur global. Sedangkan Amerika, ia melanjutkan apa yang ada di ponsel pintar kita, aplikasi utama dikembangkan oleh pengembang sana. Maka tidak heran lima perusahaan digital Amerika menguasai ekonomi dunia ditunjukkan dengan nilai kapitalisasi yang tinggi,” sergahnya.

“Kelima perusahaan digital besar itu lebih khusus di Silicon Valley dan Seattle, kita paham bahwa ada brain, capital, government, ecosystem dan culture. Culture ini paling penting, mereka mengarah ke strategi itu,” ia melanjutkan. Fitri melihat, mestinya kita bisa mencontoh ‘kunci’ sukses itu di sini.

“Namun, pada 2025 China diprediksi akan mengambil dominasi Amerika tersebut, dengan tiga grand strategy untuk ekonomi digital, yaitu availability, environment dan cash ,” Fitri menjelaskan.  China  menguasai manufakturing 90 persen untuk laptop, untuk device juga sampai 80 persen. Makanya penting bagi Indonesia memiliki grand strategy ekonomi digital.

Marwazi Siagian, Director - Lead, Business Development Mastercard, menyoroti tentang pentingnya memperhatikan mengembangkan digital payment dalam mendorong digital economy  mengambil peran utama dalam ekonomi Indonesia. “Penetrasi kartu kredit di Indonesia rendah, mesin EDC di Indonesia hanya 1 juta dan kartu kredit secara total hanya 160 juta kartu saja, dibanding 261 juta jumlah penduduk Indonesia itu masih rendah,” ujarnya. Biaya mesin EDC lumayan tinggi yang menjadi hambatan. Marwazi melihat digital menjadi cara untuk mendorong penggunaan kartu kredit di Indonesia, untuk mendorong Indonesia ke level selanjutnya dalam pembayaran. Maka itu penting di Indonesia memiliki good payment strategy, itulah mengapa digital payment sangat penting.

Digitalisasi di Bisnis Ritel

Di sisi lain,  Ranch Market dan Farmers Market  sedang berdaptasi dengan perkembangan digital yang sedang pesat. Ritel yang sudah ada di Indonesia pada Oktober 1997 dan menyasar kelas menengah hingga premium ini mengembangkan supermarket onlinenya dengan nama www.kesupermarket.com mulai tahun ini.

Perjalanan ritel ini masuk ke daring dijelaskan oleh Martin Setiadarma, GM kesupermarket.com, pada presentasi paling akhir dalam acara yang diadakan di Hotel Mulia Jakarta. “Tahun ini cabang kami sudah mencapai 33 cabang. Saya mendengar digital belongs to millenial, saya rasa tidak terlalu tepat, saya juga menemukan bahwa generasi X atau sebelumnya juga menggunakan digital untuk mempermudah kehidupan mereka,” tuturnya.

Sebelum masuk ke daring, perusahaan dikatakan Martin, bahwa perkembangan internet dan mobile phone di Indonesia menjadikan pihaknya makin yakin saat inilah waktu yang tepat perusahaan membuka supermarket online. “Menghadirkan kesupermarket.com adalah cara kami memberikan konsep omni channel ke masyarakat agar merasakan kemudahan,” imbuhnya. Kunci dari supermarket daring adalah memberikan layanan dan pengalaman yang sama ketika konsumen membeli baik online maupun offline.

“Makanya kami menawarkan harga dan kualitas produk yang sama di online, free ongkir (ongkos kirim) dan same day service, tapi pelanggan tidak perlu repot ke gerai kami. Ritel kami dikenal selalu menyediakan fresh product, ini harus dijaga juga di supermarket online kami,” jelasnya. Pelanggan dua ritel ini masuk dalam segmen premium, pihaknya memastikan untuk menjaga pengalaman yang sama nyamannya ketika mereka merasakan membeli di Farmers Market atau Ranch Market.

Digital Summit SEA 2017 yang dihadiri 200 peserta lebih, terselenggara berkat kerja sama Accenture dengan Asosiasi Big Data Indonesia, Asosiasi Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia dan Fintech Indonesia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)