Transformasi Pelindo 2 Menjadi Pelabuhan Berstandar Global

Suasana Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Memasuki Pelabuhan Tanjung Priok, suasananya sungguh berbeda dengan beberapa tahun lalu: lebih bersih, rapi tertata, mulai menampakan diri sebagai pelabuhan digital, dan kinerja operasional serta keuangannya juga terus meningkat.

Potret Pelabuhan Tanjung Priok sebelum dibenahi.

Potret Pelabuhan Tanjung Priok sekarang.

Begitulah kondisi Pelabuhan Tanjung Priok yang berada di bawah PT.Pelabuhan Indonesia II (Pelindo2) atau biasa disebut juga sebagai Indonesia Port Corporation II (IPC) setelah melakukan transformasi bisnis. Sebagai strategic holding, IPC memiliki 12 cabang pelabuhan di berbagai wilayah barat Indonesia dan 17 anak perusahaan. Anak-anak perusahaan itu misalnya: PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) yang berfokus pada Terminal Multipurpose, PT IPC Terminal Petikemas (untuk menangani international & domestic container), dan PT Indonesia Kendaraan Terminal, Tbk., pelabuhan untuk menangani mobil dan peralatan berat.

Anak perusahaan dan pelabuhan dalam Grup Pelindo2.

Sebagai pemegang amanat pemerintah untuk mengoperasikan pelabuhan, IPC memiliki empat bidang usaha. Pertama, pelayanan kapal, yakni melayani kegiatan operasional keluar masuk kapal ke pelabuhan. Kedua, pelayanan barang, yakni layanan bongkar muat kapal hingga penyerahan ke pemilik barang. Ketiga, pelayanan rupa-rupa yang berupa layanan penunjang kegiatan pelabuhan. Keempat, terminal penumpang sebagai sarana transportasi laut dan mendukung pariwisata dalam negeri.

Empat Bidang Usaha Pelindo2.

IPC awalnya didirikan sebagai Perum Pelabuhan oleh pemerintah pada tahun 1960 dan mulai menjadi PT tahun 1992. Pada tahun 2012, Perseroan memperkenalkan Indonesia Port Corporation (IPC) sebagai identitas baru perusahaan dengan visi menjadi pelabuhan kelas dunia. Momen ini mendorong transformasi ulang tahun 2016 bertajuk Fit In Infrastructure yang akhirnya terimplementasikan dengan sukses. Pada tahun itu, IPC mendefinisikan kembali strategi dan roadmap perusahaan.

Lebih rinci perjalanan sejarah dan roadmap Pelindo2 dapat dilihat di perjalanan dari waktu ke waktu Pelindo 2:

Di samping penampakan pelabuhan Tanjung Priok yang tertata rapi, tertib dan bersih, kesuksesan IPC dalam mentransformasikan bisnisnya juga tercermin dari peningkatan kinerjanya yang dapat disimak di bawah ini. Di sini akan terlihat Kinerja Operasional dan Kinerja Keuangan Pelindo2:

Ada sejumlah langkah-langkah strategis yang dilakukan Pelindo2 di bawah CEO Elvyn G. Masassya, seperti yang dituturkannya pada Selasa, 19 Februari 2019 di Pelabuhan Tanjung Priok,  Pertama, Elvyn bersama Tim Direksi mencanangkan corporate values baru dengan kunci: Customer Centric, Integrity, Nationalism, Team Work, dan Action, yang diakronimkan dengan kata CINTA.

Bagi Elvyn, “Values itu harus ring a bel. Harus punya makna implisit maupun eksplisit serta falsafahnya harus dalam." Penjabaran dari values itu: "Kami tidak bisa hidup tanpa constomer. Perusahaan bisa hancur kalau tidak punya integritas.  Apa yang kita jalankan ini untuk kepentingan bangsa. Kerja sama  17 anak perusahaan sebagai IPC harus kongkret dilakukan, dan kami tidak sekedar bicara, tapi juga action.”

Elvyn G. Masassya, CEO Pelindo2.

Untuk menginternalisasikan nilai-nilai tersebut kepada seluruh karyawan, Elvyn menekankan bahwa Direksi harus menjadi role model. Poin penting yang perlu diperhatikan adalah komunikasi, komunikasi, dan komunikasi. Poin keempat baru strategi. “Kita juga harus bisa memegang janji. Apa yang kita katakan harus disampaikan.”

Untuk melengkapi operasional kerja semua proses bisnis, mereka juga membuat dan menerapkan 267 SOP (standard operating procedure) baru. 

Menurutnya, kunci dari operasi pelabuhan adalah bagaimana barang bisa keluar dan masuk dengan mudah. “Ada empat aspek di situ.  Pertama kecepatan, makanya dwelling time harus rendah. Kedua, akses. Bagaimana supaya kapal dan barang mudah masuk dan mudah keluar. Ketiga, physical presence. Peralatan harus bagus dan modern. Keempat, friendly, yang mencakup pelayanan lebih cepat, lebih mudah, dan lebih murah,” tutur Elvyn.

Dan supaya empat aspek itu dapat terwujud secara konsisten dan kinerja IPC dapat terus berkembang, IPC mulai memasuki apa yang ia sebut New Port Era melalui implementasi Digital Port. Strategi ini sejalan dengan target IPC menjadikan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan berstandar dunia pada 2020.

Digital Port yang dimaksud Elvyn adalah pola penataan pelabuhan berbasis digital yang mencakup sistem gerbang, sistem pergudangan, sistem operasi terminal,  hingga sistem pembayaran di laut, terminal, dan sekitarnya.

Saat kapal akan masuk ke pelabuhan, misalnya, mereka diatur oleh Marine Operating System. “Dulu, ketika kapal datang, mereka akan mengantri dan menunggu. Sekarang, kami catat, kami sudah tahu kapan dia berangkat ataupun tiba; apa barang yang dibawa, ke mana dia berangkat. Dan untuk traffic kapal ada di Vessel Management System (VMS),” jelas Elvyn.

Memasukkan barang ke darat yang awalnya dilakukan satu per satu secara manual, sekarang tercatat dengan sistem Auto Tally. IPC juga kini memiliki Car Terminal Operating System sehingga kendaraan yang akan diekspor juga dapat berjajar rapi, tertib.

Di sektor pengelolaan non-petikemas, Perseroan mengandalkan sistem Non Petikemas Terminal Operating System (NPKTOS). Sementara itu, pengelolaan petikemas digunakan Terminal Operation System (TOS). Semuanya serba digital.

Untuk penyimpanan barang di pelabuhan, tersedia gudang dengan Warehouse Management System (WMS). Jadi, pemilik bisa mengetahui informasi barang miliknya, mulai dari lokasi, hingga waktu keluar dan masuk. Semua barang-barang tersebut tercatat secara digital melalui proses Tower Control.

Bagaimana dengan sistem pembayaran? Untuk seluruh jenis pembayaran sudah menggunakan e-money. Jadi boleh dibilang hampir semuanya sudah cashless.

Pelindo2 juga memilik pendapatan di luar jasa kepalabuhan. Misalnya, truk-truk pembawa barang yang keluar-masuk pelabuhan diharuskan melewati Auto Gate atau gerbang otomatis. “Setiap harinya ada sekitar 22 ribu kendaraan keluar-masuk pelabuhan dan menyumbang sekitar Rp 90 miliar/tahun dari total revenue kami,” tutur Elvyn.

Strategi berikutnya IPC adalah merealisasikan program Direct Call Pelabuhan Tanjung Priok langsung ke 4 rute benua, tanpa melewati hub pelabuhan seperti pelabuhan Singapura. Yaitu: rute langsung dari Tanjung Priok ke dan dari Amerika Serikat, Intra Asia, Eropa, dan Australia ke Tanjung Priok. Hasilnya, silakan simak data di bawah:

Elvyn menuturkan lebih lanjut, “Dulu semua ekspor-impor Indonesia melalui Singapura. Per 2017, kami mulai menjalankan direct call. Ini artinya kami sudah dapat bersaing dengan Singapura. Kalau kapal sudah masuk ke Jakarta secara langsung, berarti kami sudah mampu bersaing. Dan itu antara lain juga menunjukkan bahwa cost kami sudah kompetitif, pelayanan dan infrastruktur Jakarta sudah bisa menyaingi Singapura.”

IPC sebagai Trade Facilitator & Accelerator.

Ke depan, IPC akan terus berupaya bagaimana supaya dapat menjadi trade facilitator berstandar internasional. “Zaman dulu, pelabuhan itu landlord: menyediakan lahan sewa. Kemudian, berubah menjadi terminal operator seperti saat ini. Ke depan, kami ingin menjadi trade facilitator. Tantangan yang akan dihadapi adalah perlunya policy dan interest yang sama dari seluruh pelaku logistic agar tujuan menjadi trade facilitator itubisa terimplementasikan,” ujar Elvyn. Untuk ini, Pelindo2 memang jelas tak bisa mewujudkannya sendiri. Tak bisa tidak, Pelindo2 memang harus mengajak semua stakeholders di industri logistic dapat bersama-sama melakukan langkah-langkah kongkret agar tujuan menjadi trade facilitator itu dapat terwujud.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)