Transformasi Rumah Zakat untuk Layanan Lebih Baik

Di tahun 2017 transformasi dilakukan Rumah Zakat dalam menjalankan usahanya, dari profesional menuju entrepreneurial institution dengan menggabungkan re-branding dan pola pikir yang baru. Tetap memberikan yang terbaik kepada masyarakat melalui peningkatan pelayanan senantiasa dilakukan Rumah Zakat kepada muzakki, penerima manfaat, dan amil yang ada di dalamnya.

CEO Rumah Zakat Nur Efendi (kanan)

Menurut CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, secara taktis peningkatan layanannya adalah membentuk pola pikir amil sebagai pelayan umat yang di dalamnya terdapat publik, muzakki, dan penerima manfaat. “Eksekusinya, pelayanan kantor yang ditujukan kepada muzakki disusulkan dengan brand yang baru dan suasana yang bersahabat. Rumah Zakat juga berkolaborasi dengan berbagai pihak demi tercapainya pemberdayaan masyarakat Indonesia,” tambahnya. Rumah Zakat juga memperbaiki 22 touch point management yang langsung terkait dengan publik. Hal ini akan memperkuat transformasi Rumah Zakat dalam rangka meningkatkan layanan yang lebih baik.

Tahun ini, Rumah Zakat mengangkat kampanye Sharing Happiness yang menjadi sebuah platform crowdfunding. Kampanye ini akan melibatkan masyarakat untuk membangun gagasan program Rumah Zakat. Melalui kampanye ini, Rumah Zakat ingin melakukan gerakan berbagi untuk menyebarkan kebahagiaan melalui program pemberdayaan dan perbaikan kondisi sosial kemasyarakatan. “Kami fasilitasi melalui website sharinghappiness.org untuk menuangkan ide dan membiayai langsung programnya dari berbagai kategori, antara lain bantuan kepada anak yatim dan dhuafa, pembangunan infrastruktur, dan program kemanusiaan seperti aksi peduli bencana. Sejauh ini total program yang telah terdanai sebesar Rp 15 miliar,” ungkap Nur.

Program lain yang menjadi unggulan Rumah Zakat adalah Desa Berdaya. Program ini mengoptimalkan dana zakat, infak, shadaqah (ZIS), dan dana kemanusiaan dari para donatur untuk membangun desa melalui program pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Kemiskinan yang banyak terjadi di pedesaan menjadi fokus Rumah Zakat untuk melakukan pemberdayaan agar lebih mandiri. Rumah Zakat meyakini dengan membuat masyarakat desa menjadi mandiri, Indonesia akan menjadi negara yang hebat. “Per Mei 2017, total desa berdaya binaan Rumah Zakat sebanyak 1.074 titik desa di seluruh desa Indonesia. Hingga Desember 2017, target kami adalah 1.080 titik desa di Indonesia. Lebih jauh lagi, target kami hingga tahun 2023 adalah 14 ribu desa berdaya,” Nur memaparkan.

Pengoptimalan teknologi digital dilakukan Rumah Zakat sebagai cara utama menggaet donatur baru. Kemudahan yang diberikan teknologi juga dimanfaatkan untuk me-maintain donatur yang telah ada dan menggaet kolaborasi dengan berbagai pihak. Semua layanan dilakukan dengan sistem online yang dapat diakses di mana pun dan kapan pun. Rumah Zakat juga memberikan layanan Jemput Zakat Gratis, Konsultasi Zakat & Keislaman, serta laporan online. “Semua ini dilakukan Rumah Zakat untuk memberikan kemudahan, kedekatan, dan efisiensi untuk masyarakat. Hasilnya, per Mei 2017, jumlah dana ZIS yang telah diterima mencapai angka Rp 130 miliar. Ramadan lalu mampu memberikan kontribusi besar sebanyak 30% dibanding periode reguler. Untuk dana yang telah tersalurkan kurang-lebih Rp 100 miliar,” ungkapnya.

Nur menyampaikan bahwa edukasi mengenai berzakat masih menjadi tantangan. Menurutnya, zakat masih dipahami masyarakat sebatas zakat fitrah menjelang Idul Fitri saja. Padahal, masih banyak berbagai macam zakat yang dapat dilakukan selain zakat fitrah. “Selain itu, kebanyakan masyarakat masih berdonasi secara langsung tanpa melalui lembaga. Berdonasi melalui lembaga amil zakat sesuai dengan syariah yang dicontohkan Rasul bersama sahabatnya dengan dibentuk Baitul Mal,” katanya. Pengelolaan lembaga amil zakat adalah tepat sasaran dan sifatnya memberdayakan masyarakat secara merata.

Rumah Zakat berusaha memberikan program-program yang dapat menyinergikan kemudahan donatur dalam menyalurkan donasinya serta memberikan manfaat untuk penerima melalui program tersebut. Selain itu, amanah amil dalam menjalankan profesinya dapat berjalan optimal. “Amil Rumah Zakat adalah para pemuda berumur 20-an tahun dengan semangat tinggi untuk berjuang di Rumah Zakat,” ujar Nur. Ke depannya, Rumah Zakat akan melakukan perbaikan lagi untuk meningkatkan donatur dan ingin melibatkan mereka dalam kegiatan pemberdayaan yang diadakan Rumah Zakat.

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)