Tren Merger & Akuisisi Meningkat di Tengah Tantangan Integrasinya

Source: http://smart-money.co/bisnis/aksi-akuisisi-bank-kembali-marak

Aktivitas merger & akuisisi (M&A) di tahun 2017 dinilai meningkat. Hasil Ernst & Young (EY) Capital Confidence Survey 2017 menunjukkan bahwa secara global dan Asia Pasifik, kepercayaan terhadap M&A meningkat pesat.

Iwan Margono, Partner and Indonesia Leader, Strategy and Transformation EY Indonesia, dalam workshop Thought Leadership dengan topik Integrasi Pasca Merger (PMI), mengatakan bahwa tren M&A, termasuk aktivitas paska merger yang terjadi di kawasan Asia, berpotensi untuk menentukan peluang dan juga tantangan pada perusahaan-perusahaan Indonesia.

“Pemahaman yang jelas mengenai proses ini, dan memperhatikan contoh-contoh yang serupa, sangatlah penting bagi para pelaku usaha di Indonesia dalam menentukan strategi pertumbuhan dan perluasan bisnis melalui M&A,” ujar Iwan.

Tidak hanya memaksimalkan pendapatan jangka panjang, tambah Iwan, M&A diperlukan untuk menjangkau hal-hal yang tidak dapat diraih oleh perusahaan pada lingkup sebelumnya. “Berkembangnya pasar memberikan berbagai peluang, akses ke kapabilitas baru, dan memperoleh margin yang lebih tinggi di pasar asing,” tambahnya.

Integrasi Pasca Merger (PMI) sebagai tahap pengintegrasian perusahaan merupakan tantangan utama yang perlu dipersiapkan dengan matang. Hasil penelitian Transactional Leaders Forum 2016 yang mendapatkan input dari perusahaan-perusahaan besar dunia, menunjukkan bahwa terdapat berbagai tantangan untuk mencapai nilai yang diharapkan dari kegiatan M&A.

PMI sangat menantang dan riskan. Prosesnya dilakukan dalam waktu yang padat dan, di saat yang bersamaan, bisnis harus terus berjalan. Karambir Anand, Partner and ASEAN Leader, Strategy and Transformation EY Indonesia yang juga hadir dalam workshop, mengungkapkan, PMI telah mengubah situasi, bentuk dan menjadi masa depan dunia bisnis. Jika proses integrasi berjalan sukses, bisnis tersebut berpotensi memperluas jaringan ke lingkup global. Disisi lain, kegagalan integrasi dapat berimbas pada kemunduran seluruh proses merger.

"Sebagian besar merger gagal menciptakan nilai bagi para pemegang saham, dan ini menjadi penyebab terbesar kegagalan mengintegrasikan perusahaan dengan baik. Kurangnya komunikasi dan ketidakcocokan budaya, lanjut Karambir, adalah faktor utama mengapa integrasi,” ujar Anand.

Ia menekankan, beberapa best practice untuk integrasi merger yang efektif meliputi: Mendirikan integration management office (IMO) yang kuat, berfokus pada sinergi, dan memastikan semua fungsi back-end bersinergi dengan baik.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)