Tren Pemanfaatan Kecerdasan Buatan

Jika Anda memiliki akun media sosial Facebook, tentunya sudah tidak asing dengan fitur ‘tag suggestion’. Secara otomatis Facebook biasanya akan merekomendasikan agar sebuah foto di-tagging atau dibagi kepada orang yang berada di foto tersebut.

Dengan mudah media sosial ini dapat  mengenali wajah-wajah teman yang berada di foto yang Anda unggah. Anda tinggal mengklik untuk membagikannya, tanpa harus mengetikkan lagi nama akun teman Anda tersebut. Ya, teknologi yang digunakan oleh Facebook itu sebenarnya sudah jamak digunakan. Teknologi "Face Detection Engine" atau mesin deteksi wajah otomatis itu juga telah digunakan oleh piranti lunak dan layanan online untuk menyunting foto, seperti Picasa dan iPhoto dari Apple.

Meskipun sudah sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak orang belum paham teknologi yang ada di baliknya. Ya, sejak dari beberapa dekade lalu, kemampuan sebuah komputer untuk bisa menirukan fungsi kognitif manusia sudah menjadi perbincangan. Sejak pertama kali komputer diciptakan, manusia sudah memikirkan bagaimana caranya agar komputer dapat belajar dari pengalaman. Hal tersebut terbukti pada tahun 1952, Arthur Samuel menciptakan sebuah program, game of checkers, pada sebuah komputer IBM. Program tersebut didesain dapat mempelajari gerakan untuk memenangkan permainan checkers dan menyimpan gerakan tersebut kedalam memorinya.

Dalam proses tersebut ada usaha untuk mengembangkan algoritma komputer untuk mengubah data menjadi aksi cerdas. Proses itu lah yang kini saat ini lebih dikenal dengan teknologi machine learning atau pembelajaran mesin. Machine learning sendiri adalah ilmu cabang dari kecerdasan buatan yang mempelajari bagaimana caranya belajar dari data.

Dalam lingkup bisnis sekarang ini penggunaan kecerdasan buatan sedang menjadi tren. Banyak perusahaan rela merogoh kocek besar untuk berinvestasi di kecerdasan buatan. Contohnya, Intel Corp yang menanamkan investasi US$1 juta pada perusahaan-perusahaan yang berkontribusi untuk kemajuan kecerdasan buatan. Begitu juga dengan Alibaba Group Holding Ltd yang disebut akan merogoh kocek sekitar US$15 miliar  untuk berinvestasi di bidang penelitian dan pengembangan teknologi dalam tiga tahun ke depan.

Lalu, apa sebenarnya yang kecerdasan begitu menarik bagi kalangan pengusaha? Mark Coopersmith, seorang Fortune 500 Global Executive sekaligus Silicon Valley entrepreneur, mengungkapkan, kecerdasan buatan bisa diaplikasikan dalam rangka membantu operasional perusahaan. Profesor di UC Berkeley ini mengungkapkan untuk customer support misalnya, banyak perusahaan menggunakan kecerdasaan buatan berupa chatbot untuk menggantikan fungsi-fungsi customer service. Beberapa perusahaan kata dia, juga menggunakan kecerdasan buatan sebagai virtual personal assistants.

Di Industri keuangan, kecerdasan buatan digunakan sebagai investment advisor. Sedangkan di industri e-commerce, banyak perusahaan menggunakannya untuk product and service personalization. Di bidang transportasi sudah banyak inisitaif kendaraan nir awak atau autonomous vehicles bermunculan. “Banyak sekali yang AI dapat lakukan, khususnya dalam kemampuannya mengidentifikasi masalah dan memberikan rekomendasi, ” ungkap dia ketika mengisi seminar Innovation Entrepreneurship yang dihelat oleh Maybank Indonesia.

Berdasarkan riset konsultan dan audit PricewaterhouseCoopers (PwC), solusi AI, kata dia akan memberikan dampak otomasi sangat bervariasi di seluruh sektor industri. Di bidang transportasi dan penyimpanan misalnya, dampak efisiensinya berkisar 56%, manufaktur (46%) dan perdagangan grosir dan eceran (44%), dan industri keuangan sebesar 40%. “Wajar saja jika banyak perusahaan berlomba-lomba menggunakannya," dia menjelaskan.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)