Tri Hita Karana Forum: Blended Finance and Innovation for Better Business Better World

Pemerintah akan membantu dengan pemberian insentif berupa regulasi dalam rangka mendorong implementasi blended finance sebagai alternatif pembiayaan infrastruktur. Skema blended finance ini diharapkan bisa mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals ( SDGs). Demikian dinyatakan Menko Maritim RI, Luhut B Panjaitan saat membuka secara resmi Forum Tri Hita Karana (THK) di Sofitel Hotel Nusa Dua  Bali, Rabu, (10/10/2018).

Forum yang berlangsung hingga tanggal 11 Oktober ini mengangkat tema "Blended Finance and Innovation for Better Business Better World",  terselenggara atas kerja sama  Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Keuangan. Anggota Satuan Tugas Pemerintah termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pembangunan dan Perencanaan Nasional, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Sarana Multi Infrastruktur (SMI) , dan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

THK Forum akan meluncurkan lebih dari 30 proyek, investasi dan inisiatif  yang terkait dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dari United Nations – sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengakhiri kemiskinan, menanggulangi perubahan iklim dan melindungi planet.

“THK Forum ini dapat mengerahkan investasi hingga 10 miliar dolar untuk proyek yang terkait dengan SDGs,  dari modal swasta untuk sektor yang menjadi prioritas di Indonesia, termasuk infrastruktur penghijauan, penggunaan lahan lestari, kelautan, ecotourism, kesehatan, perempuan dan inovasi”, tambah Luhut.

Sebagai negara dengan populasi tertinggi keempat di dunia, dan pasar dengan pertumbuhan  tercepat, kepemimpinan Indonesia dalam mencapai perkembangan berkelanjutan menjadi aspek yang sangat penting dan THK Forum merupakan platform pertama di bidangnya dan menjadi konferensi terbesar yang didedikasikan untuk blended finance dan inovasi di dunia.

Jeremy Oppenheim, Chair of the global Blended Finance Taskforce dan Founder of SYSTEMIQ – sebuah perusahaan yang dihadirkan untuk mempercepat diselenggarakannya SDGs bagi berbagai sistem perekonomian, menyatakan  bahwa THK Forum memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin untuk SDGs. “Indonesia memiliki pertumbuhan inklusif yang berkualitas – berdasarkan infrastruktur rendah karbon, penggunaan lahan yang berkelanjutan, eco-tourism dan blended finance – menjadi poin utama dalam strategi ekonominya, ini akan menginspirasi negara lain di seluruh dunia untuk meningkatkan standarnya dan menunjukan ambisi dan tindakan pada level yang sama”.

Pada awal tahun, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerbitkan konsep obligasi hijau yang dilakukan oleh negara ($1,25 miliar). Indonesia juga menjadi rumah pertama di dunia untuk obligasi penggunaan tanah berkelanjutan ($95 juta) dan telah mengimplementasikan Roadmap for Sustainable Finance di Indonesia.

Melanjutkan tren ini, THK Forum mengedepankan konsep “SDG Indonesia One”. Blended Platform yang dipimpin oleh Kementerian Keuangan serta institusi infrastruktur finansial nasional,  PT SMI (Sarana Multifinance Infrastruktur).

SDG Indonesia One juga menargetkan proyek senilai 4 miliar dollar Amerika Serikat untuk infrastruktur hijau dalam skala besar. Dana yang tergabung melalui platform ini sudah mencapai 2,34 miliar dolar. Inisiatif penting lainnya termasuk proyek energi terbarukan dan transportasi emisi rendah,

sebuah peta jalan bagi masa depan industri pangan dan penggunaan lahan di Indonesia, serta pembukaan dari Tsinghua University’s Southeast Asia Centre di United in Diversity Creative Campus di Kura Kura Bali.

Mari Pangestu,  President of the United in Diversity Foundation mengatakan bahwa “Pusat ini akan menjadi yang pertama dalam bidangnya untuk SDGs.” seraya menambahkan  Tsinghua SEA Center akan mendorong inovasi baru, teknologi, serta kewirausahaan untuk membawa akademisi terdepan ke generasi selanjutnya untuk menemukan solusi yang dilakukan secara kolaboratif, sebuah aspek yang dibutuhkan untuk masa depan.

Ke semua itu akan berkontribusi terhadap target ambisius iklim Indonesia (yang telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas efek rumah kaca minimal sebesar 29% yang termasuk dalam Paris Agreement). Sejalan dengan program infrastruktur nasional Indonesia yang menargetkan untuk menghadirkan pengerjaan proyek publik senilai 400 dolar Amerika Serikat dalam sektor transportasi, energi, pengairan dan pengelolaan sampah dalam waktu lima tahun ke depan. Peluang yang hadir tidak hanya untuk membangun pembangunan infrastruktur, namun juga untuk memberikan infrastruktur berkelanjutan yang akan mencapai pertumbuhan berkualitas serta pembangunan berkelanjutan.

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)