UMKM Generasi Muda Diharapkan Mampu Penuhi Kebutuhan Pasar Internasional

Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf Muhammad Neil El Hilman optimistis generasi muda saat ini dapat memperluas ekspansi bisnisnya hingga ke kancah internasional. Hal itu diungkapkan dalam webinar bertajuk “Menjadi UKM Juara Kelas” yang diselenggarakan oleh Galang UMKM Indonesia (GUKMI).

“Generasi sekarang sangat kreatif, kami yakin bahwa brand Indonesia ini bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tapi juga bisa memenuhi kebutuhan pasar internasional,” ujarnya. Hilman menjelaskan, sepanjang 2010-2017, angka PDB sektor ekonomi kreatif terus meningkat seiring dengan tren kontribusinya terhadap perekonomian nasional yang juga positif. Dari Rp 526 triliun pada 2010, PDB ekonomi kreatif dan kontribusinya meningkat hingga Rp 989 triliun pada 2017. Menurutnya, faktor peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh 3 sektor, diantaranya kuliner, fesyen, dan juga kriya.

Ia kemudian mengungkap secara estimasi, PDB ADHB nominal ekonomi kreatif tahun 2018-2020 mengalami tren positif. Namun, secara pertumbuhan PDB ADHK di Tahun 2020 mengalami pertumbuhan sebanyak -2,39%. Lebih lanjut Hilman mengatakan, pada 2019, ketiga subsektor menyumbang US$ 19,65 miliar dari US$ 19,68 miliar total ekspor ekonomi kreatif. Dari ketiga subsektor tersebut fesyen berkontribusi paling besar yaitu 63%.

Selain fesyen yang berkontribusi hingga 63% dan mencapai angka Rp 12,22 miliar, sub sektor kriya menyumbang 30% dengan jumlah Rp 6,10 miliar di tahun 2019, dan sub sektor kuliner dengan total 7% sejumlah Rp 1,33 miliar di tahun yang sama.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Jacky Mussry, Presiden Indonesia Council for Small Business sekaligus CEO & Dean MarkPlus Institute, memaparkan pentingnya aspek-aspek tertentu seperti diferensiasi, operasional, positioning, unique selliing point, dan target pasar dalam memasarkan suatu produk.

Dalam hal unique selling point, pelaku UKM harus memetakan apa keunikan yang dapat dijual dalam merek tersebut. Pentingnya membangun merek dengan kualitas yang bagus serta turut mengembangkan citra dari merek itu lewat hubungan masyarakat berstrategi tepat dapat menguatkan posisi merek dalam jangka panjang.

"Misalnya belum diperjelas positioning-nya, positioning adalah bagaimana menempatkan merek kita di benak konsumen. Ada spesifikasi yang ingin kita tanamkan di benak konsumen. Ini perlu komunikasi yang cukup baik melalui platform digital," jelas dia.

GUKMI merupakan wadah kolaborasi antara pihak pemerintah, BUMN, swasta, serta kampus untuk meningkatkan daya saing UKM di Indonesia. GUKMI telah dilaksanakan di puluhan kota dari tahun 2016, dan dihadiri lebih dari 5.000 UKM dari seluruh Indonesia.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)