Unilever Dorong Pemberdayaan Perempuan di Indonesia

Unilever secara resmi menandatangani CEO Statement untuk Women Empowerment Principles (WEP) yang digagas oleh UN Global Compact dan UN Women. Dengan adanya penandatanganan ini, maka perusahaan akan menerapkan kesetaraan ini tempat kerja dan melakukan pemberdayaan perempuan di lingkungan proses produksinya.

Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, mengatakan penandatangan ini akan mendorong perusahaan untuk mencapai target kesetaraan gender di dalam Sustainable Development Goals 2030 yang dicanangkan PBB.

“Dengan bergabung dengan komunitas WEP, perusahaan telah menempatkan komitmen ini di level tertinggi perusahaan dan siap untuk bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong praktik bisnis yang memberdayakan perempuan,” kata dia menambahkan.

7 prinsip yang menjadi landasan kesepakatan tersebut adalah kepemimpinan yang mendukung kesetaraan gender, memperlakukan pekerja perempuan dan laki-laki secara setara, menjamin kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan seluruh pekerja perempuan dan laki-laki, mendorong pendidikan, pelatihan dan pengembangan profesi untuk perempuan, melaksanakan pengembangan usaha, serta rantai pasokan dan praktik pemasaran yang mendukung kesetaraan gender, mempromosikan kesetaraan melalui kegiatan komunitas dan advokasi, dan melaporkan secara terbuka tentang kemajuan yang telah dicapai perusahaan dalam mencapai kesetaraan gender.

“Kami ingin merayakan Hari Kartini tahun ini sebagai momentum untuk menyebarluaskan pentingnya kesetaraan gender kepada seluruh stakeholder, ” kata dia.

Selain itu, Unilever Indonesia mendukung dan memperhitungkan suara perempuan untuk menciptakan demokrasi yang inklusif. Untuk itu, dalam kesempatan yang sama, perusahaan juga tergabung dalam Unstereotype Alliance yakni gerakan untuk mengubah stereotip dan bias gender dalam menggambarkan sosok perempuan pada medium iklan.

Upaya Unilever Indonesia mewujudkan kesetaraan gender di tempat kerja sudah dilakukan sejak tahun 2009. Salah satu kebijakan yang diterapkan perusahaan adalah menempatkan perempuan pada posisi direktur dalam organisasi Unilever Indonesia, yakni sebanyak 44,1%. Sementara di level manager, ada sebanyak 40,7% perempuan yang mengisi posisi tersebut.

Untuk mendukung aktivitas perempuan di tempat kerja, perusahaan juga menyediakan daycare, ruang laktasi, dan cuti melahirkan selama 4 bulan untuk karyawan perempuan. Sementara bagi karyawan pria, Unilever Indonesia memberikan paternity leave selama 3 minggu, agar mereka bisa membantu istrinya dalam merawat anaknya yang baru lahir.

Guna mendorong perempuan berkarier di bidang teknik yang selama ini masih menjadi stigma laki-laki, perusahaan memiliki program Women in Engineering Leadership Fellowship.

“Kami memiliki program pemberdayaan perempuan yang dari mulai pemberdayaanlangsung ke masyarakat, edukasi tentang keperempuaan, sampai pemberiaan beasiswa yang kami salurkan melalui brand-brand Unilever Indonesia,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)