Unjuk Gigi Pelaku Industri Kaca Asia Tenggara di Glasstech Asia 2019

Selain memamerkan produk kaca beserta teknologi terkini di industri kaca di Asia Tenggara, pameran ini juga menjadi pusat pertemuan pelaku usaha bersama pakar internasional.

Pameran Glasstech Asia kembali digelar. Di tahun ke-17 nya ini, ada 124 pelaku usaha dari 14 negara memamerkan produk kaca dan teknologi terkini di Glasstech Asia 2019. Pameran ini digelar bersamaan dengan Fenestration Asia 2019 ke-4 yang berlokasi di lndonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, pada 12-14 November 2019.

Tidak hanya menjadi pusat pertemuan pelaku usaha bersama pakar internasional, pameran ini juga memberikan pemahaman luas dalam sektor manufaktur dan pemrosesan produk berbahan kaca, termasuk berbagai teknologi terkini dan inovasinya.

Selain itu, pelaku usaha juga dapat bertukar informasi mengenai perkembangan terbaru dan tantangan yang dihadapi industri, sembari memanfaatkan pasar Indonesia yang berkembang bersama negara-negara Asia Tenggara Iainnya.

Menurut Dody Widodo, Staf Ahli Menteri Bidang Pendalaman, Penguatan dan Penyebaran Industri, Kementerian Perindustrian, ke depannya pembangunan di Indonesia akan sangat besar dan begitu pula kebutuhan terhadap kaca.

“Pemerintah mengundang investor untuk masuk ke sini (Indonesia), karena di Indonesia baru ada dua pemain besar. Sehingga, kita perlu mengundang investor industri kaca dan industri pendukungnya,” ujarnya di ICE BSD, Tangerang, (12/11/2019).

Ia pun menambahkan, bahwa pemerintah saat ini sedang mendorong pasar terbuka dengan negara lain, baik secara tradisional maupun non tradisional. “Kami berharap industri kaca ini bisa menjadikan Indonesia sebagai basis untuk ekspor, khususnya ke Afrika. Biasanya investor ragu bila ingin ekspor ke Afrika, namun kami sudah punya programnya,” tegas Dody.

Lalu berkaitan dengan kaca hemat energi, menurut laporan Research and Markets 2018, permintaan kaca hemat energi di Indonesia diperkirakan bertumbuh (CAGR) 13,1% per tahun pada periode 2019-2025. Selama periode tersebut, pasar berpotensi meraup penjualan US$106.70 juta pada 2025 atau meningkat dibanding US$50.13 juta pada 2019.

Gan Geok Chua, Ketua Asosiasi Kaca Singapura, menuturkan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari 6 negara yang mengalami pertumbuhan pesat diantara negara-negara lain, seperti China, India, Vietnam, serta Thailand.

“Dalam skala internasional pada tahun 2024, pasar diprediksi akan mencapai nilai US$100 miliar untuk sektor konstruksi itu sendiri. Pasar lainnya yang tak juga kalah menggalami permintaan tinggi adalah dari industri solar energy, otomotif, dan elektronik,” papar Gan.

Berkaitan dengan hal tersebut, wilayah Asia Pasifik diperkirakan masih menjadi pemimpin pasar industri kaca lembaran dengan pangsa pasar 60-65% pada 2014 lalu. Di Asia Pasifik, kaca lembaran banyak digunakan oleh pelaku industri otomotif dan konstruksi.

Namun, urbanisasi dan pertumbuhan sektor real estate di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, India, Vietnam dan Thailand juga disebut ikut mendongkrak pasar permintaan kaca lembaran. Pangsa pasar Asia Pasifik untuk kaca lembaran ditargetkan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya, terutama di China, India, dan Asia Tenggara.

Edward Liu, Direktur Pengelola Grup CEMS Pte Ltd, mengatakan bahwa di gelarannya saat ini, pihaknya mengharapkan kehadiran 5.000 pengunjung, baik dari pengusaha hingga delegasi konferensi dan mencetak nilai transaksi yang besar setelah pameran ini berlangsung.

“Pameran ini diharapkan menjadi pusat pengetahuan para pelaku usaha untuk menghadirkan bahan bangunan yang ramah lingkungan, termasuk kaca lembaran. Capaian nilai transaksi pun diharapkan mencapai US$50 juta dalam setahun ke depan,” tegasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)