Upaya Pemkab Pasuruan dan Mitra Kelola Sampah Berkelanjutan

Fasilitas ini akan mengelola pengumpulan dan pemilihan sampah serta proses daur ulang di Kecamatan Lekok dan Nguling untuk pertama kalinya

Pemerintah Kabupaten Pasuruan di Jawa Timur memperkuat komitmennya untuk mengurangi pencemaran sampah plastik di lautan dengan mengalokasikan dua hektar lahan untuk pembangunan fasilitas TPST3R (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Reuse-Reduce-Recycle) Project STOP (Stop Ocean Plastics).

Fasilitas ini akan mengelola pengumpulan dan pemilihan sampah serta proses daur ulang di Kecamatan Lekok dan Nguling untuk pertama kalinya. Komitmen ini dituangkan dalam Nota Kesepahaman yang ditandatangani untuk Project STOP di Pasuruan (29/2/2020).

Saat ini, hanya 9% penduduk di Pasuruan yang memiliki akses terhadap layanan pengelolaan sampah, dan hanya 1% dari jumlah sampah tersebut dikelola secara bijak. Penduduk lain tidak memiliki pilihan, selain membuang sampah di lingkungan sekitar mereka.

Diluncurkan pada 2017, Project STOP merupakan sebuah inisiatif dari Borealis dan Systemiq yang merancang, mengimplementasikan, dan mengembangkan solusi ekonomi sirkular untuk mencegah polusi plastik di Asia Tenggara. Bekerja sama dengan berbagai perusahaan, pemerintah setempat, serta kelompok masyarakat, Project STOP mendukung kota-kota mitra dengan bantuan teknis guna mencapai target tidak adanya kebocoran sampah di lingkungan, memperbaiki sistem ekonomi sirkular, menciptakan lapangan kerja baru di bidang pengelolaan sampah, dan mengurangi dampak negatif dari sampah yang tidak dikelola dengan baik terhadap kesehatan masyarakat, pariwisata, dan perikanan.

Tujuan jangka panjang Project STOP adalah menciptakan solusi-solusi dan model-model baru yang dapat diadopsi dengan cepat di seluruh mata rantai plastik, mulai dari penggunaan plastik hingga pengumpulan dan daur ulang sampah di daerah yang memerlukan perbaikan di manajemen sampah plastik. Project STOP juga telah berkontribusi dalam menyelesaikan masalah plastik di Muncar, Jawa Timur dan di Jembrana, Bali.

Borealis dan Systemiq, bersama dengan Nestlé dan mitra lainnya serta dukungan positif dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan meluncurkan kemitraan kota tahun lalu. Dengan fokus di kecamatan Lekok dan Nguling, inisiatif ini bertujuan untuk menerapkan sistim pengelolaan sampah berkelanjutan dengan biaya rendah yang akan meningkatkan tingkat pengumpulan sampah dan mencegah pencemaran sampah ke laut.

“Kami termotivasi untuk bekerja sama dengan Nestlé dan Project STOP dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang holistik. Hal ini merupakan salah satu upaya pengembangan yang penting dalam membantu Indonesia mencapai target pengurangan sampah di lautan hingga 70% pada 2025,” ujar Bupati Pasuruan, H. M. Irsyad Yusuf. Dia berharap program ini dapat membantu Pemda menciptakan pengelolaan sampah mandiri yang ekonomis, sehingga dapat diterapkan di seluruh daerah. Program ini tidak hanya menyediakan lapangan kerja baru, tapi juga meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengatasi masalah lingkungan yang disebabkan oleh pengelolaan sampah plastik yang tidak tepat.

Di 2019, tim Project STOP di Pasuruan telah melakukan penelitian yang mencakup pemetaan sosial, pemetaan infrastruktur daur ulang, serta pemilahan jenis sampah dan tata kelola. Hasil dari penelitian tersebut kemudian digunakan untuk membuat strategi paling tepat dalam menciptakan ekonomi sirkular di wilayah ini.

CEO Borealis, Alfred Stern, mengatakan, perluasan kerja sama Project STOP ke lebih banyak kota merupakan langkah penting untuk memperbaiki sirkularitas plastik, khususnya di daerah yang memiliki tingkat kebocoran sampah yang tinggi.

“Pada intinya, Project STOP berfokus pada keterlibatan masyarakat dan kepemimpinan pemerintah. Mencegah sampah plastik terbuang langsung ke lingkungan merupakan tujuan utama kami dengan Kabupaten Pasuruan, komunitas dan mitra kami,” kata Program Director, Ocean Plastics Asia, dan Partner di SYSTEMIQ, Joi Danielson. Dengan pendirian TPST3R, pihaknya berambisi tahun 2022, akan mampu mengelola setidaknya 1.500 ton sampah plastik dengan baik setiap tahunnya.

Bekerja sama dengan para pemuka masyarakat di Pasuruan, Project STOP memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah serta mulai menyiapkan infrastruktur untuk sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Project STOP juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan pendapatan tambahan, contohnya melalui penyewaan sepeda motor roda tiga yang dimiliki oleh masyarakat lokal sebagai alat untuk pemungutan sampah yang telah dipilah dari rumah warga.

Nestlé adalah perusahaan makanan dan minuman pertama yang bekerja sama dengan Project STOP. Perusahaan berkomitmen mendukung inisiatif ini dengan memberikan dana sebesar 1,6 juta Swiss Franc, sebagai tambahan dukungan finansial dari para co-founder Borealis, Pemerintahan Norwegia, Borouge, Veolia, dan NOVA Chemicals.

“Nestlé berkomitmen untuk memastikan 100% kemasan kami dapat didaur ulang atau digunakan kembali pada 2025. Pendekatan kami untuk menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan dan sirkular, berfokus pada tiga pekerjaan utama, yaitu pengembangan kemasan untuk masa depan, membantu menciptakan masa depan bebas sampah, serta mendorong perubahan perilaku dan memberikan pemahaman baru tentang bagaimana kita menggunakan kemasan,” ujar Presiden Direktur Nestlé Indonesia Dharnesh Gordon.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)