Upaya Tommy Yuwono Besarkan Pinduit

Tommy Yuwono , Pendiri Pinduit

Perusahaan berbasis financial techonology (fintech) P2P, Pinduit terus memperluas jangkauannya dengan memperkenalkan diri pada berbagai universitas dan pendidikan vokasi. Pinduit merupakan salah satu fintech yang memberikan pinjaman untuk sektor pendidikan.

Hadir pada tahun 2018, Pinduit didirikan oleh Tommy Yuwono dan Ioann Fainsilber untuk membantu masyarakat Indonesia agar dapat menjalani pendidikan mulai dari taman kanak-kanak, sekolah menengah, universitas, sampai program pascasarjana dan pelatihan kejuruan. Tommy dan Ioaan sendiri adalah profesional di bidang bisnis dan keuangan.

Tommy pernah menjalani karier di Milestone Interactive Digital Magazine (2011) sebagai Founder dan CEO MNC Sekuritas (2014) sebagai Investmen Banking, Ayopop (2016) sebagai Co-Founder. Sementara, Ioann pernah menjalani karier di Ondra Partners (2013) sebagai Investment Banking Analyst, Morgan Stanley (2014) sebagai Technology IBD Analyst, Silver Lake (2016) sebagai Private Equity Associate, dan Ayopop (2017) sebagai Chief Financial Officer.

Bagaimana Tommy dan Ioann membangun Pinduit ini? Berikut kutipan wawancara SWA Online dengan Tommy Yuwono saat ditemui usai media gathering di Jakarta:

Apa latar belakang Anda mendirikan Pinduit?

Kami ingin memberikan akses keuangan inklusif yang pertama dalam hal pendidikan, karena banyak sekali orang-orang yang tidak memiliki akses khususnya untuk pendidikan tinggi. Akses itu sangat terbatas hanya sekitar 28% orang yang bisa melakukan pendidikan tinggi, dan ternyata tren nya tidak hanya pendidikan formal tetapi juga informal, seperti kursus dan pendidikan vokasi yang langsung memberikan akses ke lapangan pekerjaan. Akan tetapi, mereka juga masih terbatas salah satunya karena biaya.

Oleh karena itu, Pinduit hadir dengan misi membangun keuangan inklusif ini melalui pendidikan, karena kita tahu pendidikan itu sangat berdampak terhadap culture komunitas, pribadi itu sendiri, dan juga bangsanya. Hal ini pun sesuai dengan pengalaman personal saya. Saya dulu waktu kuliah mendapat full scholarship, memang bukan dari pinjaman pendidikan karena dulu tidak ada. Akhirnya untuk scholarship itu saya cari sana-sini segala macam, makannya saya tahu susahnya cari pinjaman pendidikan.

Bagaimana mulanya Anda dan Ioann bertemu dan merumuskan model bisnis Pinduit?

Kami sama-sama pernah bekerja di Ayopop, dan saat itu saya memimpin internal project untuk pembayaran tagihan pendidikan. Saya bertemu dengan sekolah-sekolah dan ternyata kebutuhannya justru di pinjaman pendidikan itu belum ada. Saya merasakan bahwa masalahnya bukan di channel apa kita bisa membayar tagihan pendidikan, melainkan bagaimana orang-orang memiliki uang untuk membayar tagihan pendidikan. Akhirnya, pada akhir 2017 saya berkomitmen di Pinduit dan mendapat restu dari partner-partner di Ayopop. Saya rasa juga memang lebih baik dipisahkan dengan internal project sebelumnya, karena secara regulasi tidak boleh digabung.

Saat itu pun kebetulan Ioann itu dari Perancis dan tentunya sudah umum sekali dengan student loan di luar negeri, dan di sana model seperti Pinduit ini sudah banyak dan sudah besar. Ioann pernah bekerja di Silver Lake Partners, dia pernah menangani transaksi student loan seperti itu, jadi dia tau apa yang dibutuhkan untuk membangun student loan. Oleh karena itu, kami sama-sama berpikir untuk mengembangkan Pinduit.

Sekarang sudah ada berapa peminjam dan berapa nilai pinjaman yang telah disalurkan?

Pinduit sudah satu tahun, Januari 2018 kami pilot dulu dan resmi terdaftar di OJK sejak Oktober 2018. Walaupun kami resmi mengumumkan ke publik mulai Oktober, tetapi sudah menyalurkan pinjaman sejak Maret 2018. Saat ini total peminjam sekitar 300 student dengan penyaluran pinjaman sudah lebih dari Rp3 miliar. Pinduit juga menawarkan minimal pinjaman mulai dari Rp 3 juta- 300 juta, dengan bunga cicilan antara 1 - 1,5% per bulan karena tergantung dengan institusi pendidikannya, setiap institusi memiliki risiko yang berbeda.

Adapun persyaratannya mudah hanya dengan menyiapkan data KTP penjamin, kartu keluarga dan mutasi transaksi Bank tiga bulan terakhir. Kami juga sudah bermitra dengan lebih dari 40 lembaga pendidikan formal dan non formal, seperti Wall Street English, London School & Acountancy Finance, MRA Broadcasting, Universitas Borobudur, dan Universitas 17 Agustus 1945.

Apa kelebihan Pinduit dibandingkan dengan fintech pendidikan lainnya?

Ini fintech dari dalam negeri, pure produk dari Indonesia, memang salah satu co-foundernya dari Perancis tapi ini fintech Indonesia. Kami pun menitikberatkan care dengan mitra-mitra kami, karena partner kami yang tahu kebutuhan student-student. Oleh karena itu, kami ingin mengembangkannya, jadi tidak hanya memberikan akses untuk pinjaman pendidikan tetapi juga melakukan pembinaan-pembinaan apa yang harus dilakukan setelah kamu punya uang itu, kualitas pendidikan itu seperti apa.

Apa saja tantangan membangun Pinduit? Apa solusi yang dilakukan?

Di industri pendidikan Indonesia, pinjaman seperti ini belum umum dan apalagi dari sisi pendidikan mereka berpikir bahwa selama ini sudah jalan seperti ini ya kalau tidak mampu silakan cari sekolah lain, itu miris kenapa tidak memberikan peluang yang sama untuk semua orang. Kemudian, di Indonesia untuk kredit scoring, semua perusahaan fintech mengalami hal yang sama, kesulitan untuk mengakses data peminjam. Dengan bantuan teknologi, kami akan upgrade terus dengan data point yang baru seperti melakukan kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi, e-commerce, dan korporasi. Mesin kami mempunyai algoritma yang mempelajari behavior orang-orang. Jadi semakin banyak datanya, semakin banyak kita memberikan pinjaman, semakin banyak juga data yang kita pelajari, akhirnya kita bisa ada asumsi-asumsi untuk orang-orang yang datang mengambil pinjaman sehingga kami bisa memberikan jawaban lebih cepat dan meminta persyaratan dokumen seminimal mungkin.

Apa target Pinduit ke depan?

Tahun ini Pinduit ingin bisa mendanai 10.000 student dengan penyaluran pinjaman mencapai Rp 100 Miliar. Tujuan kami adalah menjadi platform student loan yang memberikan akses ke semua orang di Indonesia serta bisa memberikan sumbangsih untuk mitra-mitra institusi pendidikan itu sendiri. Jadi bisa ada kolaborasi, bisa ada beasiswa, bisa ada pengembangan guru-guru atau dosennya.

Kemudian, di 2019 ini ada enam hal yang ingin kami capai, pertama technology scoring system, kami akan menambah data-data point of view baru sehingga lebih cepat dalam memberikan jawaban untuk approval atau tidak. Lalu lead generation and collaboration, kami tidak hanya memberikan akses pinjaman pendidikan tetapi kami akan menampilkan profil-profil mitra di situs kami.

Kami juga akan memberikan akses pada beasiswa pendidikan, program magang dan penerimaan pekerjaan, serta membuat Komunitas Pinduit, di mana mereka dapat saling berbagi informasi. Kami harap komunitas ini dapat sama-sama membangun dan memberikan awareness terhadap pentingnya pendidikan dan akses terhadap pendidikan itu sendiri. Pinduit juga tahun ini akan melakukan perubahan nama dan logo menjadi Pintek Finance. Setelah dapat surat dari OJK, kami akan sosialisasikan secara luas.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)