Usaha Lokal Melesat di Tangan Generasi Kedua

Indonesia punya banyak pengusaha lokal yang sukses menjadi raja di negeri sendiri, bahkan disegani di dunia. Contohnya, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dengan produk fesyen dan seragam militernya. Dari sepetak toko baju di Pasar Klewer, Solo, Sritex kini punya mimpi merebut pasar tekstil China. Pengusaha daerah lainnya yang bisa menjadi teladan adalah pendiri Dafam Group, Sekar Group, dan Sambal Jeng Ida.

“Produknya sudah mendunia. Saya menjadi saksi kontrak ekspor lima kontainer ke Hong Kong. Isinya, sambal, keripik, rempeyek, dan emping. Ini belum termasuk yang dikirim ke Korea. Mereka sedang menjajaki pasar Eropa,” kata Jahja B. Soenarjo, Chief Consulting Officer Direxion.

Jahja B.Soenarjo Jahja B.Soenarjo

Menurut dia, kekuatan pengusaha daerah adalah semangat pantang menyerah dan berani melangkah jauh untuk menguasai Jakarta. Ibukota Negara ini adalah tempat yang tepat untuk mengasah insting bisnis, membangun jejaring, belajar banyak hal karena 80% perputaran uang ada di kota ini.

“Tantangan paling sering dihadapi pengusaha lokal untuk menjadi besar dan pemain nasional dan bahkan dunia adalah takut gagal, comfort zone alias sudah menjadi raja di daerahnya dan malu-malu,” ujar dia.

Dia menjelaskan, perubahan besar biasanya terjadi di generasi kedua. Generasi inilah yang membuat gebrakan yang kerap melawan arus orang tuanya. Jahja mencontohkan sukses Alexander Foe membangkitkan Nagatex.

Sritex semakin disegani di dunia salah satunya berkat tangan dingin anak HM Lukminto, yakni Iwan Kurniawan Lukminto. Meski tengah kuliah, Desideria Utomo berani mengambil alih Kobe Lina Food, bisnis yang dibangun kedua orang tuanya Hesti Utomo dan Sarwo Utomo.

“Di tengah generasi kedua yang masih berusia muda, perusahaan keluarga ini semakin besar. Ini bukti kalau pengusaha daerah itu tangguh dan berani terus mencoba walau berulang kali gagal,” katanya.

Jahja menegaskan, pengusaha daerah saat ini menghadapi tantangan yang berbeda meski peluang yang bisa digarap pun semakin banyak. Kuncinya adalah berani berinovasi seiring permintaan yang semakin tinggi dari konsumen. Di era digital seperti sekarang, ekonomi saat ini juga bisa berubah drastis.

“Sekarang ini eranya disrupsi ekonomi, sudden change. Pengembangan bisnis digital dan aplikasi tidak bisa dihindari. Semua itu harus dilakukan dengan cermat karena sangat menguntungkan,” ujar dia. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)