Vaksin Covid-19 dari Bio Farma Siap di Kuartal I-2021

Sebagai produsen vaksin plat merah yang rekam jejaknya sudah mendunia, Bio Farma diberi amanah oleh pemerintah untuk bisa segera membuat vaksin untuk melawan virus Covid-19 yang menjadi pandemi paling mengerikan dalam sejarah manusia ini. Lantas sudah sejauh mana amanah ini dikerjakan perusahaan yang juga menjadi holding BUMN farmasi itu? Direktur Marketing, Riset dan Pengembangan Bio Farma, Sri Harsi Teteki membagikan cerita perkembangan terkini proses pembuatan vaksin yang paling ditunggu-tunggu dunia saat ini dalam acara Brand Forum Indonesia 2020, Senin (30/6) lalu.

Menurut Teki—sapaannya—Bio Farma sedang menyiapkan vaksin Covid-19 ini melalui dua skema, yaitu skema jangka panjang dan skema jangka pendek. Skema jangka panjang pihaknya berkolaborasi dengan Lembaga Biomolekuer Eijkman dibawah Kementerian Riset dan Teknologi. Melalui skema ini vaksin Covid-19 disiapkan mulai dari tahap paling awal yakni meyiapkan bibit hingga menghasilkan vaksin yang siap diproduksi massal. Skema ini memakan waktu lama, diperkirakan vaksin yang dihasilkan lewat skema ini baru akanaa ada hasilnya di akhir tahun 2021.

“Tetapi karena kebutuhan vaksin ini segera, maka kami pikirkan untuk menempuh juga skema kedua yakni jangka pendek,” jelasnya. Skema jangka pendek ini digarap Bio Farma dengan menggandeng Sinovac Biotech Ltd, sebuah perusahaan bioteknologi swasta asal China. Skema ini disebut jangka pendek karena pihaknya memangkas tahap pembuatan bibit atau bulk.

“Bulknya kami datangkan dari luar yang sudah siap pakai sehingga memangkas waktu pengerjaannya jadi lebih pendek,” ujar Teki. Pengadaan bulk ini Bio Farma didukung oleh CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations), sebuah lembaga yang berkantor pusat di Norwegia. CEPI adalah koalisi pemerintah-swasta yang bertujuan untuk menggagalkan epidemi dengan mempercepat pengembangan vaksin.

“Mereka (CEPI) memiliki beberapa platform virus dan siap mendukung manufaktur vaksin yang memiliki kapaistas dan kapabilitas standar internasional, Bio Farma sendiri kapasitas produksinya sudah lebih dari 3 miliar dosis per tahun” ungkap Teki. Vaksin Covid-19 dari skema jangka pendek ini akan memasuki tahap uji klinis pada Juli 2020 ini dan diperkirakan akan siap pada kuartal I tahun 2021 nanti.

Tak hanya itu, produsen vaksin asal Bandung ini juga merupakan anggota Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 yang diprakarsasi Kementerian Riset dan Teknologi. Ada sejumlah inovasi yang telah dikembangkan selama wabah Covid-19 melanda Indonesia. Pertama adalah memproduksi RT-PCR atau Real Time Polimerase Chain Reaction, “Kita tahu RT-PCR ini kan golden-standard untuk mendiagnosa ini pasien covid atau tidak dan kami menjadi yang pertama di Indonesia, karena yang lainnya lebih ke arah rapid test.”ungkap Teki.

RT-PCR yang diberi merek Biocov-19 ini merupakan inovasi Bio Farma dengan menggandeng diaspora Indonesia yang ahli dalam teknologi biomolekuler yang tersebar di seluruh dunia. “Anak-anak Indonesia yang hebat-hebat di teknologi biomolekuler itu kami ajak menjadi tim riset untuk mengembangkan desainnya”. Bio Farma sendiri memang sudah mengantongi rumus-rumus genomik—resep dasar dari desain RT-PCRini—sehingga sangat memungkinkan bagi produsen vaksin ini membuat inovasi RT-PCR ini. Kini pihak Bio Farma sudah mampu memproduksi hingga 500 ribu test RT-PCR.

Inovasi berikutnya adalah membuat laboratorium BSL-3 (Biosafety Level-3) yang bisa dibawa berpindah (mobile laboratorium). BSL-3 sendiri merupakan laboratoriumm pemeriksaan virus-virus penyebab peyakit menular yang berbahaya. Laboratorium Biosafety sendiri memiliki empat level keamanan, di Indonesia yang tertinggi baru sampai pada BSL-3. Di dalam laboratorium ini, sampel virus di”bedah” untuk dipelajari lebih lanjut.

BSL-3 memang diperuntukkan sebagai laboratorium untuk pemeriksaan penyakit yang beresiko tinggi. Tingkat keamanannya ketat. Setiap orang yang bekerja di dalamnya harus mengenakan APD khusus. Selain itu tekanan dan suhu ruangan pun dijaga agar negatif sehingga kotoran, kuman dan virus tidak mengalir keluar yang akibatnya bisa membahayakan lingkungan sekitar lab. Setiap hari, ada petugas khusus yang mengatur suhu dan tekanan ruangan. Selain itu akses masuk BSL-3 juga minim, petugas hanya diperbolehkan maksimal empat jam berada di dalam ruangan.

“Nah tingkat keamanan yang sama harus bisa kami aplikasikan dalam desain laboratorium versi mobile-nya, memang tidak mudah, tetapi sudah ada satu unit yang berhasil kami rakit, kami gunakan kontainer berukuran 40 feet, semua desain benar-benar menduplikasi versi aslinya,” jelas Teki. Kedepan Bio Farma memang berencana akan menambah jumlahnya. Karena Laboratorium BSL-3 yang bisa digunakan saat ini di Indonesia jumlahnya masih sangat minim, yakni baru ada 50 laboratorium. “Bagaimana dengan jumlah itu bisa melayani seluruh Indonesia? Maka kami akan siapkan laboratorium mobile ini sebagai solusi,”.

Terkait inovasi di masa pandemi, sebelumnya Bio Farma telah menyiapkan lima skenario inovasi. Di samping inovasi-inovasi di atas, BUMN berusia 130 tahun ini juga membuat Terapi Plasma Konvalesen, Virus Transfer Media (VTM), hingga jaringan klinik vaksin Immunicare.

"Di kenormalan baru vaksin akan menjadi basic needs masyarakat, tak hanya untuk anak-anak namun juga untuk orang dewasa. Jadi ini adalah potensi pasarnya besar seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan dengan imunisasi," kata Teki optimistis.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)