Video Streaming Berjaya, Bioskop dan Media Konsumen Paling Menderita

Laporan Global Entertainment & Media Outlook 2020–2024 dari PwC menyebut, pandemi Covid-19 yang melanda dunia secara mencengangkan telah mengerem pertumbuhan industri hiburan dan media (entertainment and media/E&M) global.

Tahun ini, E&M diprediksi mengalami penurunan 5,6% dari 2019, atau lebih dari US$ 120 miliar secara absolut. Pada 2009, tahun terakhir di mana ekonomi global menyusut, total belanja E&M global hanya turun 3,0%.

"Di tengah resesi global, tahun 2020 diperkirakan menunjukkan penurunan paling tajam pada pendapatan E&M global dalam 21 tahun sejarah penelitian ini," ujar Subianto, Chief Digital and Technology Officer PwC Indonesia.

Meski demikian, shockwaves dari tahun 2020 akan terus menjalar ke seluruh perekonomian global. PwC memprediksi bahwa arah pertumbuhan fundamental industri tetap kuat di mana belanja E&M akan tumbuh sebesar 6,4% pada 2021.

Adapun hingga 2024, pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan di global diperkirakan berjalan pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 2,8%. Sementara, CAGR Indonesia terhadap industri E&M dari tahun 2019 - 2024 diprediksi menjadi yang terbesar di antara negara Asia Tenggara lainnya (5,29%).

"Dalam beberapa tahun terakhir, dengan semakin pentingnya media bagi kehidupan kita, pertumbuhan E&M global biasanya melampaui PDB (Produk Domestik Bruto). Demikian halnya, setelah tantangan di tahun 2020, kami juga memperkirakan bahwa E&M dapat kembali menunjukkan performa terbaiknya," jelasnya.

Salah satu faktor pendorong pertumbuhan tersebut adalah tingkat konsumsi data yang meroket, dimana terjadi pertumbuhan smartphone dan konektivitas internet seluler. Permintaan untuk hiburan, seperti streaming video, video over-the-top (OTT), dan video game & e-sport juga diprediksi akan meningkat pesat hingga tahun 2024.

Dengan banyaknya orang yang diam di rumah, video OTT mengalami lonjakan pendapatan global sebesar 26,0% pada tahun 2020. Tren itu diperkirakan akan terus meningkat dengan kuat di tahun-tahun mendatang, hampir dua kali lipat dari US$46,4 miliar pada 2019 menjadi US$86,8 miliar pada 2024.

Peluncuran layanan streaming Disney+ pada akhir 2019 juga dinilai sangat tepat waktu. Setelah memproyeksikan akan menjangkau 60 hingga 90 juta pelanggan berbayar pada tahun 2024, jumlah pelanggan Disney+ telah mencapai 60,5 juta pada awal Agustus 2020.

"Tidak heran mengingat maraknya streaming, konsumsi data global juga mengalami percepatan yang didorong oleh Covid-19," tutur Subianto. Konsumsi data diperkirakan melonjak 33,8% pada tahun ini, dan akan meningkat dua kali lipat dari 1,9 kuadriliun megabyte (MB) pada 2019 menjadi 4,9 kuadriliun MB pada 2024.

Lain halnya dengan segmen yang diuntungkan, acara-acara seperti pergelaran live music, pertunjukan bioskop, dan pameran dagang menjadi segmen paling terdampak oleh pandemi. Dengan banyaknya bioskop yang ditutup dan film-film besar yang perilisannya ditunda, diproyeksikan bahwa total pendapatan bioskop secara global akan turun hampir 66% tahun ini. Kecil kemungkinan bahwa persentase tersebut akan meningkat karena menurut proyeksi PwC, pada 2024, pendapatan bioskop akan berada di bawah level tahun 2019.

Dampak lebih lanjut terkait Covid-19 adalah penurunan tajam oplah surat kabar dan majalah konsumen secara global yang masih berlanjut pada tahun 2020, di mana pendapatan secara keseluruhan merosot lebih dari 14% dan yang paling menderita adalah majalah konsumen.

Meskipun begitu, jalur digital dinilai masih menawarkan secercah harapan. Titik kritis majalah konsumen akan terjadi pada 2023 di mana pendapatan global dari iklan digital akan menyalip pendapatan dari iklan cetak.

"Sektor penting lainnya akan berjuang untuk mendapatkan kembali pertumbuhan yang hilang pada tahun 2019. Misalnya, sektor periklanan global yang akan turun 13,4% pada tahun 2020 menjadi US$559,5 miliar, dan diperkirakan baru akan kembali ke level tahun 2019 pada tahun 2022. Belanja iklan juga akan turun 13,4%," terangnya.

Namun, beberapa media “tradisional” tetap bertahan di tengah dampak Covid-19 dan akselerasi digital. Di tengah laporan penjualan buku cetak yang melonjak selama lockdown, total pendapatan buku konsumen global diperkirakan terus meningkat, naik 1,4% secara majemuk setiap tahunnya antara 2019 dan 2024 hingga mencapai US$64,7 miliar.

Dengan meningkatnya penggunaan smartphone dan smart speaker, meningkatkan penyerapan buku audio sehingga memungkinkan konsumen untuk mendengarkan saat bepergian. Artinya, secara signifikan teknologi memainkan peran penting.

Acara-acara live adalah segmen lainnya yang ingin beradaptasi dengan percepatan realitas dunia digital. Dengan ditutupnya aula konser, pusat pameran, dan stadion hampir sepanjang tahun, beberapa acara live memanfaatkan platform digital agar tetap terhubung dengan audiensnya.

"Meskipun tahun 2020 telah menjadi tahun yang menantang dan disruptif bagi sebagian besar industri, tetapi prospek jangka panjang untuk industri E&M secara keseluruhan masih cerah. Terlepas dari itu, jelas sekali bahwa ketika normalitas kembali secara perlahan, akan selalu ada pihak yang menang dan yang kalah," tutur Subianto.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)