Wanita dalam Unilever Indonesia

HR Director, Customer Development, Finance, HR and IT and Country Head for Employer Brand PT Unilever Tbk., Nanang Chalid.

Tak banyak perusahaan di dunia yang memikirkan persoalan gender dalam pengelolaan bisnisnya. Masalah gender diversity terkadang masih dihadapi sebagian mayarakat, khususnya perempuan dalam dunia kerja. Unilever adalah salah satu perusahaan yang berusaha concern mengenai isu ini sebagai upayanya meningkatkan persentase perempuan di dunia kerja.

Unilever juga memudahkan hidup karyawan perempuannya yang hamil dengan memberikan cuti melahirkan selama 4 bulan. Fasilitas seperti day care juga diberikan bagi ibu yang bekerja sehingga bisa membawa anaknya ke kantor. Fasiltas ini sebagai wujud support Unilever dalam mewujudkan dan memudahkan hidup karyawan perempuan sehingga mereka bekerja juga dapat lebih fokus.

Isu gender juga menjadi employer branding yang sengaja dibangun Unilever. Nilai plus dari gender diversity coba ditawarkan sebagai jawaban eksistensi perempuan dalam aspek pekerjaan. Menurut HR Director, Customer Development, Finance, HR and IT and Country Head for Employer Brand PT Unilever Tbk., Nanang Chalid, Unilever Indonesia menggelar acara bertajuk WULF (Women in Engineering Unilever Leadership Fellowship) untuk melakukan kampanye mengenai women empowerment, workshop, dan encourage perempuan. Acara diinisiasi dari fenomena masih banyaknya anak perempuan dari daerah yang memiliki keinginan untuk sekolah dan maju, namun keluarga tidak mendukung.

WULF diadakan di Cikarang, bekerja sama dengan salah satu NGO dari Afrika Selatan. Unilever Indonesia adalah satu-satunya Unilever di Asia yang menggelar acara ini. “Perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga. Kami encourage mereka bahwa mereka bisa sukses dalam karier,” ujar Nanang. Unilever memiliki direktur supply chain perempuan yang berusia di bawah 40 tahun dan kepala pabrik di Rungkut yang juga seorang perempuan. “Dua role model ini yang kami rasa memberikan Unilever Indonesia berada di posisi benar-benar memberi contoh. Para perempuan bisa memiliki kariernya sperti mereka, “ tambahnya.

Ini sekaligus menjadi bukti bahwa bidang yang dianggap maskulin dan harus dilakukan oleh seorang pria, tidak lagi relevan. Siapapun itu dapat mengikuti proses seleksi dan Top 50 akan diundang datang ke pabrik Unilever di Cikarang untuk mengikuti workshop. “Hasilnya, mereka benar-benar mengalami proses transformasi. Diberi lifeskill bagaimana menjadi professional women yang sukses. Nilai-nilai kerja untuk mengatasi keraguan perannya dalam mengurus anak dan rumah tangga kita berikan sebagai bentuk dukungan perusahaan atas peran awalnya,” ungkapnya.

Workshop ini bertujuan meningkatkan pemahaman female empowerment. Upaya ini berhasil membangun employer branding sehingga semua orang jadi tertarik dan ingin tahu  banyak tentang Unilever. WULF baru dilakukan di 4 negara, Meksiko, Brazil, Amerika, dan Indonesia. Menurut Nanang, employer branding harus mampu memperlihatkan siapa kita sebagai company dan dapat semakin menginspirasi sehingga lainnya dapat mengikuti perjalanan perusahaan.

 

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)