Warung Pintar Kini Miliki 1000 Kios

(KI-KA) Saut Parulian Saragih, Business Development Director Ovo, Ivan Hadi Wibowo, CEO Flock Advertising Agency, dan Agung Bezharie, CEO Warung Pintar

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sebuah warung tradisional bisa disulap menjadi tempat “tongkrongan” yang hi-tech dengan charging station, LCD TV, CCTV, hingga free wifi. Warung Pintar, sebuah startup yang didanai East Ventures, kini telah membawa inovasi tersebut ke 1000 kios di area Jabodetabek. Pertumbuhan ini nilai cukup tinggi meningat usia startup yang baru genap satu tahun.

Lalu, apa saja manfaat yang dibawa dari fasilitas-fasilitaas elektronik tersebut? Dari sisi pelanggan, jelas mereka merasa lebih nyaman berbelanja di warung. Memang tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi diikuti oleh perubahan perilaku masyarakat, di mana kebutuhan akan media digital menjadi cukup tinggi.

Bagi mitra pemilik warung, mereka tidak lagi mencatat transaksi secara manual. Data yang tercatat secara digital memungkinkan pemilik warung mengetahui alur kasnya. Selain itu, keberadaan digital payment lewat kerja sama dengan Ovo dan Gopay mempermudah handling cash, masalah kembalian, hingga ketepatan pembayaran.

Memanfaatkan fasilitas LCD TV yang ada, Warung Pintar juga menggandeng mitra Flock Advertising Agency untuk membantu channel advertising di kios-kios yang ada. Agung Bezharie, CEO Warung Pintar pada Rabu (7/11/2018) di Jakarta menyampaikan, “Sebenarnya advertising sudah ada di warung tradisional, namun dengan kompensasi rendah. Malah ada yang dibayar hanya Rp 50 ribu saja.”

Kerja sama tersebut rencananya akan menghubungkan warung dengan pemilik brand. “Nanti, iklan yang muncul adalah milik brand klien Flock. Tentunya para pengguna brand tertarik karena ini bisa menjadi salah satu chanel untuk menjangkau konsumen. Pemilik warung juga akan terbantu dengan revenue stream dari kami,” tutur Ivan Hadi Wibowo, CEO Flock Advertising Agency.

Ia mengatakan, masalah yang kerap dihadapi para advertiser adalah ada 80% budget marketing yang terbuang percuma, hanya 20% yang efektif. Bersama Flock, Warung Pintar berusaha mengatasi masalah itu dengan melacak transaksi pembelian hingga mengetahui karakter pelanggannya, mulai dari jumlah, usia, gender, dan lain-lain melalui CCTV. Data tersebut memungkinkan advertiser membuat story yang berkaitan dengan konsumen, yang menurut Ivan sangat penting.

Satu Warung Pintar setidaknya memiliki satu komunitas aktif dengan jumlah anggota paling sedikit 12 orang, mulai dari ibu rumah tangga, anak sekolah, hingga komunitas ojek, dengan setidaknya terjadi 1.000 transaksi aktif setiap bulannya. Pada kuartal ketiga, pendapatan mitra pemilik warung telah naik 37% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Data yang dimiliki Warung Pintar tentunya menjadi aset yang berharga. Saat ditanyakan mengenai big data, Agung menjawab, “Kami membuat sebuah model bisnis, ketika datanya kurang, kami harus buat datanya, lalu kami leverage (data tersebut) ke revenue channel kami.”

Sejauh ini, ada 34 principals yang sudah bergabung untuk menyediakan produk dan lebih dari 370 jenis produk sudah tersedia. Menurut Saut Parulian Saragih, Business Development Director Ovo, model bisnis Warung Pintar menarik bagi industri FMCG yang selama ini kesulitan melacak distribusi barang hingga ke warung kecil. Ia menambahkan, pihaknya tertarik bekerja sama dengan startup ini karena 60% dari GDP Indonesia berasal dari UMKM, dan Ovo merasa penting untuk merangkul sektor tersebut.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)