Widodo Makmur Perkasa Ciptakan Efisiensi Bisnis Melalui Sirkular Ekonomi

Direktur Utama PT Widodo Makmur Tumiyana (Foto: dok.Swa)

Dimulai dengan usaha feedlot sejak 1995, PT Widodo Makmur Perkasa telah tumbuh dan berkembang pesat menjadi salah satu kekuatan terbesar di sektor consumer goods dan komoditas pertanian Indonesia. Kini, induk usaha dari PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) ini memiliki lima lini bisnis yaitu, peternakan sapi terintegrasi, pengolahan makanan berbasis daging, peternakan ayam terintegrasi, komoditas pertanian, serta konstruksi dan energi terbarukan.

Dalam melakukan integrasi seluruh proses bisnisnya, perusahaan terus mendorong optimalisasi setiap lini bisnis dalam satu kawasan untuk menciptakan efisiensi dan meminimalkan pemborosan. "Semua produk Widodo Makmur akan efisien karena seluruh economic cycle ada di dalamnya," ujar Tumiyana, Direktur Utama PT Widodo Makmur Perkasa kepada SWA Online.

Tumiyana menjelaskan, perusahaan telah membangun ekosistem yang kuat melalui 5 pilar bisnisnya agar terintegrasi secara vertikal dan horizontal. Di lini peternakan sapi terintegrasi (Cattle Livestock), perusahaan memproduksi daging yang terintegrasi penuh dari hulu ke hilir, mulai dari export yard, feed mill, breeding, fattening, serta pemanfaatan hasil limbah untuk menghasilkan energi.

Saat ini perusahaan memiliki dua peternakan di Cianjur dan Cairu dengan kapasitas 172.000 ekor per tahun. Pada 2020, perusahaan memegang pangsa pasar sebesar 10,0% dari total impor sapi ke Indonesia, dan 5,5% dari sapi potong di dalam negeri. Di 2021, perusahaan menargetkan pangsa pasar sebesar 17% dan naik menjadi 19% di 2022.

Di samping itu, perusahaan bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada mengembangkan program cross-breeding; mengelola pabrik pakan ternak dengan total kapasitas 131.000 ton/tahun di bawah pendampingan ahli peternakan agar formula pakan bernutrisi tinggi dan ramah lingkungan; bermitra dengan petani lokal; serta mengelola limbah cair dan padat untuk diproduksi sebagai pupuk organik.

Di lini pengolahan makanan berbasis daging (Meat Processing), perusahaan memiliki rumah potong hewan (RPH) yang diklaim terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 300 ekor per hari, serta memiliki fasilitas pengolahan daging dengan ratusan item produk, seperti sosis, bakso, nugget, potongan daging sapi, dan banyak lagi. Daging olahan didistribusikan dengan merek sendiri di dalam negeri. "Rumah potong hewan kami size-nya terbesar meski secara nasional baru 2%, tapi output produknya sudah 500 item," ujar Tumiyana.

Adapula pabrik kulit dengan kapasitas 4,5 juta square feet per tahun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri military & safety shoes, upholstery, otomotif, dan fashion. "Meski driver-nya belum besar, pabrik kulit kami adalah dua pabrik terbesar di Indonesia dengan kualitas yang sudah ter-asses oleh standarnya Toyota. Bahan bakunya juga punya sendiri, jadi jual sapi itu kami buyback kulitnya," jelasnya.

Di lini peternakan ayam terintegrasi (poultry), perusahaan memanfaatkan prospek pertumbuhan permintaan unggas yang solid dan harga daging ayam yang lebih stabil, dengan fokus pada segmen rumah potong hewan yang tumbuh seiring dengan kapasitas produksi perusahaan. "Sementara yang lain main di upstream, strategi kami adalah masuk ke downstream. Di upstream itu marginnya volatile karena regulated sekali, kalau ke end product akan lebih stabil. Jadi kalau ada pergolakan harga daging itu sebenarnya yang bergerak adalah hulunya bukan downstream," tutur Tumiyana.

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh WMMUU tersebut memiliki fasilitas pemotongan di Klaten dan Wonogiri dengan kapasitas produksi total 13.500 ekor per jam atau setara 79.380 ton per tahun. "Pertengahan tahun depan ditargetkan akan menambah 12.000 sehingga menjadi 25.500 per jam, nanti akhir tahun 2022 akan menjadi double capacity," katanya.

Perusahaan juga mengoperasikan dua fasilitas penetasan dengan kapasitas produksi 4.000.000 telur per bulan. Pada 2020, perusahaan memegang pangsa pasar 1,1% dari total tonase daging broiler yang dijual ke pasar berdasarkan permintaan nasional Indonesia. Ditargetkan pada 2021 angka itu naik menjadi 4%.

Di lini komoditas pertanian (commodity), perusahaan memproduksi beras kemasan untuk pasar domestik, pasar modern dan memasok horeka melalui produk-produk beras premium dan menengah dalam berbagai varian ukuran dan brand. PT Widodofood Makmur Sejahtera sebagai representasi commodity juga mengembangkan bisnis komoditi beras, jagung, kedelai sebagai bahan pakan ternak terutama ayam dan sapi.

Perusahaan meyakini dengan mempertahankan fasilitas terintegrasi perkebunan jagung, maka perusahaan dapat memastikan ketersediaan pasokan jagung untuk produksi pakan ternak sehingga dapat mengendalikan harga produk daging sapi dan unggas perusahaan. "Komoditas ini mendorong tiga klaster sebelumnya sehingga bisa mengurangi cost."

Tumiyanan mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan pembangunan fasilitas peternakan terintegrasi dan perkebunan jagung (proyek) yang berlokasi di Merauke, Papua. "Mulai akhir tahun ini kami farming di Merauke, kami sudah mendapat komitmen lahan 20 ribu ha untuk bisa memproduksi jagung menjadi satu kesatuan kawasan," ujarnya.

Terakhir di lini konstruksi dan energi terbarukan, saat ini perusahaan memfokuskan kepada pengelolaan dan pengembangan energi terbarukan berupa solar panel dan wind power untuk kebutuhan semua lini usaha Widodo Makmur Perkasa Grup. Tumiyanan menyebut, kebutuhan energi semua lini usaha sebesar 158 MWp di tahun 2026. Pada tahap awal ini perusahaan akan mengaplikasikan infrastruktur solar panel dengan kapasitas 37,7 MWp yang akan rampung pada Q1 2022. "Setiap farm rata-rata membutuhkan 2,5 MWp, rumah potong sekitar 6 MWp, pabrik pakan 15 MWp, besar sekali sehingga sampai pertengahan tahun depan kami targetkan bisa develop energi sendiri sekitar 38 MWp," ucapnya.

Dengan mengambil langkah pemberdayaan sumber energi ramah lingkungan di wilayah kerja perusahaan, Tumiyana berharap akan mendorong percepatan realisasi komitmen dan visi perusahaan untuk bertansformasi menjadi bisnis hijau, holistik dan berkelanjutan, serta sebagai bukti nyata penerapan prinsip environmental, social and corporate governance (ESG). "Seperti di Ngawi saya desain agar bisa mandiri, saya kombinasikan antara solar panel dengan wind power tapi saya suntik sedikit dari PLN in case kalau terjadi apa-apa. Ini akan menurunkan cost production, kira-kira sekitar 30%."

Dalam men-deliver semua produknya, saat ini Widodo Makmur Perkasa memiliki beberapa hub yang menjadi sentra distribusi terutama di Pulau Jawa dan Bali. Dari hub tersebut akan dikirimkan ke setiap kabupaten dan diteruskan ke kecamatan hingga mitra terkecil. "Konsepnya adalah kami mendekatkan kepada end user. Saat ini memang sedang tren belanja online tapi lama kelamaan oranga kan sadar bahwa biaya transportasi itu kan mahal sehingga distribusi channel ini kami bangun di dalam provinsi, kabupaten, kecamatan dan nanti kami taruh freezer di rumah-rumah. Oleh karena itu, mereka mendapat harga yang paling efisien," terang dia.

Dengan menerapkan model bisnis sirkular ini, diharapkan Widodo Makmur Perkasa tidak hanya dapat peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan melalui penyediaan pangan, tetapi juga menjaga planet agar tetap sehat dan lingkungan yang berkelanjutan. "Jadi dari atas kami punya sapi, waste sapinya dipakai untuk memupuk jagung, waste jagung diberi ke sapi, jagungnya dikasih ke ayam menghasilkan cost eficiency. Energinya sebagai pendorong untuk men-support farm sehingga 3P nya terpenuhi semua, cycle economy-nya terpenuhi. Energi bisa saving 30%, jagung karena nanam sendiri dibandingkan harga market jauh lebih bawah," papar Tumiyana.

Menyusul kesuksesan anak usahanya PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU), perusahaan siap melaksanakan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada 26 November 2021. Menyandang kode emiten WMPP, perusahaan akan menawarkan sebanyak 8,3 miliar saham baru atau setara 25% dari dari modal disetor dan ditempatkan penuh setelah IPO.

Periode Book Building akan dilakukan pada 27 Oktober 2021 - 9 November 2021, dengan menetapkan kisaran harga penawaran umum Rp 160 sampai dengan Rp 220 per saham. Dengan demikian, dari IPO ini perusahaan berpotensi meraih dana segar sebesar Rp 1,32 triliun hingga Rp 1,83 triliun.

Merujuk prospektus yang diterbitkan, dana hasil IPO setelah dikurangi biaya-biaya Emisi saham, akan digunakan untuk ekspansi. Rinciannya, sekitar 11,43% akan digunakan untuk membiayai pengembangan kerja sama operasi (Joint Operation) export yard, logistik dan rumah potong hewan di Australia di mana Perseroan akan bekerja sama dengan mitra di Australia.

Perseroan akan bertindak sebagai offtaker dari sapi yang dipasok oleh mitra terpilih, dimana pada tahun 2022 mitra akan menyediakan feeder cattle sampai dengan 200.000 ekor per tahunnya. Perseroan dan mitra akan bekerjasama dalam membangun export yard, guna menjamin perolehan jumlah sapi yang diperlukan. Selain itu, bekerjasama dalam pembangunan logistik hewan dari Australia ke Indonesia, dimana hal tersebut akan menciptakan efisiensi biaya terhadap harga pokok penjualan feeder cattle.

Kemudian, sekitar 19,05% akan digunakan untuk membiayai pembangunan fasilitas peternakan terintegrasi dan perkebunan jagung di Sumatera, Sulawesi dan Papua, dimana sekitar 36% akan digunakan untuk akuisisi tanah dan sekitar 64% akan digunakan untuk pengembangan fasilitas. Penggunaan dana termasuk untuk pembelian tanah dengan pertimbangan untuk mendapatkan hak guna usaha/HGU untuk menjamin investasi yang akan dilakukan di lokasi perkebunan (adalah milik Perseroan) dan menjamin keberlangsungan program dalam jangka panjang.

Sekitar 19,05% akan digunakan untuk pemberian modal kepada entitas anak Perseroan; sekitar 17,90% akan digunakan untuk pembayaran utang Perseroan dan grup, dan sisanya sekitar 32,57% akan digunakan untuk modal kerja Perseroan, terutama dan tidak terbatas untuk pembelian bahan baku.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)