Wujudkan World Class Healthcare Provider melalui Prodia Corporate University

Presiden Direktur PT Prodia Widyahusada Tbk. Dewi Muliaty.
Presiden Direktur PT Prodia Widyahusada Tbk. Dewi Muliaty.

Prodia Corporate University (ProU) dibentuk untuk menyikapi perkembangan organisasi yang menuntut peningkatan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja seluruh Insan Prodia (sebutan untuk karyawan Prodia) melalui program pembelajaran yang lebih terstruktur dan terintegrasi yang diharapkan juga berdampak pada performa bisnis. Pembentukan ProU sesuai dengan semangat founding father Prodia, Andi Wijaya.

Andi telah menanamkan learning culture sejak awal Prodia berdiri. Laboratorium Klinik Prodia didirikan pertama kali di Solo, Jawa Tengah, pada 7 Mei 1973. ProU berawal dari unit pendidikan & pelatihan (diklat) yang kemudian bertransformasi dan berkembang menjadi corporate university pada 2019.

ProU memiliki lima visi. Pertama, menjadikan ProU sebagai world class learning organization di bidang healthcare provider. Kedua, menciptakan Insan Prodia yang kompeten dan kapabel sebagai world class healthcare provider. Ketiga, menyediakan program dan sistem pembelajaran sesuai dengan kebutuhan bisnis. Keempat, memastikan penerapan falsafah Prodia melalui pembelajaran. Kelima, menjadi strategic partner bagi unit bisnis, karyawan, pemasok, dan pelanggan Prodia.

Adapun misinya, menjadi pusat unggulan pembelajaran yang terpercaya dan terdepan bagi insan di bidang healthcare provider. Ukuran target ProU adalah learning ROI, talent readiness, course availability, learner & trainer hours, dan certified instructor of learning impact measurement.

ProU berada di bawah naungan Rektor ProU, yaitu Presiden Direktur PT Prodia Widyahusada Tbk. Dewi Muliaty. “ProU merupakan inisiatif strategis Prodia untuk menciptakan Insan Prodia yang kompeten dan kapabel sebagai world class healthcare provider. ProU diharapkan dapat memperkuat SDM Prodia untuk mencapai pertumbuhan bisnis serta memastikan inisiatif learning yang dilakukan memiliki dampak yang signifikan terhadap bisnis Prodia,” Dewi menjelaskan.

Rektor ProU ini menaungi beberapa dean (direktur) yang membidangi fungsi-fungsi strategis di Prodia, seperti Business & Marketing, Finance, Diagnostics Service & IT, Strategic Laboratory Development, Enabler Strategic Support, Human Capital, dan Competency School. “Masing-masing fungsi strategis tersebut dikepalai learning program head yang bertugas menjaga kualitas deliverable dari setiap pembelajaran sesuai fungsinya,” kata Ida Zuraida, Chief Learning Officer ProU.

Untuk menjamin kualitas delivery program pembelajaran secara nasional, ProU didukung oleh Regional Learning Center (RLC) yang berada di tujuh regional office di Indonesia, yakni di Sumatera Region (Medan), West Java Region (Bandung), Greater Jakarta Region (Jakarta), Central Java Region (Solo), East Batara Region (Surabaya), Kalimantan Java Region (Balikpapan), dan Sulampua Region (Makasar).

Secara struktural, ProU dipimpin oleh chief learning officer (CLO) dan vice CLO. Terdapat juga dua fungsi besar dalam stuktur ProU, yaitu area Learning Development dan Learning Operation, yang keseluruhannya diisi oleh para learning technologist atau tim yang memahami learning value chain untuk menjaga kualitas pembelajaran.

Di area Learning Development, terdapat learning needs analysis & evaluation specialist, instructional learning design specialist, serta learning & development officer. Adapun di area Learning Operation terdapat learning operation & quality management specialist serta learning & development officer.

ProU mempunyai quality manual yang merupakan bagian dari manajemen mutu yang diharapkan dapat menjaga kualitas seluruh proses pembelajaran untuk mencapai sasarannya. Dalam quality manual ini pula terdapat fungsi dan peran struktur ProU.

Seluruh proses pembelajaran yang dijalankan ProU, menurut Ida, mengikuti kaidah learning value chain, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran (learning need analysis), learning delivery, dan melakukan learning impact measurement. Proses tersebut dimulai dengan menganalisis kebutuhan pembelajaran yang dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis yang bersifat proaktif dan reaktif (insidental).

Analisis secara proaktif dilakukan ProU dengan menganalisis kebutuhan pembelajaran melalui proses core competency analysis, yaitu menentukan kompetensi apa yang diyakini akan mampu membawa Prodia unggul sekarang dan ke depan. Dalam hal ini, Prodia menentukan Leadership & Talent Dev, Business Acumen, serta Innovation & Digital Technology sebagai core yang harus dimiliki Insan Prodia, di samping core values (falsafah) perusahaan.

Analisis kebutuhan pembelajaran secara proaktif juga melalui tuntutan kompetensi setiap job title yang berbeda. Dari analisis secara proaktif tersebut, setiap karyawan di Prodia memiliki learning roadmap di posisinya saat ini ataupun kariernya ke depan.

Selanjutnya, analisis kebutuhan pembelajaran juga diperoleh secara insidental dan spesifik (analisis secara reaktif) berdasarkan kebutuhan perubahan yang terjadi. Misalnya, munculnya kebutuhan knowledge atau skill baru karena adanya perubahan hukum & regulasi, teknologi, tuntutan bisnis, dll. “Dengan demikian, ProU menjamin proses pembelajaran yang diberikan ke setiap karyawan sesuai dengan kebutuhan perubahan lingkungan, organisasi, dan individu karyawan,” ungkap Ida.

Bagaimana desain pembelajarannya? Menurut Ida, di ProU, desain pembelajaran (learning design) atau silabus dibuat dengan memperhatikan tiga hal, yaitu learning objective (mengapa pembelajaran perlu dilakukan), learning strategy (bagaimana cara pengajarannya), dan learning material (tools apa yang dibutuhkan agar pembelajaran efektif).

Setiap subjek (course) pembelajaran membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda agar lebih efektif. Misalnya, diperlukan minilab untuk subjek terkait skill lab atau role play terkait subjek customer service. Dengan demikian, setiap subjek pembelajaran dibuat dengan learning design masing-masing. Sementara itu, learning technologyst di ProU mendikusikan learning design (silabus) bersama dengan learning program head/ learning partner agar dalam penyusunan modul sesuai dengan target kompetensi yang disasar dan kebutuhan organisasi.

Learning design ini akan menjadi efektif jika dibuat bersama antara learning technologist di ProU dan learning partner (lini). Learning partner dan learning technologist berdiskusi dalam merancang dan menyusun program pembelajaran, sampai menjadi modul pembelajaran yang siap diajarkan. Learning program head bertugas me-review dan menjaga kualitas pembelajaran sebelum diajarkan kepada learner sebagai targetnya.

Sistem pembelajaran yang dijalankan ProU, modul atau materi pembelajaran disampaikan dengan beberapa metode. Pertama, In-Class Learning, yaitu proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara tatap muka (face to face learning).

Kedua, Online Learning, yaitu proses pembelajaran secara mandiri menggunakan modul yang tersedia pada Learning Management System Prodia atau aplikasi online learning lainnya.

Ketiga, Webinar, yaitu proses pembelajaran dilakukan dengan interaksi langsung (live) antara fasilitator dan peserta menggunakan aplikasi webinar (Webex atau aplikasi sejenis).

Keempat, Buddy System, yaitu proses pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan teman (buddy) yang akan membantu proses pembelajaran peserta melalui pengamatan/coaching/mentoring.

Kelima, Self Learning Process, yaitu pembelajaran yang dilakukan secara mandiri oleh peserta sesuai dengan daftar pembelajaran peserta atau melalui hybrid learning, yaitu menggabungkan berbagai metode tersebut.

Di masa pandemi Covid-19 ini, metode pembelajaran yang banyak digunakan adalah online dan webinar. Keunggulan metode ini adalah pembelajaran dapat dilakukan oleh lebih banyak target yang belajar (learner) di seluruh Indonesia, karena Prodia berada di seluruh provinsi di Indonesia. “Tahun depan, ProU berencana menggunakan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Technology (VR) untuk pembelajaran technical course in healthcare,” kata Ida menginformasikan.

Mengenai kriteria karyawan yang dilatih melalui ProU ini, Ida menjelaskan, “Karyawan mulai dari awal masuk bekerja sudah mendapatkan pembelajaran melalui ProU, dikenal dengan program Prodia On Boarding Program.

Kemudian, sejalan dengan meningkatnya karier, karyawan yang akan menduduki posisi tertentu juga akan dipersiapkan melalui Prodia Talent Acceleration Program, sampai ketika akan purnabakti, karyawan akan menjalani Prodia Pre-Retirement Program. Di luar itu, seluruh karyawan dapat menjadi target learner ProU sesuai dengan bidang kerja masing-masing, melalui berbagai modul pembelajaran di ProU.

Bagaimana hasilnya? Menurut Ida, rata-rata training hour karyawan sejak ProU berdiri (dari 2019 sampai Juli 2020) sebesar 14,5 hours/trainee untuk in-class training (pelatihan tatap muka) dan 7 hours/trainee untuk online learning. “Rata-rata Customer Satisfaction Index (CSI) mencapai 87% dari target 80%,” ujarnya. Kemudian, jangkauan target karyawan yang mendapatkan akses training tumbuh sekitar 30% untuk in-class training dari 2018 ke 2019, dan sebanyak 102% dari 2019 ke 2020 untuk online training.

Mengenai penerapan sistem evaluasinya, ada lima hal yang dijalankan ProU. Pertama, program pembelajaran yang tujuannya awareness, diukur melalui kuesioner kepuasan (survei CSI). Kedua, program pembelajaran yang tujuannya knowledge, skill, dan attitude; ProU mengukur melalui Pre-Post Test.

Ketiga, program pembelajaran yang tujuannya agar karyawan mengimplementasikan pembelajaran. Misalnya, pelatihan alat, maka dilakukan sistem evaluasi level 3, yaitu 360 degree measurement untuk penilaian peserta, pelanggan, atasan, dan bawahan rekan kerja.

Keempat, Action Learning Project (ALP), salah satu sarana untuk mengukur pembelajaran di level 4 bagi karyawan. Kelima, ROI pembelajaran melalui perbandingan hasil kerja dan investasi pembelajaran yang dikeluarkan.

Ke depan, yang akan dijalankan ProU adalah mengembangkan program integrated leadership untuk menghasilkan leader Prodia yang siap menghadapi masa depan bisnis dan andal di bidang healthcare. Lalu, lebih mengintegrasikan ProU dengan keseluruhan sistem di human capital.

Dalam pandangan Priyantono Rudito, Dosen Telkom University, inisiatif untuk mendirikan ProU sejalan dengan positioning atau strategi bisnis Prodia. Untuk mencapai langkah strategis ini, diperlukan dukungan dan visi yang kuat dari manajemen puncak. Hal ini merupakan seusatu yang besar. Namun, setelah menetapkan corporate university menjadi sebuah inisiatif, dilanjutkan dengan memikirkan cara agar program ini berkesinambungan.

Dari sisi konsumen, ia melihat Prodia sedang membangun ke arah customer-oriented. “Ini sangat bagus. Dengan adanya pandemi Covid-19 di mana masyarakat semakin aware dengan kesehatan, corporate university akan memperkuat positioning-nya untuk meningkatkan customer-oriented. Jadi, sangat pas,” kata Priyantono. (*)

Dede Suryadi dan Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)