YDBA Dorong Pengelola Bengkel Pahami Perubahan Industri dan Dekati Komunitas

Henry C. Widjaja, Ketua Pengurus YDBA (tengah berkaos biru), bersama pada peserta Kontes Mekanik 2019

Bisnis bengkel menghadapi tantangan berat. Selain impas industri otomotif yang melambat, juga tantangan perubahan regulasi dan perilaku konsumen di era digital. Penting sekali bagi pengelola bengkel memahami ini.

Pengelolaan bengkel yang baik plus strategi marketing yang tepat akan membantu pengelola bengkel menghadapi tantangan-tantangan bisnis saat ini dan ke depan. Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dalam kegiatan Kontes Mekanik, yang diselenggarakan bersama Himpunan Bengkel Binaan (HBBA) dan Toyota Sales Operation (Auto 2000) membuka wawasan pengelola bengkel bagaimana menghadapi tantangan tersebut.

Sapta Agung Nugraha, Service Manager Auto 2000 Bekasi, dalam sharing tentang bagaimana menghadapi tantangan mengelola industri otomotif (roda 4) terutama di bisnis bengkel. Tantangan bengkel saat ini pertama terutama di Jabodetabek khususnya, pertama aturan ganjil genap. 

“Satu mobil untuk mencapai 10 robu km cukup 1 tahun kurang, dengan aturan baru, beberapa konsumen membeli mobil baru untuk bisa memiliki dua mobil untuk bisa memenuhi aturan itu. Atau menggunakan angkutan umum dan motor, low millage kendaraan, ini mengakibatkan sleeping customer, mobil jarang masuk bengkel,” jelas pria yang didaulat untuk berbagi pengalamannya kepada para pengelola bengkel yang hadir di PT Astra International Tbk – Toyota Sales Operation (Auto2000) Jakarta (12/01/2019).

Kini, kepala bengkel sulit mendatangkan customer, karena belum masuk waktu service kedua ketika mencapai 10 ribu km, mobil sudah ganti lagi. Menurut pria yang pernah menjadi The Best Service Manager Auto 2000 kondisi ini makin berat dengan makin banyaknya mass rapit transport nyaman yang membuat pengguna mobil lebih banyak menganggurkan mobilnya atau menggunakan mobil sampai stasiun atau halte bus terdekat saja. Hal yang sama terjadi di banyak kota lain di Indonesia. Belum lagi tantangan transportasi online. Walau demikian ia melihat taksi online ini juga pasar bengkel dengan makin banyak mobil yang dijadikan moda transportasi.

Sapta mengingatkan, para pengelola bengkel untuk menggunakan kekuatan data pelanggan-pelanggannya, mana yang sleeping customer, berapa kilometer mobilnya saat ini, agar bisa memaksimalkan layanan. Ia pernah menggunakan ide menggunakan layanan location based SMS ketika masih di Bali kerja sama dengan operator seluler untuk mendorong pelanggan menservis mobilnya ke bengkel tapi ternyata tidak tepat sasaran. 

Sapta juga mengingatkan tantangan masuknya era induatri 4.0, banyak teknologi baru yang melibas produk atau merek yang dulu berjaya sekarang redup bahkan hilang. “DVD player dulu berjaya, sekarang dengan TV teknologi HDMI, tidak kompatibel jadinya. Konsumen sekarang nonton film dan video lewat Youtube, Netflix, iFlix, semua bisa dikoneksikan dari hape ke TV,” katanya. Mendengarkan musik pun via Spotify, CD musik sudah tidak lagi dilirik.

Perkembangan ini juga terlihat di otomotif dengan mulai lahir mobil listrik. “Bengkel masih diperlukan? Kita harus bersiap, belajar dari sekarang karena mobil sudah tidak perlu injeksi dengan mesin dukungan komputer, seperti elektrikal dan akibya dipelajari,”katanya. Bengkel bisa memperkuat juga layanan sporing, body and paint, dan AC.

Indah Yuliana, Kepala Bengkel Auto 2000 Cikarang, satu dari sedikit kepala bengkel wanita ini berbagi pengalaman tentang The Power of Community sebagai kekuatan marketing untuk menjaga retensi tinggi. “Komunitas adalah kumpulan orang yang loyal pada produk kita, maka itu tidak boleh lepas kontak,” katanya. Walau mereka sleeping customer, melalui komunitas mereka, program-program bengkel yang menarik buat mereka bisa dijangkau. 

Non vehicle income bisa meng-cover dengan mengelola komunitas-komunitas ini, bisa menutup biaya operational bengkel bahkan sampai 132% porsi pendaptannya sehingga kelebihannya oleh pemilik bengkel bisa menjadi bonus karyawan,” ungkapnya. 

Dari komunitas, menurut Indah, bengkel bisa mendapat masukan apa saja yang harus diperbaiki dalam layanan. “Mereka memberi masukan aktivitas service dan jualan saat acara mereka, juga mengembangkan program baru ke depan,” tuturnya. Contohnya mengajak komunitas ke bengkel untuk visit, agar mereka melihat dan merasakan sendiri layanan bengkel kita. Kenal maka akan sayang. 

Kegiatan Kontes Mekanik yang dihadiri oleh Henry C. Widjaja, Ketua Pengurus YDBA, dan Ida R.M. Sigalingging, Sekretaris Pengurus YDBA, diikuti finalis 12 mekanik. Sebelumnya 50 mekanik Bengkel Mitra YDBA. Mereka berasal dari Jabodetabek, Bandung, Yogja, Semarang, Jember, Lamongan, Sidoarjo, dan Kadangasem Bali mengikuti seleksi awal.

Kontes Mekanik 2019 yang sudah diadakan ketiga kalinya ini dimenangkan oleh Antonius Pitoyo Yunianto, mekanik Anugerah Prima Motor Klaten. Untuk kedua Aditya Mega Permana dari Duta Mitra Auto Bandung dan ketiga M. Abdul Rofik mekanik dari Maestro Group Jember. 

“Saya berharap para mekanik makin percaya diri setelah mengikuti kontes ini, makin termotivasi menjadi mekanik profesional, kompeten dan berdaya saing. Kemampuan ini penting dimiliki agar mereka bisa mendukung tempatnya bekerja menjadi UKM Bengkel naik kelas,” katanya dalam sambutan acara. Tentu saja, lanjutnya, bagi pemilik bengkel kegiatan ini bisa meningkatkan bisnisnya serta kualitas SDM dalam hal layanan dan skill teknis sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)