YDBA-KemenkopUKM Dorong UMKM Masuk ke Rantai Pasok Industri

Pengalaman Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dalam menjalankan program tanggung jawab sosial Grup Astra dengan fokus pada pembinaan UMKM selama 41 tahun dilirik Kementerian Koperasi dan UKM RI (KemenkopUKM RI). Maka itu YDBA digandeng untuk bisa mengakselerasi amanah Presiden RI kepada KemenkopUKM agar lebih banyak UMKM Indonesia masuk ke rantai pasok industri.

Seperti diketahui, YDBA yang William Soeryadjaya pada 1980 dengan filosofi “Berikan Kail Bukan Ikan” sejak awal didirikan sangat konsisten membina UMKM di Indonesia yang meliputi UMKM manufaktur, baik terkait value chain bisnis Astra, maupun yang tidak terkait, bengkel umum roda empat dan roda dua, pengrajin dan petani.

Berlandaskan operating values-nya, yaitu Compassionate, Adaptive, Responsible dan Excellent, YDBA memberikan pelatihan dan pendampingan kepada UMKM untuk naik kelas dan mencapai kemandiriannya. Komitmen dan konsistensi YDBA dalam membina UMKM ini dilirik KemenkopUKM RI. Hal ini diwujudkan dalam kunjungan Menteri Koperasi dan UKM RI (MenkopUKM RI), Teten Masduki ke kantor YDBA di Sunter, sekaligus meresmikan kolaborasi ini.

Teten mengungkapkan dalam sambutannya bahwa Presiden mendorong KemenkopUKM agar bisa lebih banyak UMKM Indonesia masuk dalam rantai pasok industri, sehingga ada peningkatan kemampuan dalam penguasaan teknologi.

“Di UU Cipta kerja sudah dibangun ekosistemnya mulai dari skema pajak hingga upah minimumnya dalam upaya mendorong hal tersebut bagi industri yang mau menggandeng dengan UMKM dalam rantai pasoknya,” tegasnya.

Menurutnya, sulit UMKM kita bersaing langsung dengan industri besar, terutama di ecommerce,  kalah daya saing dan kapasitas. “Maka itu kami ingin agar justru UMKM bisa memperkuat rantai pasok industri. Dan di sini Astra dan YDBA  jagonya. Makanya KemenkopUKM menggandeng YDBA, agar mampu membuat lebih banyak UMKM Indonesia masuk rantai pasok industri,” katanya.

Teten menegaskan bahwa Presiden telah mengamanahkan agar lebih banyak UMKM kita bukan sekadar membuat produk tapi bisa mendukung industri lebih besar dengan menjadi bagian rantai pasok mereka. Dan di era digital seperti sekarang, lanjutnya, UMKM harus melakukan transformasi agar masuk ke digital. “Kami meyakini kolaborasi dengan YDBA bisa mewujudkan amanah Bapak Presiden,” ujarnya.

MenkopUKM RI Teten Masduki (kedua dari kiri) dan Keetua Pengurus YDBA Sigit P. Kumala (kedua dari kanan)

MenkopUKM RI ini juga melihat babwa UMKM kita harus seperti di Jepang dan Korea, yang bisa masuk dalam rantai pasok dengan terintegrasi. “UMKM dan usaha besar harusnya bisa  terintegrasi dan maju bersama, apalagi sekarang sudah ada UU Cipta Kerja yang bisa mendukung ekosistem kemitraan lebih baik,” terangnga.

Dikatakan Teten, ttingkat kewirausahaan di Indonesia saat ini baru mencapai 3,47%, masih rendah dibandingkan tingkat kewirausahaan di negara peers khususnya di ASEAN. Pemerintah telah mencanangkan target kewirausahaan meningkat menjadi 4% pada tahun 2024. Untuk dapat mencapai target tersebut, Teten menyampaikan perlunya koordinasi, kerjasama dan sinergi dengan pihak swasta yang memiliki visi dan misi untuk membantu pengembangan UMKM di Indonesia, salah satunya Astra dan YDBA.

Ketua Pengurus YDBA Sigit P. Kumala, menyampaikan semangat YDBA untuk terus mendorong UMKM agar terus berinovasi dan berkolaborasi mencapai UMKM mandiri, naik kelas dan berkelanjutan. Salah satu kolaborasi yang dilakukan YDBA, yaitu bersama KemenkopUKM RI dalam pengembangan UMKM Pande Besi di Klaten dan Banyumas.

YDBA bersama KemenkopUKM RI saat ini melakukan pengembangan UMKM pelaku industri logam dan bengkel roda-4 di Banyumas serta pengembangan lokalisasi produk cangkul merah putih di Klaten yang melibatkan UMKM pande besi yang tergabung dalam Koperasi Industri dan Kerajinan Derap Laju Pande Besi dan Las (Kopinkra 18). “Tentunya kolaborasi tersebut menjadi kebanggaan bagi kami dan menjadi manfaat yang sangat berarti bagi UMKM binaan kami,” ujar Sigit.

Sigit berharap kolaborasi yang telah terjalin tersebut menjadi awal bagi YDBA dan Astra untuk terus menjalin kolaborasi yang lebih banyak dan bermanfaat untuk Koperasi maupun UMKM di Indonesia, khususnya UMKM aktif binaan YDBA yang saat ini berjumlah lebih dari 2.000 UMKM.

Di kunjungan tersebut pula, Sekretaris Pengurus YDBA Ida R. M. Sigalingging memaparkan program YDBA dalam mendukung UMKM go digital dan ekspor. Dalam kesempatan tersebut Ida menyampaikan bahwa YDBA berkolaborasi dengan merchant di marketplace untuk memasarkan produk UMKM di pasar online yang berhasil mengantarkan UMKM masuk dalam pasar ASEAN, antara lain Malaysia, Filipina, Singapura dan Vietnam, bahkan omset yang diperoleh UMKM meningkat hingga 200% sebelum memasuki pasar online.

Untuk mendukung UMKM ekspor, dalam paparan Ida menyampaikan bahwa YDBA juga hingga kini menjalin relasi dengan berbagai exportir. Beberapa produk UMKM binaan YDBA telah masuk dalam tahap improvement produk, kemasan hingga legalitas usaha.

Dalam pembinaan UMKM, agar efektif dilakukan pendampingan di lapangan melalui 13 cabang YDBA yang disebut dengan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB), berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur; Yogyakarta, DIY; Klaten, Solo, Tegal, Banyumas, Jawa Tengah; Tarikolot Jawa Barat; Sangatta, Paser, Bontang, Kalimantan Timur; Tapin dan Tabalong Kalimantan Selatan.

Untuk diketahui, hingga Desember 2020, YDBA telah memberikan pembinaan kepada 11.695 UMKM. Dimana 942 merupakan UMKM di bidang Manufaktur, 1.279 di bidang Bengkel Roda-2 dan Roda-4, 3.325 di bidang Kerajinan, 1.206 di bidang pertanian dan sekitar 4000an adalah UMKM bengkel mitra Honda dan AHASS serta UMKM binaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang telah kami serahkan ke stakeholder / partner dalam program pembinaannya. YDBA secara tidak langsung juga telah menciptakan 70.597 lapangan pekerjaan melalui UMKM yang difasilitasinya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)