Nomadic Tourism

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc (Menteri Pariwisata Republik Indonesia) Arief Yahya

Saya sering mengatakan, kunci kesuksesan pengembangan destinasi wisata adalah 3A, yaitu: atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Namun, melengkapi tiga komponen ini bukanlah pekerjaan yang gampang.

Ambil contoh Danau Toba. Dari sisi atraksi, hampir tiga tahun saya menjadi Menteri Pariwisata, kalau datang ke Danau Toba, praktis tidak ada sesuatu yang baru, tetapi lumayan dengan mulai adanya event-event seperti Festival Danau Toba. Dari sisi aksesibilitas, saya melihat progress-nya bagus, antara laindengan adanya Bandara Silangit. Namun, selalu tertinggal kalau kita bicara mengenai amenitas, seperti hotel, resor, atau kafe.

Untuk mengembangkan amenitas memang kita harus menunggu aksesibilitas. Celakanya, setelah aksesibilitas seperti bandara dan jalan terbangun, kita masih butuh waktu 4-5 tahun untuk membangun hotel berbintang. Sementara kita tahu target 20 juta wisman sudah di depan mata.

Lalu, apa solusinya?

Nomadic Accomodation

Solusinya adalah homestay yang memang sudah kita canangkan sejak tahun lalu. Namun, membangun homestay pun tidak bisa cepat, perlu waktu beberapa bulan. Karena itu, solusi tercepatnya adalah dengan membangun amenitas (akomodasi) yang sifatnya bisa dipindah-pindah.

Bentuknya bermacam-macam. Akomodasi yang paling mobile adalah karavan, hotel di atas mobil, atau bisa kita sebut “hotel mobil”. Hotel karavan ini bisa berpindah harian atau mingguan, untuk mencari spot-spot terindah di suatu destinasi wisata.Di Danau Toba, misalnya, dengan hotel karavan ini wisatawan bisa berpindah-pindah dari satuspotcantikkespotcantik lainnya di sepanjang tepi danau, mulai dari Parapat, Ambarita, hingga Bakara.

Bentuk nomadicaccommodationlain adalahglamcamp(glamourcamp), semacam tempat camping tetapi dengan fasilitas akomodasi kelas bintang.Glamping (glamourcamping) kini menjadi tren berlibur gaya baru di seluruh dunia dimana wisatawan ingin mendapatkan pengalaman menyatu dengan alam tetapi tetap mendapatkan layanan akomodasi layaknya di hotel berbintang.

Di samping itu, kita juga bisa mengembangkan homepod atau “rumah telur” yang juga bisa portable. Sementara karavan bisa berpindah dalam ukuran hari dan glamcamp bisa bulanan,homepod bisa enam bulan atau setahun dipindah. Ya, karena homepod ini semi-fixed dengan berat sekitar 2 ton dan bisa dibongkar.

Kalau tiga jenis nomadicaccommodation di atas bisa portable, saat membangun kita tidak perlu berpikir dan tak perlu begitu banyak pertimbangan seperti ketika membangun hotel yang permanen. Toh, kalau karavan atau homepod-nyadi suatu spot destinasi wisata tidakcocok,dengan mudah kita bisa memindahkannya.

Dengan menciptakan inovasi akomodasi nomadic ini, sejak tahun 2018 ini Kemenpar akan secara serius mengembangkan nomadictourism. Karena karakteristiknya yang bisa dipindah-pindah alias tidak permanen, konsep nomadictourism sangat cocok dikembangkan di daerah-daerah yang belum tersedia akomodasinya seperti hotel ataupunhomestay.

Kita punya 17.000 pulau, 75.000 desa, dan ratusan destinasi indah. Kalau harus membangun hotel konvensional, perlu waktu yang sangat lama;homestay pun menurut saya masih kurang cepat. Maka, saya umumkan bahwa saya akan memberikan insentif bagi orang yang masuk ke nomadictourism.

Dari Temporary ke Fix Solution

Sesungguhnya, ide nomadic tourism ini saya peroleh dari dunia telekomunikasi yang telah saya geluti puluhan tahun. Layanan prabayar (prepaid)itu sesungguhnya adalah temporarysolutionsaat awal dibikin. Kala itu layanan ini diperuntukkan bagi para backpacker atautravelerdari luar negeri yang uangnya nggak terlalu banyak tetapi jiwa adventure-nya luar biasa. Mereka datang ke Indonesia kita beri nomor temporary.

Nah,temporary solutiontersebut ternyata betul-betul menyelesaikan masalah mereka karena pengeluaran untuk menelepon bisa dikontrol. Layanan itu pun kemudian menjadi relevan tak hanya untuk backpacker,tetapi juga untuk mayoritas konsumen yang ingin bisa mengontrol pengeluaran. Makanya, tak mengherankan,pendapatan operator sekitar 90% datang dari layanan ini. Jadi, dari awalnya merupakan temporarysolution, kini layanan prabayarmenjadi fixsolution.

Melihat kesuksesan dari layanan prabayar itu, saya meyakini bahwa untuk Indonesia, nomadictourism akanmenjadi fixsolution bagi pariwisata Indonesia.Artinya, seperti halnya layanan prepaid, nomadictourism ini bakal menjadi mainstreammarket di Indonesia.

Awalnya memang nomadicaccomodation adalah temporarysolution sebelum kita bisa menyediakan hotel-hotel permanen di berbagai destinasi wisata di seluruh Tanah Air. Namun saya meyakini, setelah terbangun,glam campatauhomepoddi atas tak akan pindah-pindah.Artinya,nomadic accommodation itu menjadi akomodasi utama pilihan wisatawan.

Memang, untuk pertama kali yang kita bangun adalah nomadic accommodation untuk kalangan middle-up.Namun saya yakin bahwa kelak akan merata di semua kelas. Orang akan menyulap VW-VW Combi menjadi karavan-karavan. Anak muda akan sangat kreatif memanfaatkannomadictourism.

Nomadic Accommodation + Seaplane

Kalau nomadicaccomodation ini digabungkan dengan temporarysolution yang lain, yaitu konsep transportasi seaplane, keduanya akan menjadi solusi yang luar biasa.

Wisatawan datang ke Pulau Banda sulitnya luar biasa. Mengapa? Karena,Pulau Banda tidak punya bandara.Untuk memecahkan masalah ini, kita tak perlu fix solution seperti membangun bandara. Kita punya laut yang luas, kita akan kombinasikan nomadic tourism denganseaplane yang tidak membutuhkan fix solution seperti bandara yang tentu butuh waktu lama dan dana besar untuk membangunnya.

Saya meyakini ini akansukses luar biasa. Negeri kepulauan seperti Indonesia sangat sesuai dengan konsep ini. Para wisatawan cukup landing di pantai denganseaplane. Kita akan mengarahkan seaplaneitu ke berbagai destinasi wisata eksotik kita. Bisa dibayangkan pesawat-pesawat kecil tersebut bisa landing dalam waktu yang tidak terlalu panjang dan itu pasarnya sangat besar.Dan dengan armada seaplane tersebut, kita akan menjadikan Raja Ampat, Anambas, atau Labuan Bajo seperti Maldives.

Untuk merealisasinomadic tourism, kita akan menjadikan kawasan wisata Danau Toba sebagai pilot project dan ditargetkan untuk groundbreaking pada April 2018. Manakala nomadictourism di Danau Toba sudah berjalan, destinasi lain seperti Wakatobi, Raja Ampat, dan Labuan Bajo juga akan meminta pengembangan wisata yang serupa.

Untuk Danau Toba, Labuan bajo, dan Borobudur sekaligus kita akan menggunakan konsep nomadictourism ini untuk melayani tamu-tamu kita, para delegasi IMF-World BankAnnual Meeting November nanti. Borobudur tak begitu masalah karena hotel-hotelnya sudah cukup banyak.

Untuk pasarnya, saya tidak khawatir, pasti bagus. Kalau kita mau high-end market, atau harus kelas satu, yang bisa cepat ya nomadictourism ini. Untuk awal-awal kita akan menarget high-end market, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pasarnya akan meluas menjadi mass market untuk semua kalangan.

Beberapa waktu lalu UNWTO mengeluarkan daftar The World’s Fastest Growing Tourist Destinations for 2017. Salah satu kejutan dari daftar tersebut adalah masuknya Mongolia di jajaran Top10 dengan pertumbuhan wisman mencapai 28,3%.

Apa rahasia sukses pariwisata Mongolia? Tak lain karena dia mulai fokus dan memosisikan diri sebagai: “the center of world nomadic tourism and the regional leader”.

Salam Pesona Indonesia!!!

 

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc., Menteri Pariwisata RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)